16/08/2026
Catatan Hari Kemerdekaan Indonesia
-------------------------------------------------------------
Gadis Rasid
Saya sengaja telusuri kisah-kisah Gadis Rasid di Wikipedia atau lembaran tulisan lain di google. Namun bagian data yang saya cari tak ada, atau mungkin saya kurang teliti. Ini saya lakukan pada tahun 2019. Ternyata sampai sekarang data itu tetap tidak ada.
Dari kliping di Suara Merdeka saya justru menjumpai tentang Gadis Rasid.
Ia adalah seorang wanita yang tetap saya hargai dan jasanya tak boleh dilupakan.
Dia adalah seorang jurnalis wanita yang pemberani, gigih dan heroik. Sangat menghargai kepahlawanan dan tetap semangat menulis sampai akhir hayat.
Lahir tahun 1923 di Bengkinang. Sekalipun ia seorang wanita, sepak terjangnya melebihi jurnalis pria. Ketika muda sudah pernah ditugaskan di surat kabar Nieuwe Rotterdamse Courant di Belanda. Lalu masuk ke barisan koran Pedoman tahun 1940an.
Nah ini bagian yang sulit saya cari datanya untuk pembanding. Ketika ia berada di Semarang pada masa-masa genting bersejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Pada momentum berdirinya Republik Indonesia itu ia sedang bersama-sama Hetami di koran Sinar Baru di Semarang.
Ketika itu kantor redaksi Sinar Baru digrebek tentara Dai Nippon atau Jepang. Para serdadu mengecek isi naskah yang akan diterbitkan. Mereka mengintimidasi bahwa berita telah ada Proklamasi sebagai hal bohong. Kabar itu dianggap hoax. Sontak awak koran pada ketakutan.
Sampai-sampai ia disuruh p**ang oleh Hetami (kelak pendiri Suara Merdeka pada tahun 1950) yang berada di ruang sama. Sambil diberi isyarat agar siap balik lagi ke kantor.
Hetami mengatakan jika keadaan telah tenang agar balik lagi.
Benar, karena Jepang tak menjumpai hal mencurigakan. Maka para serdadu meninggalkan kantor redaksi sambil menyebar info propaganda.
Namun Gadis Rasid juga tetap mengikuti berita radio. Ternyata benar telah ada Proklamasi.
Benar, ketika keadaan telah aman, ia dijemput Hetami balik ke kantor untuk membantu.
Karena cetak koran sudah berjalan. Maka Hetami minta Gadis Rasid menyiapkan informasi kemerdekaan. Hetami membuat berita dan dicetak stensil. Langsung diedarkan sebagai sisipan pada surat kabar. Cetakan stensil itu di lembur dan oleh tim teknis.
Selebaran yang distensil jadi.
Ia meminta bantuan siswa sekolah untuk menyebarkan koran khusus itu. Para pelajar jumlahnya dibagi ke 2 agar penyebaran lembaran koran itu merata. Situasi genting memang.
Peredaran koran dilakukan sangat hati-hati.
Itu catatan tentang Gadis Rasid, putri dokter Rasid yang dinas di Semarang. Catatan ketika ia berada di Semarang dan membantu peredaran berita Proklamasi ini tak banyak terungkap.
Setelah itu, pada peristiwa pemberontakan PKI Muso di Madiun tahun 1948, Gadis Rasid termasuk seorang perempuan yang ada diantara para pasukan Divisi Siliwangi. Pasukan ini memiliki tugas menumpas pemberontakan. Jadi dialah saksi pertempuran waktu itu.
Gadis Rasid sangat dikagumi oleh Chairil Anwar. Sampai - sampai 1948 dibuat syair Buat Gadis Rasid.
Gadis Rasid meninggal 1988 setelah beberapa hari sakit akibat luka ketika berkunjung ke Bandaneira.
Tanggal dan bulan kematian Gadis Rasid sama persis dengan waktu Chairil Anwar berp**ang, 28 April.
Ia memiliki suami, Henk J Rondonuwu dan seorang anak Ratna Irma.
Sayang saya belum menemukan catatan dimana Gadis Rasid dimakamkan.