Sejarah itu Perlu

Sejarah itu Perlu Sejarah Semarang, Indonesia dan dunia akan tersaji di sini.
(1)

Pengiriman loko D52Loko D52 dikirimkan dari pabriknya, Krupp ke Indonesia. Disebutkan merupakan pembaruan yang dilakukan...
19/08/2026

Pengiriman loko D52

Loko D52 dikirimkan dari pabriknya, Krupp ke Indonesia. Disebutkan merupakan pembaruan yang dilakukan oleh PJKA. Sayang tak disebutkan tahun berapa.
Infonya loko D52 ini merupakan satu-satunya loko uap yang diimpor dan melayani jalur utama pantura.
Berdasarkan catatan dibuat pada tahun 1951-1952. Dan hanya dibuat 100 buah di dunia.
Foto koleksi KAI.

Stasiun pertama Stasiun Samarang. Stasiun kereta api pertama di wilayah Hindia Belanda. Dari Kota Semarang jaringan kere...
19/08/2026

Stasiun pertama

Stasiun Samarang. Stasiun kereta api pertama di wilayah Hindia Belanda. Dari Kota Semarang jaringan kereta api kemudian diperlukan ke kota lain di Pulau Jawa.
Dibangun pertama tahun 1864 oleh perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg.
Jaringan rel kereta api pertama dari Semarang menuju Tanggung dj Wilayah Grobogan berjarak 25 km..
Bangunan ini masih ada namun sudah terkena rob. Sekalipun lantai ditinggikan sehingga atap makin pendek, dipetak-petak dimanfaatkan oleh warga sebagai hunian.

Kendaraan penumpangDulu, Nederlandsch Indische Spoorweg (NIS) yang berkantor di Lawang Sewu Semarang memiliki kendaraan ...
18/08/2026

Kendaraan penumpang

Dulu, Nederlandsch Indische Spoorweg (NIS) yang berkantor di Lawang Sewu Semarang memiliki kendaraan untuk melayani penumpang kereta.
Ada kendaraan bermotor namun ada juga kereta kuda.
Foto koleksi NIS

Kampung Melayu, SemarangDiabadikan pada tahun 1935. Pemandangan Kampung Melayu, Semarang. Masjid Menara terlihat bagian ...
18/08/2026

Kampung Melayu, Semarang

Diabadikan pada tahun 1935. Pemandangan Kampung Melayu, Semarang.
Masjid Menara terlihat bagian menaranya. Menara itu dalam catatan yang ada juga merupakan tempat pengawasan lalu lintas perahu antar daerah.
Kampung Melayu juga perkampungan multi etnik. Hingga kini kampung ini masih eksis dengan bangunan kunonya.
Namun perahu tak lagi bisa masuk ke aliran kali apalagi sandar di dekat Kampung itu.
Kampung Melayu adalah pelabuhan kedua di Semarang sebelum Belanda membangun Kali Baru.
Foto ini termasuk langka. Saya peroleh dari Mas Djoekoet.

Ojeg sepedaPada era 1960-an, di daerah Karangsinom di Kabupaten Indramayu berdiri organisasi POKAR. Kepanjangan dari Per...
18/08/2026

Ojeg sepeda

Pada era 1960-an, di daerah Karangsinom di Kabupaten Indramayu berdiri organisasi POKAR. Kepanjangan dari Persatuan Ojeg Karangsinom.
Anggotanya 30 orang. Mereka bergerak dalam usaha ojeg sepeda. Bukan motor.
Memakai sepeda buatan era sebelum perang kemerdekaan yang kebanyakan ber merk Phillips. Lalu yang dipakai jenis sepeda laki.
Sepeda laki dianggap praktis dan penumpang atau barang bisa dibuat pada kerangka sepeda laki.
Ongkos sekali tarik Rp 50 pada waktu itu.
Info perpustakaannasional

Pernah Dipakai Markas TRISalah satu bangunan era kolonial yang sudah hilang di Kota Ungaran. Saya ingat bangunan ini ber...
17/08/2026

Pernah Dipakai Markas TRI

Salah satu bangunan era kolonial yang sudah hilang di Kota Ungaran.
Saya ingat bangunan ini berada di Jl Gatot Soebroto Ungaran tak jauh dari Alun-alun lama. Rumah ini berada di antara kampung Terbayan Kidul dan Terbayan Tengah.

Kepemilikan pada era kolonial saya kurang paham namun pada masa pasca kemerdekaan, ini adalah rumah keluarga Pak Abdullah. Kebetulan salah satu anaknya adalah teman saya sekolah sejak kecil, Hussein Abdullah. Jadi saya pun pernah main ke rumah ini.

Menurut info singkat yang saya peroleh dari pemerhati sejarah Mas Beny Rusmawan, dulu pada era kemerdekaan Indonesia, bangunan ini pernah dipakai sebagai Markas Tentara Repoeblik Indonesia (sebelum diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia).
Bangunan ini sudah tak berbekas, dibongkar sekian tahun lalu kemudian di atas bekas lokasinya didirikan kompleks ruko.

Figur berotot yang terlupakanPatung Pembebasan Irian Barat boleh tetap berdiri gagah di Lapangan Banteng Jakarta. Namun ...
16/08/2026

Figur berotot yang terlupakan

Patung Pembebasan Irian Barat boleh tetap berdiri gagah di Lapangan Banteng Jakarta.
Namun masyarakat boleh jadi tidak mengenal figur berotot yang dijadikan patung itu.
Bukan sekedar imajinasi pematung namun dibentuk berdasarkan seorang pahlawan dari Papua.
Dialah Johanes Abraham Dimara.
Namanya tak dikenal. Namun dialah yang pada tahun 1954 menyusup masuk ke Teluk Etna dengan misi mengobarkan semangat rakyat agar berintegrasi ke Indonesia.
Ini kemudian dikenal sebagai peristiwa Trikora.
Namun gerakannya di endus Belanda. Ditangkap dan dibuang ke Boven Digul.
Usai dibebaskan ia dibawa oleh Presiden Soekarno ke PBB tahun 1962 dan menjadi pukulan telak bagi Belanda.
Ketika pawai di Jakarta, Dimara membawa rantai terputus. Momen itu membuat B**g Karno terpukau.
Lalu meminta Henk Ngantung membuat sketsa dan pematung Edhi Soemarsono membuatnya.
Dimara meski seorang pahlawan namun hidupnya sederhana dan bahkan hidup susah.

Catatan Hari Kemerdekaan Indonesia-------------------------------------------------------------Gadis RasidSaya sengaja t...
16/08/2026

Catatan Hari Kemerdekaan Indonesia
-------------------------------------------------------------

Gadis Rasid

Saya sengaja telusuri kisah-kisah Gadis Rasid di Wikipedia atau lembaran tulisan lain di google. Namun bagian data yang saya cari tak ada, atau mungkin saya kurang teliti. Ini saya lakukan pada tahun 2019. Ternyata sampai sekarang data itu tetap tidak ada.
Dari kliping di Suara Merdeka saya justru menjumpai tentang Gadis Rasid.
Ia adalah seorang wanita yang tetap saya hargai dan jasanya tak boleh dilupakan.

Dia adalah seorang jurnalis wanita yang pemberani, gigih dan heroik. Sangat menghargai kepahlawanan dan tetap semangat menulis sampai akhir hayat.
Lahir tahun 1923 di Bengkinang. Sekalipun ia seorang wanita, sepak terjangnya melebihi jurnalis pria. Ketika muda sudah pernah ditugaskan di surat kabar Nieuwe Rotterdamse Courant di Belanda. Lalu masuk ke barisan koran Pedoman tahun 1940an.

Nah ini bagian yang sulit saya cari datanya untuk pembanding. Ketika ia berada di Semarang pada masa-masa genting bersejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Pada momentum berdirinya Republik Indonesia itu ia sedang bersama-sama Hetami di koran Sinar Baru di Semarang.
Ketika itu kantor redaksi Sinar Baru digrebek tentara Dai Nippon atau Jepang. Para serdadu mengecek isi naskah yang akan diterbitkan. Mereka mengintimidasi bahwa berita telah ada Proklamasi sebagai hal bohong. Kabar itu dianggap hoax. Sontak awak koran pada ketakutan.
Sampai-sampai ia disuruh p**ang oleh Hetami (kelak pendiri Suara Merdeka pada tahun 1950) yang berada di ruang sama. Sambil diberi isyarat agar siap balik lagi ke kantor.
Hetami mengatakan jika keadaan telah tenang agar balik lagi.

Benar, karena Jepang tak menjumpai hal mencurigakan. Maka para serdadu meninggalkan kantor redaksi sambil menyebar info propaganda.
Namun Gadis Rasid juga tetap mengikuti berita radio. Ternyata benar telah ada Proklamasi.
Benar, ketika keadaan telah aman, ia dijemput Hetami balik ke kantor untuk membantu.
Karena cetak koran sudah berjalan. Maka Hetami minta Gadis Rasid menyiapkan informasi kemerdekaan. Hetami membuat berita dan dicetak stensil. Langsung diedarkan sebagai sisipan pada surat kabar. Cetakan stensil itu di lembur dan oleh tim teknis.
Selebaran yang distensil jadi.

Ia meminta bantuan siswa sekolah untuk menyebarkan koran khusus itu. Para pelajar jumlahnya dibagi ke 2 agar penyebaran lembaran koran itu merata. Situasi genting memang.
Peredaran koran dilakukan sangat hati-hati.

Itu catatan tentang Gadis Rasid, putri dokter Rasid yang dinas di Semarang. Catatan ketika ia berada di Semarang dan membantu peredaran berita Proklamasi ini tak banyak terungkap.

Setelah itu, pada peristiwa pemberontakan PKI Muso di Madiun tahun 1948, Gadis Rasid termasuk seorang perempuan yang ada diantara para pasukan Divisi Siliwangi. Pasukan ini memiliki tugas menumpas pemberontakan. Jadi dialah saksi pertempuran waktu itu.

Gadis Rasid sangat dikagumi oleh Chairil Anwar. Sampai - sampai 1948 dibuat syair Buat Gadis Rasid.
Gadis Rasid meninggal 1988 setelah beberapa hari sakit akibat luka ketika berkunjung ke Bandaneira.
Tanggal dan bulan kematian Gadis Rasid sama persis dengan waktu Chairil Anwar berp**ang, 28 April.

Ia memiliki suami, Henk J Rondonuwu dan seorang anak Ratna Irma.
Sayang saya belum menemukan catatan dimana Gadis Rasid dimakamkan.

Catatan  Hari Kemerdekaan Indonesia--------------------------------------------------------------Pers Bingung Soal Berit...
15/08/2026

Catatan Hari Kemerdekaan Indonesia
--------------------------------------------------------------
Pers Bingung Soal Berita Proklamasi

Terbatasnya sarana komunikasi pada masa perjuangan kemerdekaan menyebabkan segala sesuatu tak bisa segera dikonfirmasi dengan cepat.
Ditambah dengan situasi genting di Jakarta maupun daerah-daerah maka segala sesuatu bisa tak menentu.

Termasuk dengan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Insan pers di daerah semuanya dibuat bingung.
Pada hari Jumat 17 Agustus 1945 memang Proklamasi telah dilaksanakan oleh Soekarno-Hatta. Dan berita sebenarnya telah dikirimkan ke daerah, dalam hal ini Semarang. Pelakunya salah satu staf Kantor Berita Domei di Jakarta. Staf ini melakukan "penyerobotan" atau jalur pintas tanpa sepengetahuan pengawas Jepang. Berita melalui telegrap itu "lolos" sensor Jepang.

Namun kabar itu tak serta merta bisa dipercaya begitu saja manakala pengawas Jepang selalu meneliti isi koran yang diterbitkan.
Dan atas berita yang bobol itu, Domei kemudian secara resmi menyatakan tak benar ada Proklamasi. Karena pada umumnya banyak pihak menunggu kemerdekaan yang akan diberikan oleh Jepang. Dan kabar Proklamasi dilakukan Soekarno-Hatta tentu saja waktu itu tak mudah diterima, sekalipun sebenarnya juga diharapkan.

Kontrol yang ketat Jepang terhadap pers sangat terasa. Di Semarang waktu itu terbit satu-satunya koran di Jawa Tengah. Nama koran Sinar Baru, kantornya di Jalan Suari Semarang. Koran ini pun tak bebas independent karena dijadikan corong Jepang. Meskipun insan yang bekerja di dalamnya tak mau sepenuhnya tunduk. Koran ini dipimpin Parada Harahap. Dan kebetulan Parada pada hari-hari itu lagi di Jakarta. Demikian p**a pengawas Jepang jarang masuk. Hetami (kelak pendiri Suara Merdeka) dan Gadis Rasid yang bekerja di tempat tak bisa mengambil sikap tanpa persetujuan.
Namun yang jelas pada hari itu tak ada media cetak satupun yang memberitakan Proklamasi. Ini hal memalukan bagi wartawan waktu itu.

Namun situasi genting dan sulitnya komunikasi memang faktor dominan.
Kecuali ada siaran radio yang berhasil didengarkan dr Agus dan kemudian menyebarkannya di Masjid Kauman Semarang hari itu juga pada Sholat Jumat. Dokter inipun dikejar-kejar Jepang. Gadis Rasid juga mendengar siaran radio itu.
Media cetak baru memberitakan resmi tanggal 20 Agustus 1945. Sebelumnya Jepang mengatakan lewat koran bahwa Proklamasi tak ada. Jepang belum memberikan kemerdekaan. Namun koran dengan isi berita tak benar dari penguasa Jepang itu disabot karyawan Sinar Baru. Setelah cetak hasil cetakan dibuang sehingga tak beredar.

Langkah itu selaras yang dilakukan Hetami. Ia dibantu Gadis Rasid nekad membuat selebaran berisi pengumuman bahwa Proklamasi telah dilaksanakan. Kertas itu diedarkan dengan mengerahkan anak sekolah teknik di Semarang. Itu pun sembunyi-sembunyi dengan Jepang.
Pengalaman Pak Hetami ini dituliskan oleh senior saya, Pak Nurman Sahli dan diterbitkan tahun 1974.

Lie Eng Hok, Jurnalis di BalikPemberontakan Banten 1926Saya masih ingat ketika pada tahun 1986 meliput pemakaman ulang k...
15/08/2026

Lie Eng Hok, Jurnalis di Balik
Pemberontakan Banten 1926

Saya masih ingat ketika pada tahun 1986 meliput pemakaman ulang kerangka Lie Eng Hok di TMP Giri Tunggal, Semarang.
Ketika itu disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka RS Tlogorejo di jl Ahmad Dahlan. Dulu masih ada rumah duka menyatu dengan RS sebelum dipindahkan ke THIW di Puri Anjasmoro.

Ketika itu tak banyak data yang saya peroleh dari pihak keluarga selain hanya diketahui bahwa dulunya Lie Eng Hok seorang pejuang. Dan atas keputusan Pangdam IV/Diponegoro tahun 1986, kerangka dimakamkan di TMP Giri Tunggal. Itu merupakan tindak lanjut keputusan pemerintah pada 22 Januari 1959 yang mengangkat Lie Eng Hok sebagai Perintis Kemerdekaan atas jasanya bagi bangsa dan negara Indonesia.
Lie Eng Hok sendiri meninggal dua tahun setelah keluarnya keputusan pemerintah itu, yaitu pada 27 Desember 1961 dan dimakamkan di pemakaman umum di Semarang. Ketika itu tinggal di Semarang.
Jadi 25 tahun kemudian baru dipindahkan ke TMP Giri Tunggal. Dan saya meliput pemakaman ulang itu.

Setelah sekian waktu berlalu barulah terungkap lebih jelas siapa Lie Eng Hok. Ia adalah seorang pejuang yang dilahirkan pada 7 Februari 1893.
Ia merupakan seorang tokoh di balik pemberontakan 1926 di Banten. Ketika itu massa kaum Bumiputra bergerak melakukan perusakan jalan, jembatan, rel kereta api, jaringan air dan listrik serta kantor milik pemerintah Hindia Belanda.
Itu sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan Belanda.

Pada masa itu ia aktif sebagai wartawan surat kabar Sin Po dan akrab dengan Wage Rudolf Supratman yang aktif menulis di surat kabar berbahasa Melayu-Tionghoa. Keduanya belajar banyak tentang kebangsaan.
Lie Eng Hok berperan sebagai kurir kaum pergerakan pada pemberontakan itu sehingga ditahan Belanda dan dibuang ke Boven Digul selama lima tahun (1927-1932).
Selama di pembuangan Lie tak mau bekerja dan memilih membuka kios sol sepatu untuk hidupnya.
Sekembalinya ke Jawa ia masih terus berprinsip menentang penjajahan meskipun sembunyi-sembunyi karena diawasi.

Suatu kali aya mengunjungi TMP Giri Tunggal dan menemukan pusara Lie Eng Hok di bagian sayap kanan dari pintu masuk TMP.
(J Christiono)

Address

Banjarnegara

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sejarah itu Perlu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Sejarah itu Perlu:

Shortcuts

Share