14/08/2026
Menyikapi tradisi Maulid Nabi Muhammad ﷺ; "Berbeda dalam pandangan, bersatu dalam kecintaan kepada Rasulullah ﷺ"
Allah Swt. menciptakan manusia dengan beragam cara berpikir, latar belakang, dan pemahaman. Dalam perjalanan sejarah Islam, para ulama pun tidak selalu memiliki pandangan yang sama dalam setiap persoalan. Perbedaan itu bukanlah tanda kelemahan agama, melainkan bukti keluasan ilmu dan rahmat Allah bagi hamba-Nya.
Begitu p**a dalam menyikapi tradisi Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Ada ulama yang memandang peringatan Maulid sebagai sarana dakwah untuk menumbuhkan cinta kepada Rasulullah ﷺ melalui shalawat, pembacaan siroh, sedekah, dan pengajian. Ada p**a ulama yang memilih tidak memperingatinya karena ingin mencukupkan diri dengan amalan yang dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Kedua pandangan tersebut lahir dari semangat yang sama, yaitu keinginan untuk memuliakan agama Allah dan mengikuti Rasulullah ﷺ sebaik mungkin. Karena itu, perbedaan ini tidak seharusnya berubah menjadi permusuhan.
Yang merayakan Maulid jangan merasa paling benar hingga merendahkan saudaranya yang tidak merayakan. Sebaliknya, yang tidak merayakan jangan mudah menyalahkan atau mencela mereka yang mengisinya dengan shalawat, sedekah, dan kajian keislaman. Perbedaan cara tidak boleh menghilangkan rasa persaudaraan.
Jangan sampai perbedaan dalam satu persoalan membuat kita melupakan begitu banyak persamaan yang Allah anugerahkan kepada kita.
Rasulullah ﷺ mengajarkan akhlak yang lembut, santun, dan penuh kasih sayang. Beliau tidak mengajarkan umatnya untuk mudah bermusuhan karena perbedaan yang masih menjadi ruang ijtihad para ulama. Justru beliau mengajarkan agar umat Islam menjadi pribadi yang menjaga lisan, menghormati sesama, dan mengutamakan persatuan.
Maulid akan menjadi indah apabila melahirkan akhlak yang indah. Maulid akan bernilai apabila menjadikan hati semakin lembut, lisan semakin santun, dan persaudaraan semakin erat. Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan cara mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi lupa meneladani akhlak beliau dalam menghormati sesama.
Marilah kita menjadikan perbedaan sebagai sarana untuk saling belajar, bukan saling menjatuhkan. Jadikan perbedaan sebagai warna yang memperindah persaudaraan, bukan tembok yang memisahkan hati.
Belajar dari perbedaan akan melahirkan sikap rendah hati. Kita akan menyadari bahwa ilmu Allah sangat luas, sementara pengetahuan manusia memiliki keterbatasan. Karena itu, semakin banyak belajar, seharusnya semakin santun dalam berbicara dan semakin bijaksana dalam bersikap.
Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk mencintai ilmu, menghormati orang yang berilmu, dan menjaga akhlak ketika terjadi perbedaan.
Jangan sampai semangat membela pendapat membuat kita kehilangan adab. Sebab, akhlak yang mulia adalah salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ.
Maka, apabila kita memilih memperingati Maulid, laksanakanlah dengan penuh keikhlasan, memperbanyak shalawat, membaca siroh Nabi, bersedekah, dan meneladani akhlaknya. Dan apabila kita memilih untuk tidak memperingatinya, hormatilah saudara-saudara kita yang memiliki pandangan berbeda selama mereka tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Marilah kita menjadikan perbedaan sebagai jembatan untuk saling mengenal, saling belajar, dan saling menghormati. Sebab, umat yang kuat bukanlah umat yang selalu memiliki pandangan yang sama dalam setiap persoalan, melainkan umat yang mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan yang masih berada dalam ruang ijtihad.
Semoga Allah Swt. menyatukan hati umat Islam, memperkuat ukhuwah, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ dengan mengikuti ajaran serta meneladani akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Karya Nurun Najmah, Penyuluh Agama Islam Kab Bangkalan