Saham Sheet

Saham Sheet

Share

Belajar Analisa saham dengan menggunakan formula tabel sheet lebih cepat dan tepat

Halaman edukasi dan analisis saham berbasis data, menggunakan tabel dari google sheet. Analisa teknikal lebih mudah dipantau dengan indikator saham di tabel dan indikator keuangan seperti P/E, PBV, dan rasio lainnya. Ditujukan bagi investor yang ingin mengambil keputusan berdasarkan data dan logika investasi yang terukur.
🔎 Update rutin analisis saham Indonesia.

06/05/2026

$DMAS Laba Naik 130%, Tapi Lo Harus Paham Cara Mainnya

DMAS Q1 2026 ini memang angkanya bikin mata melotot: pendapatan naik 107% (Rp1,05 T) dan laba bersih melonjak 130% (Rp819 M). Tapi sebelum lo ikut-ikutan teriak "multibagger data center", coba liat dulu isi dapurnya.

1. Penyakit "Ketergantungan Pembeli" 👤
Satu fakta yang jarang dibahas: 90% pendapatan DMAS kuartal ini cuma datang dari **dua pembeli**. Bahkan, satu transaksi tunggal menyumbang 70% dari total *revenue*.
Artinya, bisnis kawasan industri itu bukan kayak jualan mi instan yang tiap hari ada pembelinya. Ini bisnis berbasis transaksi raksasa. Kalau ada *deal* jumbo, laporan keuangan kelihatan sakti. Kalau lagi sepi, ya kering kerontang. Jadi jangan kaget kalau nanti di Q2 atau Q3 angkanya turun drastis—itu emang karakternya.

2. Margin yang "Nggak Masuk Akal" 💰
*Gross margin* DMAS itu 82% dan *net margin* hampir 78%. Ini gila, bahkan perusahaan *software* global banyak yang kalah. Kok bisa?
Simpel: DMAS itu jual tanah hasil beli 15-20 tahun lalu (saat harga masih murah) dengan harga premium sekarang. Modal receh, jual harga data center global. Selisihnya jadi laba bersih yang meledak.
Tapi ingat, tanah itu bukan barang yang bisa dicetak. Makin lama stok tanah makin tipis, dan biaya beli tanah baru makin mahal. Margin "sinting" kayak sekarang nggak bakal bisa bertahan selamanya.

3. Data Center: Bukan Sekadar Hype 💻
Banyak orang cuma fokus sama istilah AI atau Cloud. Tapi realitanya, server-server itu tetap butuh tanah, listrik, dan pendingin. DMAS kebetulan punya lokasi strategis yang sudah "siap colok" infrastrukturnya. Itulah kenapa pemain besar kayak STT GDC masuk ke sana. Selama tren data center masih jalan, DMAS bakal tetap kecipratan.

4. Neraca Super Bersih
Yang paling gue hargai dari DMAS sebenarnya bukan labanya, tapi kondisi keuangannya. Mereka nyaris nggak punya utang bank. Kas ada Rp1,27 triliun, sedangkan utang bank NOL.
Di industri properti yang biasanya hidup dari utang, posisi *net cash* kayak gini langka banget. Kalau ekonomi melambat, DMAS masih bisa tidur nyenyak karena nggak dikejar-kejar bunga bank.

5. Sisi Tersembunyi: Recurring Income 💧
Selain jual tanah, DMAS punya pendapatan dari pengelolaan kawasan (air, limbah, *maintenance*). Nilainya memang kecil dibanding jual lahan, tapi stabil dan tumbuh 16%. Ini yang jadi "napas" cadangan mereka saat penjualan lahan lagi sepi.

Kesimpulannya
DMAS saat ini memang penerima manfaat terbesar dari ledakan data center di Indonesia. Fundamentalnya sangat kuat dan neracanya bersih.

Tapi pesan gue cuma satu: "Jangan mabuk satu kuartal."
Jangan berharap grafik labanya bakal naik lurus terus tiap kuartal. Kalau lo nggak siap liat angka yang naik-turun drastis karena natur bisnisnya yang fluktuatif, mungkin lo belum siap pegang saham kawasan industri.
Investor besar nggak liat euforia satu kuartal, mereka liat apakah kawasan industrinya masih relevan buat 5-10 tahun ke depan.

Kalau menurut lo masih, ya pantau terus sisa lahan dan siapa pembeli besarnya nanti.

29/04/2026

$ANTM kelihatan cakep banget di laporan keuangan terbaru. Laba naik 57%, ROE 35%, margin melebar 📈. Semua orang muji-muji perusahaannya sehat. Tapi coba lihat satu angka yang bikin gue gatal: arus kas operasionalnya minus Rp3,1 triliun ⚠️.

Banyak investor retail yang cuma lihat "laba" dan langsung FOMO. Padahal di dunia nyata, laba bisa kelihatan cantik di atas kertas, tapi kas nggak bisa bohong. Di sini, kas-nya lari keluar 💸.

Tapi sebelum lo panik dan teriak "manipulasi", tenang dulu. Ini bukan *fraud*. Ini cuma strategi manajemen yang lagi agresif banget.

Dalam tiga bulan terakhir, ANTM jor-joran beli emas sampai sekitar Rp30 triliun. Stok mereka melonjak dari Rp7,7 triliun jadi Rp16,8 triliun. Barang numpuk, duitnya keluar duluan, tapi jualnya belakangan. Jadi wajar kalau OCF-nya berdarah.

Sebenarnya, ANTM itu udah bukan sekadar perusahaan tambang. Mereka sekarang trader emas skala raksasa 🏭. Mereka beli dari Freeport atau *refinery* luar, dimurnikan, terus dijual pakai *brand* Antam. *Core game*-nya bukan cuma produksi lagi, tapi main di *spread* harga.

Pertanyaannya simpel: kalau lo manajemen dan harga emas lagi di *all time high*, lo mau santai atau gas pol belanja stok? ANTM milih gas pol. Mereka lagi nimbun amunisi.

Risikonya? Mereka bertaruh penuh sama harga emas. Kalau harga emas tetap tinggi atau makin terbang, mereka jackpot. Kalau harga emas turun? Ya, mereka bakal kejepit stok barang yang nilainya anjlok.

Dan lo harus sadar satu hal: 81% pendapatan ANTM itu dari emas. Ini bukan diversifikasi, ini ketergantungan. Sektor lain kayak feronikel lagi loyo atau *oversupply*. Jadi jangan salah kaprah: ANTM nggak "kuat di semua lini". Mereka cuma lagi *riding the gold wave*.

Jadi, kesimpulan gue: ANTM kuartal ini bukan cerita tentang "perusahaan sehat". Ini cerita tentang perusahaan yang lagi main agresif di tengah momentum 🚀. Mereka taruhan pakai *inventory* dan utang buat ngejar cuan di pasar yang lagi panas.

Kalau berhasil, market bakal bilang mereka jenius. Kalau gagal, market bakal bilang mereka ceroboh. Terserah lo mau ikut narasi market atau ngerti risiko di baliknya. Karena di saham, apa yang kelihatan jelas di permukaan biasanya justru yang paling menyesatkan.
baca ringkasan laporan keuangan Q1-2026 ANTM disini: https://sahamsheet.com/dibalik-angka-fantastis-antm-q1-2026-mengapa-investor-harus-waspada/

PTBA FY2025: Laba Anjlok 42%, Mengapa Investor Justru Tetap Tenang? – SahamSheet 06/04/2026

Laba $PTBA Anjlok 42%: Mengapa Investor Berpengalaman Justru Tetap Tenang?
sumber : https://sahamsheet.com/ptba-fy2025-laba-anjlok-42-mengapa-investor-justru-tetap-tenang/
Pasar modal sering kali bereaksi berlebihan terhadap angka-angka di permukaan. Pekan ini, laporan keuangan tahun penuh (FY) 2025 PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memicu gelombang kekhawatiran. Laba bersih anjlok 42,4%, dari Rp 5,14 triliun menjadi Rp 2,96 triliun. Laba per saham (EPS) pun merosot dari Rp 444 ke Rp 254. Bagi investor yang hanya membaca *headline*, ini tampak seperti sinyal bahaya.

Namun, jika kita bersedia menggali lebih dalam ke balik angka laba akuntansi, kita akan menemukan narasi yang berbeda. Ada alasan kuat mengapa investor kawakan tidak ikut panik, dan alasan itu tersembunyi dalam kualitas arus kas perusahaan.

# # Anomali Laba vs. Kas
Hal pertama yang harus dipahami adalah perbedaan antara laba di atas kertas dan uang nyata di rekening. Meski laba bersih PTBA jatuh hampir separuh, **Arus Kas Operasi (OCF) justru naik 24%** menjadi Rp 6,26 triliun.

Rasio OCF terhadap *Net Income* mencapai **2,12 kali**. Artinya, untuk setiap Rp 1 laba yang dilaporkan secara akuntansi, PTBA sebenarnya menghasilkan kas nyata sebesar Rp 2,12. Ini adalah indikator kualitas bisnis yang sangat sehat. Kenaikan kas ini dipicu oleh efisiensi modal kerja, penagihan piutang yang lebih cepat, serta penerimaan pengembalian pajak sebesar Rp 2,12 triliun.

# # Mengapa Margin Tergerus?
Jika pendapatan (*revenue*) relatif stabil di angka Rp 42,6 triliun (hanya turun 0,3%), lalu di mana masalahnya? Jawabannya bukan pada volume penjualan, melainkan pada **kejutan biaya (cost shock)**.

Ada empat faktor utama yang mencekik margin PTBA tahun ini:
1. **Lonjakan Biaya BBM:** Beban bahan bakar dan pelumas naik fantastis sebesar 80% (dari Rp 2 triliun ke Rp 3,7 triliun). Sebagai perusahaan tambang yang lapar solar, kenaikan ini langsung memangkas *gross margin* dari 19% ke 14%.
2. **Jasa Penambangan:** Biaya kontraktor naik sekitar 10,8%.
3. **Royalti Pemerintah:** Beban tetap sebesar Rp 4,32 triliun yang tidak bisa dinegosiasi, terlepas dari fluktuasi harga pasar.
4. **Normalisasi Harga Global:** Kita harus ingat bahwa tahun 2022 adalah anomali (harga Newcastle di atas USD 400). Saat ini, harga di kisaran USD 90–110 adalah fase normalisasi siklus, bukan sebuah krisis.

# # Agresivitas Capex: Investasi atau Beban?
Satu angka yang perlu dicermati dengan kritis adalah lonjakan belanja modal (*Capex*) sebesar **185%**, dari Rp 1,23 triliun menjadi Rp 3,51 triliun. Dana ini dialokasikan untuk aset tetap—kemungkinan besar modernisasi infrastruktur dan pelabuhan.

Secara jangka pendek, ini menekan *Free Cash Flow* (FCF) perusahaan. Namun secara strategis, ini adalah upaya PTBA untuk bertransformasi dari sekadar penambang menjadi perusahaan energi terintegrasi. Kontribusi dari PLTU HBAP yang menyumbang laba Rp 1,29 triliun membuktikan bahwa diversifikasi mulai membuahkan hasil.

# # Menakar Risiko dan Dividen
Investor *income* harus bersiap menghadapi penyesuaian. Jika PTBA mempertahankan *payout ratio* di angka 75%, maka dividen (DPS) untuk tahun buku 2025 diestimasi turun ke kisaran Rp 190 per saham, jauh di bawah tahun sebelumnya yang mencapai Rp 332.

Risiko utama yang tetap harus dipantau adalah ketergantungan pada PLN (menyumbang 33,8% *revenue*) dan kebijakan DMO yang membatasi harga jual. Jika biaya BBM tetap tinggi tanpa dibarengi efisiensi dari hasil *capex* baru, tekanan margin akan terus berlanjut.

# # Kesimpulan
PTBA saat ini sedang berada di titik persimpangan antara normalisasi siklus batubara pasca-pandemi dan investasi besar-besaran untuk masa depan. Investor kawakan tetap tenang karena mereka melihat bahwa **fondasi bisnisnya tidak rusak**.

Neraca perusahaan masih sangat solid dengan posisi *net cash* positif Rp 1,29 triliun. Penurunan laba saat ini lebih bersifat siklikal dan dipengaruhi faktor biaya eksternal, bukan penurunan daya saing produk. Pada akhirnya, di dunia komoditas, kesabaran adalah kunci untuk melewati siklus hingga musim panen berikutnya tiba.
$ITMG $ADRO
---
*Disclaimer: Tulisan ini bersifat opini edukasi dan bukan rekomendasi investasi. Keputusan beli atau jual sepenuhnya berada di tangan investor setelah melakukan riset mandiri.*

PTBA FY2025: Laba Anjlok 42%, Mengapa Investor Justru Tetap Tenang? – SahamSheet PTBA FY2025: Laba Anjlok 42%, Mengapa Investor Justru Tetap Tenang? Leave a Comment / Tak Berkategori / By samsit Laba bersih PT Bukit Asam (PTBA) turun hampir separuh. Angka EPS merosot dari Rp444 menjadi Rp254. Jika Anda hanya membaca headline berita, wajar jika jari Anda gatal ingin menekan tombo...

04/04/2026

764 juta saham CUAN dilepas oleh owner-nya..
ini bukan sinyal… ini goodbye message tapi halus 🤡
yang masih nanya: “ini masih bisa naik gak ya?”
semoga kuat mental ya bro 🙏

03/04/2026

IPO pertama di 2026 , PT BSA Logistics Indonesia, WBSA

03/04/2026

Menelusuri jejak kantor WBSA, IPO pertama di 2026, di tengah kemacetan jalan cacing. salah satu penyebab kemacetan jalan ini adalah banyaknya mobil conteiner yang mengantri masuk depo PT BSA. ini pertanda perekonomian masih tumbuh.
PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) adalah perusahaan logistik multimoda yang menawarkan layanan angkutan darat, freight forwarding laut & udara, serta pergudangan — termasuk fasilitas Inland Logistics Terminal (ILT). IPO ini menawarkan hingga 1,8 miliar saham baru (20,75% dari total saham) di rentang harga Rp150–Rp170 per saham, atau nilai total hingga Rp306 miliar.
Lihat dulu prospektus nya sebelum ikutan IPO ini

02/04/2026

$BUVA LABA NAIK 10X, TAPI JANGAN KETIPU ANGKA HEADLINE

“BUVA laba naik hampir 10 KALI LIPAT!”

Dari Rp9,7 M --> Rp99,7 M.
Kelihatannya kayak saham yang “TURNAROUND SEMPURNA”.

Tapi ya… seperti biasa.
Mayoritas cuma lihat headline.
NGGAK BACA ISI LAPORAN.

STOP JADI INVESTOR MALAS
Kalau cuma lihat laba naik 10x terus langsung bilang:
“INI BAGUS BANGET!”

Ya pantas aja sering nyangkut.
Karena di BUVA ini…
yang naik itu bukan bisnis utamanya.

CERITA SEBENARNYA, YANG NGGAK DICERITAIN DI HEADLINE

BUVA itu bisnisnya simpel: Punya hotel luxury, Sewain kamar mahal, Target turis kaya

Aset utamanya:
Alila Uluwatu (ikon Bali)
Alila Ubud (resort alam)

Brandnya kuat, karena nempel ke Hyatt.

Harusnya kalau laba naik 10x... artinya hotelnya lagi GOKIL-GOKILAN rame d**g?

REALITANYA?
👉 LABA OPERASIONAL TURUN.
Dari Rp67 M --> Rp61,6 M.

Artinya bisnis hotelnya sendiri…
JUSTRU LEBIH LEMAH dari tahun lalu.

TERUS LABANYA DATANG DARI MANA?
Ini nih bagian yang bikin saya ketawa.
👉 Rp79,4 M datang dari:
“Bagian laba entitas asosiasi”

Bahasa gampangnya:
BUKAN dari tamu hotel.
BUKAN dari kamar laku.
BUKAN dari F&B.

Tapi dari investasi di perusahaan lain.

PERTANYAAN SEDERHANA (TAPI JARANG DITANYA)
Kalau besok: laba asosiasi ini HILANG
atau malah RUGI lagi kayak tahun sebelumnya

MASIH MAU TERIAK: “BUVA TURNAROUND!!” ??

INI BUKAN KASUS BARU
Market kita ini punya penyakit lama:
S**a mabuk sama “laba non-operasional”

Contoh klasik:
Banyak emiten properti tiba-tiba laba melonjak gara-gara revaluasi aset

Atau perusahaan batubara cuan besar karena sekali jual anak usaha

Lalu retail masuk…

TAHUN DEPAN?
Drop. Panik. Nyangkut. 😅

BUVA SEKARANG POSISINYA DIMANA?
Jujur aja:

👍 Yang BAGUS:

🟢Revenue naik (walau cuma 5,7%)
🟢ADR naik --> pricing power ada
🟢Cash flow positif (ini penting)
🟢Neraca lebih sehat (habis rights issue)

👎 Yang NGGAK ENAK:
❗Margin operasional turun
❗Biaya G&A naik kencang
❗Laba “ditopang” faktor non-recurring
❗Defisit masih Rp1,24 TRILIUN

Dan yang paling krusial:

👉 Cash conversion cuma 0,64x

Artinya?

Laba banyak…
TAPI KAS NYATA NGGAK SEBANDING.

AKUISISI BPP — CERITA BARU ATAU MASALAH BARU?

BUVA tiba-tiba:

💰 Keluar Rp500+ M
➡️ beli perusahaan properti (BPP)

Dari: > “hotel operator”
Jadi:> “calon developer”

Masalahnya?
Track record di properti? BELUM ADA
Proyek jelas? BELUM KELIHATAN
Duit habis dari rights issue

Jadi pertanyaannya:

👉 Ini ekspansi strategis?
👉 Atau sekadar cari “cerita baru” buat market?

LOGIKA PALING SEDERHANA
Bayangin kamu punya hotel:
Revenue naik dikit
Tapi biaya naik lebih cepat
Laba inti turun

Tiba-tiba kamu bilang:
“Tenang bro, gue untung gede kok… dari investasi saham temen.”

LU MAU NILAI BISNIS HOTELNYA APA INVESTASINYA?

KESIMPULAN GUE
BUVA itu:
👉 ASETNYA BAGUS
👉 BRANDNYA KUAT
👉 CASHFLOW NYATA ADA

TAPI…

❌ LABA SEKARANG TIDAK MENCERMINKAN KEKUATAN BISNIS INTI
❌ ADA UNSUR “COSMETIC BOOST” DARI ASOSIASI
❌ EKSPANSI MASIH ABU-ABU

KALIMAT PALING JUJURNYA:

MEMANG INI BUKAN PERUSAHAAN JELEK.
TAPI JUGA BUKAN SEINDAH ANGKA LABANYA.

MARKET LESSON (INI YANG PENTING)

Market kita ini S**A:
angka besar
growth bombastis
headline sexy

Tapi malas gali:
kualitas laba
sumber profit
sustainability

Makanya… Banyak yang:

👉 BELI DI CERITA
👉 JUAL DI REALITA

Kalau lu masih lihat BUVA cuma dari: “Laba naik 10x”
Ya…
siap-siap jadi exit liquidity.

👉 Menurut lu, BUVA ini lagi bangun masa depan…
atau lagi “make up” laporan?

01/04/2026

$EMTK : LABA NAIK 361%… TAPI ISINYA “KOSMETIK” SEMUA.

Market lagi ribut.
Headline bilang: “EMTK turnaround! Laba meledak!”
Tapi ya ampun… MASIH BANYAK YANG TELAN BULAT-BULAT ANGKA TANPA MIKIR.
INI NIH PENYAKIT INVESTOR RITEL: LIAT EPS NAIK → LANGSUNG FOMO.
Padahal kalau mau baca dikit aja, keliatan jelas:
Laba Rp6,7T itu BUKAN dari bisnis.

1. CERITA SEBENARNYA (YANG JARANG DIBACA)
Gue sederhanain.
EMTK tahun 2025 itu bukan “jago jualan”.
Tapi “jago beli murah + revaluasi aset”.
Laba akuisisi BUKA: Rp3,1T
Laba investasi: Rp3,9T
TOTAL: ~Rp7 TRILIUN
Laba bersih total? Rp8,8T.
Artinya?
HAMPIR SEMUA LABA ITU BUKAN DARI OPERASI.
Sekarang lihat yang REAL:
Operating profit: Rp1,2T
Naik? iya
Meledak? NGGAK
Bahkan margin:
Turun dari 8,2% → 6,3%
INI NAMANYA BISNIS TUMBUH, TAPI KUALITASNYA TURUN.

2. MARKET PANIK… PADAHAL SALAH FOKUS
Gue tanya:
Kalau tahun depan TIDAK ADA lagi
gain akuisisi
revaluasi investasi
EMTK masih bisa cetak Rp6T laba?
Jawabannya jelas: NGGAK.
Terus kenapa masih ada yang anggap ini “growth story”?
Karena MARKET S**A ILUSI.

3. LIHAT SEGMENTASI — REALITY CHECK
Media (core bisnis):
Revenue TURUN
Ini bukan siklus, ini DISRUPSI
Orang pindah ke TikTok, YouTube, Netflix.
TV konvensional? Pelan-pelan mati.
BUKA (digital):
Revenue masuk gede
Tapi masih RUGI OPERASIONAL
Jadi ini bukan mesin profit, ini masih “proyek harapan”.
Aviation:
Satu-satunya yang beneran ngebut
Tapi… ini bukan core EMTK
Healthcare:
Tumbuh
Tapi margin tipis banget

4. TERUS YANG BAGUS APA?
NAH INI YANG ORANG SERING LEWAT.
NERACA EMTK GILA KUAT.
Kas: Rp22 TRILIUN
Utang: kecil
Net cash: +Rp20T
INI BUKAN PERUSAHAAN OPERASI.
INI SUDAH JADI “INVESTMENT VEHICLE”.
5. ANALOGI BIAR NYANTOL
EMTK itu sekarang kayak orang:
Gaji bulanan biasa aja
Tapi punya aset saham & properti gede
Tiba-tiba jual → kelihatan kaya mendadak
Apakah dia jadi lebih produktif?
Belum tentu.

6. BANDINGKAN DENGAN KASUS LAIN
Banyak perusahaan di market juga pernah “loncat laba” karena:
revaluasi
jual aset
akuisisi murah
Hasilnya?
TAHUN BERIKUTNYA… DROP.
Dan market selalu kaget lagi.
Padahal POLANYA SAMA TERUS.

7. OPINI GUE (NGGAK POPULER, TAPI LOGIS)
EMTK itu sekarang ada 3 wajah:
Bisnis asli → biasa aja
Holding investasi → SANGAT MENARIK
Cerita masa depan → BELUM TERBUKTI
Jadi kalau lu beli karena:
👉 “Laba naik 361%”
Maaf… lu lagi beli ILUSI.
Tapi kalau lu lihat:
👉 Kas Rp22T
👉 Portofolio investasi (BUKA, SUPA, dll)
👉 Potensi divestasi / capital gain
NAH… ini baru cerita yang masuk akal.
8. MARKET LESSON (INI YANG PALING PENTING)
Market Indonesia itu:
TERLALU S**A ANGKA BESAR,
TAPI MALAS NANYA: “ITU DATANGNYA DARI MANA?”
Dan selama mindset itu nggak berubah…
Akan selalu ada saham yang:
📈 naik karena headline
📉 jatuh karena realita
EMTK?
Bukan jelek.
Bukan juga hebat.
INI SAHAM YANG HARUS DIPAHAMI — BUKAN DITEBAK.
Kalau lu masih nilai EMTK pakai PER biasa tanpa bedah laba…
Jujur aja:
Lu bukan lagi investasi.
Lu lagi berjudi pakai laporan keuangan.

24/12/2025

Roller coaster IHSG 2025: awal tahun sempat crash sampai terjadi trading halt dan bikin panik, tapi pelan‑pelan bangkit, dihantam isu suku bunga BI–The Fed, dihujani IPO baru, hingga akhirnya berkali‑kali cetak rekor all time high di akhir tahun.
Gimana portofolio kalian. , aman? 🫣

Want your school to be the top-listed School/college in Bekasi?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address

Bekasi