28/08/2025
Kisah Anas bin an-Nadhar – Harum Surga dari Uhud
Hari itu di Perang Uhud, pasukan Muslimin sempat goyah. Sebagian ada yang mundur karena kabar tersebar bahwa Rasulullah ﷺ wafat. Suasana kacau, sebagian pedang terjatuh, semangat runtuh.
Namun di tengah kekacauan itu, bangkitlah seorang sahabat yang hatinya menyala seperti api — Anas bin an-Nadhar r.a.
Wajahnya tegas, sorot matanya berkobar. Ia menoleh kepada sahabat-sahabatnya yang bimbang, lalu berseru lantang:
> “Wahai kaum Muslimin! Kalau Muhammad memang telah terbunuh, untuk apa kalian hidup lagi? Bangkitlah! Mati di jalan yang ia tempuh! Apa gunanya hidup tanpa beliau?!”
Tanpa menunggu jawaban, Anas mencabut pedangnya dan berlari ke arah pasukan musyrikin yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Setiap tebasan pedangnya diiringi takbir yang mengguncang hati. Tubuhnya diterjang tombak, ditebas pedang, dihujani panah — namun ia tidak peduli. Di tengah pertempuran, ia berseru lagi dengan suara penuh keyakinan:
> “Demi Allah, aku benar-benar mencium bau surga… dari balik bukit Uhud ini!”
Kata-kata itu membuat darah para sahabat kembali berdesir.
Anas terus bertempur hingga tubuhnya penuh luka. Satu tusukan, dua sabetan, tiga panah. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia tetap berdiri, meski darah bercucuran membasahi pasir Uhud.
Akhirnya tubuhnya roboh, syahid di jalan Allah. Ketika peperangan usai, para sahabat mencari jasadnya. Sulit dikenali, karena lebih dari 80 luka menoreh tubuhnya. Hanya saudarinya yang bisa mengenali jasad Anas… dari ujung jarinya.
Rasulullah ﷺ, ketika melihat pengorbanan itu, bersabda:
> “Di antara hamba Allah ada yang menepati janji mereka kepada-Nya. Anas bin an-Nadhar adalah salah satunya.”
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ، وَوَالِدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
(HR. البخاري رقم 15، مسلم رقم 44)
29/12/2023
20/04/2023
27/03/2023
10/03/2023
09/03/2023
03/03/2023