Banyak yang mengira sungai pasti membawa ke desa. Faktanya, itu bisa jadi keputusan yang berisiko, mengapa?
• Tidak selalu menuju pemukiman
Sungai bisa berakhir di jurang, lembah terpencil, atau masuk hutan makin dalam sebelum bertemu manusia.
• Medan lebih berbahaya
Tepi sungai licin, berbatu, berlumpur, dan rawan longsor kecil. Risiko terpeleset dan cedera lebih tinggi.
• Ancaman banjir bandang
Hujan di hulu bisa membuat debit air naik tiba-tiba tanpa peringatan.
• Menguras energi
Jalur sungai penuh rintangan. Dalam kondisi survival, energi harus dihemat, bukan dihabiskan.
• Arah tidak konsisten
Sungai berkelok-kelok. Tanpa kompas dan peta, kamu bisa makin kehilangan orientasi.
Kalau bukan sungai, lalu ke mana harus bergerak saat tersesat agar peluang ditemukan lebih besar?
lebih baik tetap di area terakhir yang kamu kenali.
Tim pencari biasanya akan menyisir:
• Jalur resmi pendakian
• Titik terakhir kamu terlihat
• Area dekat punggungan atau camp terakhir
Bergerak tanpa arah jelas sering membuat radius pencarian makin luas.
PPRPG DEWADARU
Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung DEWADARU
Est. 1986
Air sungai tidak boleh langsung diminum, mengapa?
Inilah alasan utama dan bahaya mengonsumsi air sungai langsung:
• Kontaminasi Mikroba: Air sungai mengandung bakteri (seperti E. coli, Salmonella), virus, dan parasit (seperti Giardia atau Cryptosporidium) yang berasal dari kotoran hewan atau limbah manusia.
• Polusi Bahan Kimia: Limbah industri, sampah, dan pupuk pertanian dapat mengalir ke sungai, membawa logam berat atau zat berbahaya.
• Risiko Penyakit: Mengonsumsi air sungai mentah dapat menyebabkan diare, disentri, demam tifoid, hingga infeksi usus yang serius.
• Pengolahan Diperlukan: Agar aman, air harus melewati proses pengolahan, setidaknya pengendapan dan perebusan, untuk membunuh kuman.
Meskipun dalam keadaan darurat (seperti mendaki gunung), disarankan untuk menyaring air (misalnya dengan kain atau filter air portabel) dan merebusnya, bukan meminumnya langsung. Air yang berasal dari mata air pegunungan yang sangat murni mungkin lebih aman, namun tetap ada risiko kontaminasi, sehingga tindakan pencegahan lebih baik dilakukan.
Frog system atau Texas system nihh Yang mau kalian pelajari ? 🤔
-
-
-
-
゚viralシfypシ゚
01/02/2026
Bencana di wilayah Cisarua tidak bisa dilihat dari satu faktor saja. Selain adanya alih fungsi lahan, karakter alam kawasan ini juga berperan besar. Cisarua berada di wilayah pegunungan dengan lereng yang curam dan struktur tanah yang relatif labil.
Pada kondisi tertentu, terutama saat curah hujan tinggi, air dengan mudah meresap dan menambah beban tanah di lereng. Hal ini membuat potensi longsor tetap ada, bahkan di area yang secara kasat mata masih terlihat alami.
Memahami karakter gunung dan lereng curam adalah bagian dari upaya mitigasi. Dengan penataan ruang yang tepat, pengelolaan lingkungan yang bijak, dan peningkatan kewaspadaan, risiko bencana dapat ditekan agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar.
Mari kita berpikir bersama, untuk melakukan perubahan kecil dalam menjaga lingkungan yang akan membantu mengurangi risiko yang lebih besar di masa yg akan datang, apa yang bisa kita lakukan hari ini?
27/01/2026
MENGINFORMASIKAN !!!
Tim kedua diberangkatkan. Atas nama
Azzrifa Nurul Aini D-137 LN
Muhamad Arifin D-138 LN
Tergabung dengan badan SAR & PB FK-KBPA-BR dalam operasi penanganan bencana di Kampung Pasir Kuning , Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua
24/01/2026
MENGINFORMASIKAN !!!
Telah ditugaskan nama-nama Anggota PPRPG Dewadaru dibawah ini:
1. Miftahul Mochamad Rafli Rohidin NRP D-135 LN
2. Handi Irawan NRP D-136 LN
Untuk merespon tanggap darurat bencana longsor
Di kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua
Balita di antara milenial 🙏🏻
kalo kalian lagi bangun apa?
jangan bilang bangun tidur 🥲
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Contact the school
Website
Address
Jl. Sukabumi Dalam 2 No. 30A
Bandung
40271