Islam

Islam halaman tentang dakwah agama Islam

19/07/2026
Pernah nggak sih, lagi khusyuk-khusyuknya salat, tiba-tiba di pikiran muncul pertanyaan: "Eh, ini tadi rakaat ketiga ata...
19/07/2026

Pernah nggak sih, lagi khusyuk-khusyuknya salat, tiba-tiba di pikiran muncul pertanyaan: "Eh, ini tadi rakaat ketiga atau keempat ya?" Momen kayak gini sering banget bikin panik. Pikiran langsung buyar, hati jadi ragu, dan kadang kita tergoda buat langsung membatalkan salat lalu mengulangnya dari awal.
Padahal, sebagai manusia, lupa atau ragu itu adalah hal yang sangat manusiawi, bahkan dalam ibadah sekalipun. Menariknya, Islam adalah agama yang penuh kemudahan dan tidak membiarkan umatnya bingung. Dalam ilmu fiqih, sudah ada panduan yang sangat jelas dan tenang untuk mengatasi situasi ini tanpa harus mengedepankan panik. Jadi, kalau kamu lupa jumlah rakaat, jawabannya bukan langsung diulang, melainkan lanjutkan dengan keyakinan, lalu tutup dengan sujud sahwi.
Mari kita bedah bagaimana panduan praktisnya berdasarkan fiqih salat:
1. Ambil Jumlah yang Paling Sedikit (Yakin)
Ketika muncul keraguan antara dua jumlah rakaat—misalnya ragu apakah baru dapat 2 rakaat atau sudah 3 rakaat—maka kaidah fiqihnya adalah mengambil jumlah yang paling sedikit. Kenapa? Karena jumlah yang lebih sedikit itulah yang sudah pasti (yakin) telah kita kerjakan, sedangkan tambahan rakaatnya masih diragukan. Rasulullah SAW bersabda yang intinya, jika salah seorang di antara kalian ragu dalam salatnya, hendaknya ia membuang keraguan dan membangun salatnya di atas apa yang ia yakini (jumlah yang lebih sedikit). Jadi, kalau ragu 2 atau 3, tetapkan hati bahwa itu baru 2 rakaat, lalu lanjutkan salat seperti biasa hingga selesai.
2. Lakukan Sujud Sahwi
Sebagai "penambal" atas keraguan atau kelalaian tadi, Islam mensyariatkan Sujud Sahwi. Sujud sahwi adalah sujud dua kali yang dilakukan di akhir salat. Kapan mengerjakannya? Ada dua cara yang jamak diajarkan oleh para ulama:
Sebelum salam: Jika keraguanmu membuatmu harus memilih jumlah rakaat yang lebih sedikit (seperti poin pertama), maka lakukan sujud sahwi dua kali setelah membaca tasyahud akhir sebelum kamu menolehkan wajah untuk salam.
Sesudah salam: Jika kamu baru tersadar setelah salam bahwa ada rakaat yang kurang atau berlebih, maka tambahi kekurangan tersebut, lakukan salam, lalu sujud sahwi dua kali dan diakhiri dengan salam lagi.
Sujud Sahwi sebagai Penghina Setan
Tahukah kamu? Gerakan sujud sahwi ini bukan cuma sekadar pelengkap salat. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa sujud sahwi berfungsi untuk membuat setan merasa terhina. Setan sudah bersusah payah menggoda dan membuyarkan konsentrasi kita agar salat kita rusak, namun dengan sujud sahwi, kekurangan dalam ibadah kita langsung ditutupi dan disempurnakan oleh Allah SWT.
Jadi, mulai sekarang, buang jauh-jauh rasa panik saat salat. Ibadah itu menenangkan, dan fiqih hadir untuk memberikan solusi, bukan menambah beban. Ingat prinsipnya: Jangan biarkan ibadah dikuasai panik. Tetapkan keyakinan, lanjutkan salat, dan selesaikan dengan sujud sahwi.
Semoga penjelasan singkat ini bisa membantu meningkatkan kualitas ibadah kita sehari-hari. Yuk, share postingan ini ke keluarga atau teman dekatmu agar kita sama-sama bisa salat dengan lebih tenang dan berilmu!

Password bisa dibobol.Filter bisa dilewati. Aplikasi bisa disembunyikan. Akun bisa dibuat ulang. Anak-anak hari ini seri...
10/07/2026

Password bisa dibobol.

Filter bisa dilewati. Aplikasi bisa disembunyikan. Akun bisa dibuat ulang. Anak-anak hari ini sering lebih cepat belajar teknologi daripada orang tua belajar mendampingi.

Tapi ada satu hal yang tidak boleh ikut jebol: kedekatan.

Karena anak yang dekat dengan orang tuanya lebih mudah bercerita ketika melihat sesuatu yang membingungkan. Lebih mudah bertanya ketika takut. Lebih mudah mengaku ketika salah. Lebih mudah percaya bahwa rumah adalah tempat pulang, bukan ruang sidang.

Kontrol teknis tetap perlu. Batas waktu tetap penting. Aturan tetap harus ada.

Tapi semua itu akan kering kalau tidak dibangun di atas hubungan yang hangat.

Jangan hanya jadi penjaga password.

Jadilah orang tua yang cukup dekat untuk didatangi saat anak bingung dengan dunia digitalnya.

Pesan itu terlihat penting.Judulnya membuat panik. Kalimatnya panjang. Di bagian akhir ada perintah, “Sebarkan sebelum t...
10/07/2026

Pesan itu terlihat penting.

Judulnya membuat panik. Kalimatnya panjang. Di bagian akhir ada perintah, “Sebarkan sebelum terlambat.” Lalu jempol kita hampir otomatis menekan share.

Padahal tidak semua yang terasa penting itu benar.

Di zaman grup WA dan FYP, kabar palsu bisa bergerak sangat cepat. Fitnah bisa menyebar dalam hitungan menit. Nama orang bisa rusak sebelum kebenaran sempat diperiksa.

Islam mengajarkan tabayyun.

Bukan karena kita harus curiga pada semua hal, tapi karena menjaga lisan hari ini juga berarti menjaga jempol.

Sebelum share, cek. Sebelum marah, pastikan. Sebelum ikut menyebar, tanya sumbernya.

Kalau belum jelas, tahan dulu.

Kadang kebaikan bukan menjadi yang paling cepat menyebarkan kabar.

Tapi menjadi orang pertama yang berani berhenti dan berkata: “Ini benar nggak?”

Dulu, kesalahan mungkin hanya diketahui sedikit orang.Sekarang, satu dosa bisa punya penonton. Satu maksiat bisa direkam...
10/07/2026

Dulu, kesalahan mungkin hanya diketahui sedikit orang.

Sekarang, satu dosa bisa punya penonton. Satu maksiat bisa direkam. Satu aib bisa dibuat lucu-lucuan. Satu hal yang seharusnya ditutupi, malah dijadikan konten harian.

Masalahnya bukan cuma dosanya.

Tapi keberanian untuk mempertontonkannya.

Ketika dosa dijadikan tontonan, hati pelan-pelan kehilangan rasa malu. Yang salah terasa biasa. Yang harusnya disesali malah menjadi bahan engagement.

Islam tidak mengajarkan kita merasa suci. Semua manusia bisa salah. Tapi ketika salah, tutuplah, taubatlah, pulanglah.

Jangan malah mengundang banyak mata untuk ikut menyaksikan.

Karena jejak digital bisa hilang dari timeline, tapi belum tentu hilang dari catatan amal.

Jangan jadikan dosa konten harian.

Saat harga naik, hati sering ikut sempit.Belanja dapur terasa lebih berat. Uang keluar lebih cepat. Kebutuhan anak, cici...
09/07/2026

Saat harga naik, hati sering ikut sempit.

Belanja dapur terasa lebih berat. Uang keluar lebih cepat. Kebutuhan anak, cicilan, transport, makan, semua seperti minta dihitung ulang.

Tapi dalam masa sempit, yang pertama perlu diturunkan sering kali bukan iman, bukan sedekah, bukan rasa syukur.

Yang perlu diturunkan dulu adalah gengsi.

Gengsi makan di tempat tertentu. Gengsi membeli barang yang tidak perlu. Gengsi terlihat mampu. Gengsi ingin hidup seperti orang lain yang kita lihat di layar.

Islam tidak melarang menikmati rezeki. Tapi Islam mengajarkan batas.

Karena yang membuat hidup berat kadang bukan cuma harga yang naik, tapi keinginan yang tidak mau turun.

Kalau sedang sempit, hidup sederhana bukan kalah.

Itu cara menjaga hati tetap waras.

Dunia digital sering terasa ringan karena semua terjadi di layar.Akun bisa dibuat cepat. Konten bisa naik cepat. Data bi...
09/07/2026

Dunia digital sering terasa ringan karena semua terjadi di layar.

Akun bisa dibuat cepat. Konten bisa naik cepat. Data bisa dikumpulkan diam-diam. Aturan bisa dilompati dengan satu klik.

Tapi dalam Islam, amanah tidak hilang hanya karena bentuknya digital.

Platform punya amanah. Kreator punya amanah. Pelaku usaha punya amanah. Bahkan pengguna biasa pun punya tanggung jawab atas apa yang ia unggah, sebarkan, dan manfaatkan.

Kalau aturan dilanggar, yang rusak bukan cuma akun.

Bisa rusak kepercayaan. Bisa rusak keamanan anak. Bisa rusak hak orang lain. Bisa rusak ekosistem yang seharusnya dipakai untuk kebaikan.

Teknologi boleh makin canggih.

Tapi amanah tetap harus lebih tinggi dari sekadar pertumbuhan angka.

Zaman sekarang, kerja bisa terlihat seperti jalan-jalan. Bawa kamera, bikin konten, upload, lalu dapat kerja sama, barte...
09/07/2026

Zaman sekarang, kerja bisa terlihat seperti jalan-jalan. Bawa kamera, bikin konten, upload, lalu dapat kerja sama, barter, exposure, atau uang.

Kelihatannya santai. Tapi kalau ada nilai ekonomi, ada tanggung jawab di sana.

Dalam Islam, kerja bukan cuma soal hasil. Caranya juga harus jujur. Akadnya jelas. Izinnya tidak dimanipulasi. Aturannya tidak diakali hanya karena ingin konten cepat naik.

Viral itu boleh. Berkarya itu baik. Mencari rezeki lewat konten juga bisa halal.

Tapi jangan sampai demi terlihat kreatif, kita menipu aturan, menyembunyikan kerja sama, atau menganggap semua celah sebagai hal biasa.

Rezeki yang baik bukan cuma yang ramai dilihat.

Tapi juga yang datang dari jalan yang jujur.

Kita sering baru ingat air sebagai nikmat saat ia mulai sulit dicari.Selama lancar, air terasa biasa. Dipakai wudhu, min...
09/07/2026

Kita sering baru ingat air sebagai nikmat saat ia mulai sulit dicari.

Selama lancar, air terasa biasa. Dipakai wudhu, minum, masak, mandi, mencuci, menyiram. Semua berjalan begitu saja sampai suatu hari keran hanya menetes pelan, ember kosong, dan kita mulai menghitung setiap tetes.

Padahal dari dulu air adalah karunia besar.

Air yang membuat tubuh hidup. Air yang membersihkan najis. Air yang menemani ibadah. Air yang sering kita buang tanpa rasa bersalah.

Kekeringan seharusnya bukan cuma membuat kita panik, tapi juga membuat kita sadar: banyak nikmat baru terasa setelah hampir hilang.

Hemat air bukan hanya urusan tagihan. Ia juga bagian dari syukur.

Jangan tunggu susah air dulu baru merasa bahwa setiap tetes adalah rahmat.

Tidak semua curhat itu ghibah.Tapi banyak ghibah dimulai dengan kalimat, “Aku cuma mau curhat.”Di sinilah batasnya serin...
02/07/2026

Tidak semua curhat itu ghibah.

Tapi banyak ghibah dimulai dengan kalimat, “Aku cuma mau curhat.”

Di sinilah batasnya sering kabur.

Ada orang yang benar-benar butuh bantuan. Ia dizalimi, bingung, terluka, atau butuh nasihat. Dalam kondisi seperti itu, menceritakan masalah kepada orang yang tepat bisa menjadi bagian dari mencari solusi.

Misalnya kepada guru, orang tua, konselor, ustadz, pihak berwenang, atau teman yang benar-benar amanah.

Tapi ada juga yang sebenarnya bukan mencari solusi.

Hanya ingin melampiaskan emosi. Ingin orang lain membenci pihak yang sama. Ingin mendapat validasi. Ingin membuat aib seseorang berpindah dari satu mulut ke mulut lain.

Itu yang berbahaya.

Curhat yang sehat punya batas. Ia secukupnya. Ia punya tujuan. Ia memilih pendengar yang tepat. Ia tidak menambah-nambahi cerita. Ia tidak menikmati membongkar keburukan orang. Ia tidak berubah menjadi forum menghakimi.

Kalau tujuanmu mencari jalan keluar, sampaikan seperlunya.

Tidak semua detail harus diceritakan. Tidak semua aib harus dibuka. Tidak semua kesalahan orang lain perlu dijadikan bahan obrolan panjang.

Dalam pembahasan ulama, ghibah bisa dibolehkan dalam kondisi tertentu karena ada maslahat syar’i, seperti mengadukan kezaliman, meminta fatwa, memperingatkan dari bahaya, atau meminta bantuan mengubah kemungkaran.

Tapi pengecualian bukan pintu bebas membicarakan orang.

Ia tetap harus dijaga niat dan kadarnya.

Jadi sebelum curhat, tanya diri sendiri:

Aku sedang mencari solusi, atau sedang mencari pendukung untuk membenci?

Kalau benar mencari solusi, jaga lisan.

Kalau cuma ingin membuka aib, tahan dulu.

Address

Bandung Dua
24434

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Islam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Islam:

Shortcuts

Share