07/08/2013
Al-ittifaq
GAPURA NING RAHAYU NAWA ING BUANA
07/08/2013
BERKARYA TIADA HENTI
Ada hal menarik yang menjadi dasar pemikiran penulis dalam menuliskan artikel ini, dari beberapa analisis dan apa yang penulis lihat sehari-hari, baik itu dari dunia nyata maupun dari dunia maya yang sekarang sedang digandrungi banyak orang.
Hampir setiap hari yang menjadi update status dari anak-anak muda ini selalu hal-hal yang membuat mereka tidak senang, hal-hal yang membuat mereka bad mood atau sebagainya, jarang penulis melihat sosok anak muda petarung yang berani menghadapi kehidupannya dengan selalu tersenyum dan bersifat positif menyongsong masa depan dan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
Sebenarnya hal dan perasaan ini pun sering singgah di penulis, penulis sering merasakan dan melihat rekan-rekan satu pekerjaan di tempat penulis mengajar, yang kehilangan motivasi dan kemauan yang tinggi untuk bisa mendidik dan mengajar para siswa/i. Banyak dari rekan-rekan yang telah menemui titik klimaks dalam hal mengajar dan mengabdi kepada corps dimana mereka melakukan tugasnya sebagai tenaga pengajar dan pendidik, sehingga ada pertanyaan besar dalam benak penulis, ada apa dengan kita semua..??
Point utama dari artikel ini adalah penulis ingin mengangkat sosok Kiai sepuh dari pedalaman Kabupaten Bandung, tepatnya di Kampung Ciburial Desa Alamendah Kecamatan Rancabali, yang jarak dari kota kabupaten bandung sekitar 20km ke arah selatan. KH. Fuad Affandi sosok kiai nyentrik yang terkesan jauh dari setelan sebagai kiai kebanyakan. Beliau lebih sering terlihat menggunakan kaos oblong, bercelana komprang dan memakai topi laken, dibanding dengan menggunakan sorban dan memakai gamis panjang.
Ada banyak pelajaran bagi kita sebagai seorang pemuda ketika melihat sosok Kiai tersebut, ketika banyak orang dari kita semua terpaku kepada hal-hal yang bersifat materi dan hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan diri kita sendiri, sosok Kiai ini, atau kebanyakan santri dan jamaah di sekitarnya memanggil beliau “Mang Haji”, justru sebaliknya, di usianya yang hampir menginjak 65 tahun, beliau masih terus memikirkan tentang jamaahnya, masih memikirkan tentang santri-santrinya, masih memikirkan tentang ummat yang semakin hari semakin susah untuk diarahkan dan di atur, dan apabila kita sadari lebih dalam , ternyata yang namanya sosok kiai tidak digajih oleh jemaah, tidak dibayar oleh para santri untuk bakti dan ilmu yang telah diberikan kepada santri-santrinya. Tiada hari yang digunkan untuk berleha-leha, dari mulai pagi buta sampai petang beliau terus menerus membuat sesuatu dan berkarya untuk kepentingan ummat.
Hari senin tadi tanggal 21 desember 2009, kebetulan penulis menemani mang haji dalam kegiatan sehari-harinya, dari pagi buta, beliau sudah menimbang ikan lele untuk dijual demi menopang kegiatan kepesantrenan, menjelang pagi hari, beliau sudah sibuk dengan berbagai kusen bangunan yang siap dipasangkan di bangunan sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah), setelah dzuhur, beliau melihat pekerjaan para santri yang sedang memperluas bangunan aula, tidak hanya mengontrol dan memandori saja, tapi tangan-tangan cekatan kiai sepuh ini pun tampak mahir mengerjakan berbagai pekerjaan di proyek bangunan tersebut. Menjelang adzan ashar, penulis merasakan kelelahan yang sangat sekali, sehingga tanpa sadar setelah shalat ashar penulis terlelap tidur, ternyata ketika penulis terlelap tidur pun, mang haji tidak berhenti untuk terus selalu berkarya dan berkerja demi kepentingan umat, bahkan sampai menjelang senja pun, setelah selesai shalat maghrib, beliau masih dengan penuh semangat menerima puluhan tamu yang memang biasa datang menjelang pengajian malam selasaan. Kemudain selesai pengajian selasaan yang berakhir jam 10 malam, mang haji pun masih memberikan tausiyah-tausiyahnya kepada para DKM yang berakhir hampir menjelang tengah malam.
Dari pengalaman penulis hari ini, ternyata kita yang merasa menjadi pemuda, yang merasa masih muda dan kuat, ternyata dalam kehidupan kita, kita lebih banyak mengeluh, ternyata kita lebih banyak menyerah kepada keadaan, penulis selalu ingat nasihat yang diberikan oleh mang haji , beliau mengatakan
“jang mun hayang jadi jalema beunghar mah kudu boga nu 3 hal, naon wae eta teh... nu kahiji na kudu lega leutak, nu kadua na kudu kuat taktak jeung nu katilu na kudu jembar otak.”
Tah dina 3 hal eta teh sabisa-bisa mah kudu dipikaboga kebeh ku urang, minimal lamun teu lega leutak jeung teu kuat taktak, nya sing jembar otak atuh....”.
06/08/2013
Si Tukang Kayu
Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kontruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada si tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk miliknya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia Cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.
Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahan itu datang melihat rumah yang dimintainya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu“ katanya ”hadiah dari kami”. Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan, kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadari sejak semula, kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.
Renungkanlah rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan.
Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat dari sikap dan pilihan yang kita perbuat di hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.
04/08/2013
ketika menjelang kurban (idul adha)
PILIH MANA MENONTON ATAU MEMBACA
Di sebuah toko buku di Bandung ada tagline besar yang kalo tidak salah berbunyi, “lestarikan kebodohan berhenti membaca buku”. klo ngga salah ..." Menarik apa yang tertera disana, ada pertanyaan besar dari penulis untuk siswa sekolah. Berapa banyak dalam setahun judul buku yang telah mereka baca, berapa banyak artikel, tulisan atau makalah yang telah mereka buat dalam setahun. Mungkin NOL BESAR bagi sebagian banyak siswa/i kita.
Ternyata untuk keluar dari kebodohan adalah dengan membaca, pantas saja nabi besar kita Muhammad saw, mendapatkan wahyu pertamanya yaitu IQRO, maka tidak salah kalau kita diwajibkan untuk membaca, atau penulis menginterpretasikan IQRO disini berarti “belajar”, karena seperti hadis nabi barang siapa ingin mendapatkan dunia maka kuasailah ilmu dan barang siapa ingin mendapatkan akhirat maka kuasailah ilmu. Bagaimana akan mendapatkan ilmu kalau referensi kita dalam membaca masih sangat minim.
Kenapa hal ini terjadi, ada 2 hal besar yang yang bisa penulis lihat dari beberapa sekolah.
Yang pertama adalah tidak adanya sarana prasana yang menunjung untuk kegiatan tersebut, seperti tidak tersedianya perpustakaan (walaupun hal ini sebenarnya bisa kita bantahkan).
Kemudian yang kedua adalah tidak adanya stimulus dari pihak sekolah kepada para siswa untuk membaca.
Dari dua hal tersebut, point yang kedua menjadi hal yang sangat esensial, karena bagaimana bisa meningkatkan minat membaca para siswa kalau tidak ada kebijakan yang mendorong untuk kearah sana.
Penulis mencoba untuk melakukan hal-hal kecil yang mungkin bisa memotivasi mereka, misalnya dengan diadakannya bulan bahasa / sastra dimana pada tanggal dan bulan tertentu diadakan kegiatan seperti pembacaan puisi, sajak, pementasan drama, penulisan cerpen sampai pada pelatihan-pelatihan jurnaslistik. Mungkin ini hanya sebagian kecil dari ribuan cara yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan motivasi para siwa/i dalam membaca. apabila hal2 ini bisa dilakukan secara berkesinambungan maka akan terjadi iklim kompetisi yang positif dimana semua siswa akan mau dan mampu untuk berpartisipasi, apalagi kalau dibumbui dengan direct reward sehingga akan mendorong mereka untuk selalu haus dalam membaca sama hal nya ketika mereka haus akan tontonan TV.
Harapan kedepan untuk siswa/i kita agar terus memotivasi diri untuk selalu membaca minimal 2 judul buku dalam sebulan yang berarti 24 judul buku dalam setahun, dan diharapkan mereka bisa menulis, baik itu artikel, cerpen atau lain sebagainya minimal 6 tulisan dalam setahun, apabila hal ini bisa terjadi di 10% lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, penulis yakin kita akan memiliki ratusan bahkan ribuan tokoh tokoh berkualitas sekelas Kahlil Gibran, J.K. Rowling, Pramoedya bahkan sekaliber Hamka pun kita bisa.
Mereka Butuh Contoh Bukan Perintah
13 November 2009 pukul 22:40
Lembaga sekolah adalah tempat mendidik dan mentransformasikan ilmu dari pengajar kepada siswa didik, tidak hanya itu saja tenaga pendidik juga harus bisa mentransformasikan nilai. Nilai-nilai kebajikan, nilai-nilai kerukunan, nilai-nilai pedamaian dan nilai-nilai penghargaan. Penghargaan disini bukan hanya nilai yan tercatat dan tersirat didalam buku rapor saja, tetapi nilai yang harus bisa diimplementasikan oleh mereka dalam kehidupan sehari-harinya.
Semua itu menjadi hal yang tidak mudah bagi seorang tenaga pendidik untuk tidak hanya mentrasnformasikan ilmu pengetahuan nya saja (knowledge skill) tetapi juga harus memberikan values terhadap anak didik mereka, dari beberapa pengalaman yang penulis dapatkan di lapangan berdasarkan diskusi dengan anak-anak didik di sekolah, kebetulan penulis dipercaya sebagai wakamad bidang kesiswaan, sehingga memaksa penulis untuk sering berdiskusi dengan anak didiknya.
Dari beberapa diskusi tersebut, ternyata tidak sedikit anak didik yang mengharapkan memiliki figure yang bisa mereka contoh di sekolah. Bukan hanya guru yang bisa membentak anak didiknya ketika tidak bisa menyelesaikan tugas mereka, kemudian mengatakan sebagai murid bodoh, atau ketika mereka hanya memberikan catatan-catatan yang harus merka tulis dan memberikan pelajaran yang monoton dari hari ke hari, minggu ke minggu,bulan ke bulan sampai tahun ke tahun, mereka membutuhkan figure pendidik yang benar-benar bisa mereka gugu dan bisa mereka tiru, sehingga figure tersebut tidak mereka dapatkan di dunia luar.
Penulis masih ingat dengan sosok ibu halimah dalam novel laskar pelangi, disana digambarkan bagaimana sosok ibu halimah yang bisa memberikan ketenangan, sosok ibu yang bisa memberikan kedamaian dan sosok ibu yang bisa memberikan motivasi kepada anak didiknya, walapun mereka menghadapi berbagai masalah keterbatasan, tetapi dengan prinsip-prinsip yang diterapkan oleh ibu halimah menjadikan banyak anak didiknya yang bisa menjadi orang-orang yang berhasil.
Bisa dilihat bahwa membuat suasana kelas menjadi nyaman aman dan terkendali, bukan berarti siswa di kelas harus diam seribu bahasa, harus duduk manis dan mencatat catatan yang tidak mereka fahami sama sekali, tetapi kelas disini adalah kelas yang menyenangkan, baik secara visual atapun secara psikologis. Penerapan diskusi di kelas, pembagian menjadi kelompok-kelompok kecil adalah sebagain hal yang bisa membuat suasana kelas menjadi hidup, tidak hening seperti di pekuburan atau tidak bebas dan takut untuk mengeluarkan opini dan pendapat seperti di balik terali besi.
Yang terpenting disini adalah bagaimana kita sebagai tenaga pendidik menjadi sadar bahwa nilai dan angka-angka tertulis itu bukanlah segalanya, tetapi perubahan sikap, perubahan prilaku dan perubahan pandangan terhadap paradigma yang ada bisa memotivasi siswa untuk tidak malas-malasan pegi ke sekolah, karena di seolah ada guru yang selalu mereka tunggu-tunggu kehadirannya, ada sosok guru yang menjadi suri taulan bagi mereka dan ada guru yang menjadi rules model bagi mereka, mudah-mudahan kita semua sebagai tenaga pendidik bisa menjadi guru yang diharapkan oleh anak didik kita semua. [ ]
04/08/2013
prinsip 3UR
1. Tidak boleh ada sedikit pun sampah yang ngawur
2. Tidak boleh sedetik pun waktu yang nganggur
3. Tidak ada sejengkal pun tanah yang tidur
Kewirausahaan di kalangan siswa sekolah, mungkinkah....?
10 Desember 2009 pukul 13:57
Ciputra seorang pengusaha tua yang bergerak di berbagai bidang usaha, yang paling terkenal adalah di bidang property, sekarang beliau memiliki sebuah sekolah mulai dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi. Ada hal menarik yang mereka lakukan disekolah mereka, dimana meraka selalu menanamkan pola kewirasusahaan mulai dari tingkat SD sampai perguraan tinggi, dimana kewirausahaan menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah tersebut, menarik apa yang telah dilakukan oleh seorang pengusaha seperti Ciputra, lain halnya apabila kita melihat Bob Sadino, laki-laki necis pemilik chickfarms ini selalu memprovokasi para mahasiswa untuk keluar dari kampus dan segeralah untuk berwiraswasta, karena menurutnya dunia kampus hanya dunia omong kosong belaka, karena kewirausahaan sebenarnya adalah di lapangan.Terlalu banyak teori yang tidak dibarengi dengan praktek yang memadai, hal inilah yang menjadi kendala yang sangat signifikan yang terjadi di hampir semua perguruan yang berbasis ekonomi, secara teknis mereka ( mahasiswa ) telah banyak diracuni dengan teori-teori ekonomi yang menyesatkan, salah satu contoh misalnya bagaimana mungkin kita bisa meminimalisir kerugian, kalau kita belum terjun langsung ke sebuah usaha, atau bagaimana kita bisa mencari jalan keluar kalau masuk pun kita belum pernah,
Penulis pernah menemani K.H. Fuad Affand ( beliau adalah pimpinan PONPES AGRIBISNIS AL ITTIFAQ) pada sebuah acara seminar yang diadakan di Jakarta, , disana ada seseorang penanya dari sebuah kota di daerah timur jawa barat menanyakan tentang peternakan sapi yang baik, karena menurut penanya didaerahnya sangat sulit menemukan pakan ternak. K.H. Fuad Affandi balik bertanya “sudah punya berapa banyak sapinya, Mas…? “Belum punya Pa Kiai” jawab si penyanya. Kemudian Pa Kiai menjelaskan, bagaimana bisa mencari jalan keluarnya kalau sapinyapun tidak punya, sangat sulit untuk mencari pemecahan dari suatu masalah kalau masalah nya sendiri tidak ada, nah hal ini yang banyak tejadi di Negara kita, orang terlalu apriori dan takut untuk melakukan suatu kegiatan bisnis, atau kegiatan lainnya karena kita takut akan rugi dan takut akan menjadi miskin, karena fondasi yang pertama harus kita bangun adalah niatkan semuanya untuk IBADAH kepada Allah SWT, nah kalo sudah niat ini yang menjadi fondasinya, maka kesananya kita akan lebih mudah untuk melakukan semua kegitan kita terebut.
Kegagalan akan selalu kita temui mungkin kita tidak pernah sadar berapa kali Thomas Edison melakukan eksperimennya sampai berhasil, atau berapa ratus kali kegagalan Honda sebelum bisa menguasai pasar otomotif dunia, dan bagaimana kegagalan Wright bersaudara ketika akan menciptkan sebuah pesawat. Nah dari analogi tersebut, dapat kita simpulkan kalau berani untuk usaha maka siap untuk gagal, kita tidak pernah tahu ketika sudah 100x gagal mingkin yang ke 101x nya kita akan mendapatkan keberhasilan, wallaualam
Hal kecil yang penulis lakukan sekarang untuk membentuk jiwa wirausaha di sekolah adalah dengan mengaktifkan para siswa dalam kegiatan kegiatan kewirausahaan praktis, tidak hanya teori saja yang diperkenalkan kepada mereka tetapi bagaimana cara kita mengintegrasikan antara teori dan praktek, beberapa hal yang penulis lakukan kepada para siswa adalah,
Pertama memberikan pemahaman terlebih dahulu tentang mulianya seseorang ketika menjadi seorang wirausaha ditilik dari sisi agama, kemudian memberikan motivasi kepada mereka kalau gagal adalah hal biasa dalam sebuah bisnis ( hal ini penting untuk diberitahukan karena banyak orang yang tidak berhasil ketika tidak siap menghadapi kegagalan ).
Kedua adalah memberikan semacam stimulus dana kepada mereka, karena mereka masih berfikiran kalau wirasawasta itu berarti harus memiliki modal, maka kita lah yang memberikan modal awal kepada mereka.
Ketiga adalah dengan memberikan kebebasan kepada meraka untuk melihat dan menganalisis usaha apa yang cocok yang bisa dilakukan di sekolah
Keempat ini adlah yang terakhir dimana kita harus selalu mengevaluasi semua kegiatan yang telah mereka lakukan.
Ke depannya harpan banyak pihak target 2% pengusaha di indonesia bisa tercapai dengan melakukan hal2 kecil yang dimulai di sekolah.. karena kata terlambat tidak ada di kamus kita....!!!
“Nyawen Lembur” ala Madrasah Alif Al Ittifaq
16 Desember 2010 pukul 13:25
Keindahan Alam
Allah telah memerintahkan mencintai keindahan
semesta alam manusia menjalin persahabatan
menghampiri menyayangi merawat serta menjaga alam ini
Marilah mari bersama merawat serta menjaga
Keindahan alam kita siang malam mempesona
Kita semua menyesali berduka dan menangisi
Jika alam yang indah ini dirusak dan dicemari
Marilah mari bersama merawat serta menjaga alam kita
Hentikanlah perusakan dan kejahatan pada alam
Manusia akan terpendam menambah kesengsaraan
Petikan lirik lagu yang selalu dilantukan oleh para santri2 di Pondok Pesantren Al Ittifaq inilah yang akhirnya menyadarkan kita semua sebagai komponen bangsa ini untuk bisa mensyukuri dan menjaga alam ini. Karena sesungguhnya semua yang ada di alam ini adalah untuk kemaslahatan seluruh umat manusia.
Terdorong dari lirik lagu ciptaan KH. Fuad Affandi (pimpinan PONPES AL ITTIFAQ) tersebut dan berangkat dari rasa kepriharinan anak2 Madrasah Alif Al Ittifaq terhadap berbagai tragedi yang menimpa negara tercinta ini. Di dusun kecil Ciburial, di daerah pedalaman Ciwidey yang tepat berada di Desa Alamendah Kecamatan Rancabali Kab. Bandung. Sekelompok anak sekolah merasa perlu melakukan sesuatu hal yang mendasar yang harus dan segera untuk dilakukan guna menjaga dan merawat alam yang sudah porak poranda ini.
Sejalan juga dengan program pemerintah yang bertajuk “a billion trees for the world”, maka anak2 ini kemudian menyusun rencana dan merencanakan kegiatan berupa penanaman pohon di 35 titik di desa Alamendah, bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama di 35 wilayah ke RW-an di Desa Alamendah, dan dengan mendapatkan dukungan penuh dari pimpinan Pondok Pesantren Al Ittifaq. Akhirnya anak2 tersebut bisa menyelenggarakan kegiatannya, dengan berjudul “MADRASAH ALIF NYAWEN LEMBUR” trees for safety.
Maka pada hari Rabu Tanggal 15 Desember 2010 anak2 pembawa perubahan dari Madrasah Alif Al Ittifaq ini melakukan kampanye mengelilingi berbagai wilayah di seputaran Desa Alamendah, mereka membawa bibit2 pohon yang hendak ditanamkan di berbagai lokasi di seputaran Desa Alamendah seperti di pelataran masjid, halaman2 rumah penduduk bahkan di trotoar2 jalan. Hampir lebih dari 15 KM mereka berjalan dengan penuh semangat dan tanpa henti untuk mengkampanyekan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga serta merawat alam ini karena itu adalah tugas kita sebagai semua insan manusia yang hidup di dunia ini.
Apa yang mereka lakukan benar2 brilliant, anak2 ini tidak saja hanya cukup sampai menanam bibit pohon, tetapi mereka pun melakukan semacam MoU dengan para tokoh masyarakat yang wilayahnya ditanami bibit pohon tersebut, Mou tersebut berupa monitoring tentang keberadaan dan kehidupan dari pohon tersebut kedepannya, setiap bibit pohon yang mereka tanami akan mereka jaga bersama2 antara anak2 sekolah tersebut dengan para tokoh masyarakat agar bisa dilakukan 3M, yaitu Memupuk, Menjaga, serta Merawat pohon ini sampai besar kelak, sehingga akan dirasakan berbagai manfaatnya bagi generasi mereka selanjutnya. Mereka sedang ber”Jariah”, yang selama pohon itu hidup maka akan terus mengalirlah amal bagi mereka semua, tentu saja apabila pohon yang kita tanam tersebut bisa terus hidup, sehingga akan terdapat ribuan kehidupan yang akan ikut hidup dari keberadaan pohon tersebut.
Mudah2an apa yang mereka lakukan bisa menginspirasi kita semua, bahwa segala perubahan itu harus segera kita lakukan dan janganlah menunda2, lakukanlah segera selagi kita masih muda dan memiliki tenaga yang besar. Mudah2an anak2 pembawa perubahan dari Madrasah Alif Al Ittifaq ini bisa terus berkiprah untuk selalu merawat dan menjaga alam sekitarnya…..!!![]
Elmu Nu Berkah Vs Salembar Ijasah
9 Februari 2010 pukul 21:46
Senen ping 25 januari 2010, biasa pami dinten senen sok janten dinten anu rariweuh pisan, tos janten kabiasan, pami senen angkat ti bumi jam 6 menuju Ciwidey, sampai Aliyah Alif, diteraskeun ngajar bisana mah dugi dugi tabuh 13.30, namung dinten eta mah mung dugi tabuh 10. Da siangna kaleresan aya acara seminar sareng Faisal Basri di Redaksi Pikiran Rakyat.
Nyampe di redaksi PR jam 12.00. teu lami ngantosan, dongkap Kang Faisal Basri (ekonom UI), panitia sareng nu sanes nyaur na Pak Professor, tapi aya hal nu menarik ti Bang Faisal. Sakelas Prof tapi asik pami diajak ngobrol nya, teu pati canggung jeung sayah nu masih “youngest boyz “kieu, he...he..he..
Ngobrol masalah BUMN, khususna kajadian2 di PLN sareng PERTAMINA.. ah geuning kitu nya kaayaan BUMN urang teh...(parah....). Kira2 ngobrol 1jam an sareng pak faisal, team redaksi PR sareng nu sanes2, teu lami ti dinya aya panitia nu nyanggemkeun ka sadayana supados ka aula, kumargi acara bade dibuka... singkat ceritana acara dibuka ku Kang Thanjung(PR), teras sambutan ti Kang Topan (Cendikia), teras pemaparan pesantren ti Kang Syahid.
Pas bang faisal ningali spanduk nu dipampang di payun, anjeuna cumarios ulah di cantumkeun Professor, “da kuring mah teu acan janten professor” saur anjeuna teh. Nyambung tina cariosan eta anjeuna nyarioskeun yeun elmu mah kudu jadi kaberkahan keur sadayana, lain ngan sauukur salembar ijasah ungkul, kumargi nyiar elmu mah bisa dimana wae, saurna teh, termasuk nyiar elmu ka para tokoh2 pembangunan suatu peradaban anu notabene aranjeuna secara pendidikan mah teu kantos ngalaman pendidikan formal.
Seeur pisan nu dipikenging ku sim kuring dina seminar eta, pembelajaran anyar dina dinten anyar.
03/08/2013
dalam angka menyelamatkan lingkungan hidup al-ittifaq menyelenggaakan kegiatan nyawen lemmbur yang bertemakan "tees for safety"dimana kegiatan ini briliant student of alif (BSA) serta melibatkan 27 DKM untuk menanam seribu pohon di desa alamendah dan sekitarnya,...
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Telephone
Website
Address
Bandung
40973