SDN 1 Nyukang HARJO

SDN 1 Nyukang HARJO

Share

untuk memajukan sekolah

Photos from SDN 1 Nyukang HARJO's post 13/01/2026

Semua pahlawan nasional kita

Photos from SDN 1 Nyukang HARJO's post 04/12/2025
Photos from SDN 1 Nyukang HARJO's post 04/12/2025

SENAM BEGUWAI JEJAMO WAWAI
DI NUO BALAK LAMPUNG TENGAH

13/11/2025
11/11/2025

mengingat masa lalu

07/11/2025

Kisah Nabi Nuh AS Lengkap dari Lahir hingga Wafat, Berikut Hikmah dan Mukjizatnya

Dalam sejarah kenabian, Nabi Nuh AS menempati posisi penting sebagai rasul pertama yang diutus kepada umat manusia untuk memperingatkan mereka dari kesesatan. Kisahnya tak hanya abadi dalam Al-Qur'an, tetapi juga dalam pelajaran moral bagi umat sepanjang zaman. Nama beliau disebut dalam banyak surah seperti al-A'raf (59-64), Hud (25-49), dan al-Mu'minun (23-30), menunjukkan pentingnya risalah yang dibawanya.

Dalam buku "Tafsir al-Jalalayn" dan karya-karya ulama seperti al-Suyuthi, disebutkan bahwa Nabi Nuh memiliki silsilah keturunan dari Nabi Idris dan Adam AS. Beliau juga dikenal karena ketabahannya dalam berdakwah selama 950 tahun, meski hanya sedikit pengikut yang menerima seruannya. Ujian berat ini tak menjadikannya lemah, justru menegaskan keteladanannya sebagai sosok sabar dan istiqamah.

Nama "Nuh" sendiri diambil dari kata kerja dalam bahasa Arab "nawaha" yang berarti meratapi atau menangisi. Julukan ini merujuk pada kebiasaannya meratapi kaumnya yang terus-menerus dalam kekafiran. Dalam berbagai literatur Islam seperti tafsir Shawi dan catatan al-Najjari, Nuh adalah tokoh sentral yang menjadi ayah bagi umat pasca banjir besar.

Kelahiran Nabi Nuh AS di Tengah Masyarakat Musyrik
Nabi Nuh AS merupakan keturunan dari Lamik bin Mutaushilkh bin Idris AS. Ia adalah generasi kesepuluh dari Nabi Adam AS, melalui jalur Nabi Idris AS. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Nabi Nuh lahir dalam keadaan telah dikhitan, suatu kemuliaan yang juga disebutkan dalam Tafsir al-Suyûthî.

Nabi Nuh lahir di lingkungan yang penuh dengan penyimpangan akidah. Masyarakat saat itu telah meninggalkan ajaran tauhid dan menyembah berhala, seperti Wadd, Suwâ’, Yaghûts, Ya’ûq, dan Nasr. Keadaan ini menandai awal zaman jahiliyah pasca Nabi Idris, hingga Allah SWT kemudian mengutus Nuh sebagai rasul untuk mengembalikan umat manusia kepada penyembahan Allah yang benar.

Pengangkatan sebagai Rasul dan Misi Dakwah

Allah mengangkat Nabi Nuh sebagai rasul pada usia sekitar 40 tahun. Ia termasuk salah satu dari lima nabi bergelar Ulul Azmi, yakni para nabi yang memiliki ketabahan luar biasa dalam menjalankan risalah, bersama Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW.

Misi utama Nabi Nuh adalah mengajak kaumnya kembali ke jalan Allah SWT. Ia berdakwah selama 950 tahun tanpa kenal lelah, sebagaimana disebut dalam QS Al-Ankabut ayat 14. Ia mengajak umatnya dengan berbagai metode: sembunyi-sembunyi, terang-terangan, siang maupun malam. Namun, hanya sedikit yang beriman.

Penolakan dari Kaum dan Keluarga Sendiri
Sebagian besar kaumnya menolak dakwah Nabi Nuh. Mereka mengejek dan menuduhnya gila. Bahkan, mereka berkata bahwa para pengikutnya hanyalah orang-orang lemah dan tak berpendidikan. Penolakan ini tidak hanya datang dari masyarakat luas, tetapi juga dari istri dan anaknya sendiri.

Istri Nabi Nuh, yang bernama Wâ’ilah (atau Wâ’ikah dalam beberapa riwayat), tidak mau mengikuti risalahnya. Demikian p**a putranya, Kan’an, memilih tetap bersama kaum kafir. Nabi Nuh tetap sabar menghadapi semua ujian ini dan terus mendoakan kaumnya.

Namun, karena melihat kebebalan yang sudah melampaui batas, akhirnya Nabi Nuh memohon kepada Allah:

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (QS. Nuh: 26)

Perintah Membangun Kapal dan Munculnya Azab
Sebagai jawaban atas doa Nabi Nuh, Allah memerintahkannya untuk membangun sebuah bahtera besar (kapal). Kapal ini dibangun di daratan tandus yang jauh dari laut. Hal ini menjadi bahan ejekan kaumnya, tetapi Nabi Nuh tetap melanjutkan pekerjaannya.

Menurut riwayat, beliau menanam pohon jati terlebih dahulu selama 20 tahun, lalu membangun kapal selama 80 tahun. Ukuran kapal tersebut sangat besar dan terdiri dari tiga tingkat: tingkat atas untuk manusia, tengah untuk hewan jinak, dan bawah untuk hewan liar.

Ketika kapal selesai, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membawa:

Semua pengikut yang beriman,
Sepasang hewan dari setiap jenis,
Persediaan makanan secukupnya.
Lalu datanglah azab berupa hujan deras yang turun dari langit dan mata air yang memancar dari bumi. Air bah melanda bumi selama 40 hari 40 malam, menenggelamkan seluruh kaum kafir.

Di tengah derasnya banjir, Nabi Nuh masih berharap anaknya Kan’an selamat. Ia berseru dari atas kapal:

“Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau berada bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud: 42)

Namun Kan’an menolak, ia berkata akan mencari perlindungan di atas gunung. Sayangnya, tak ada tempat yang mampu menyelamatkan selain rahmat Allah. Maka Kan’an pun tenggelam bersama kaum yang menolak risalah.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa hubungan darah tidak menjamin keselamatan iman. Hanya keimanan kepada Allah yang menjadi pembeda.

Setelah air bah mereda dan bumi menelan airnya, kapal Nabi Nuh akhirnya berlabuh di Gunung Judi, yang disebutkan dalam QS Hud ayat 44. Kapal tersebut membawa umat yang beriman ke tempat yang baru, sebuah titik awal peradaban pasca banjir.

Nabi Nuh dan para pengikutnya kemudian menjalani kehidupan baru dan memulai pembangunan masyarakat tauhid yang kembali bersih. Dari anak-anak Nabi Nuh yang beriman yang bernama Sâm, Hâm, dan Yâfits, lahirlah keturunan manusia yang menyebar ke berbagai belahan dunia.



4 dari 5 halaman
Wafatnya Nabi Nuh AS dan Warisannya
Nabi Nuh AS hidup sangat panjang. Ia wafat pada usia sekitar 950 tahun, sesuai yang disebutkan dalam Al-Qur’an (QS Al-Ankabut: 14). Beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau hidup total lebih dari 1.000 tahun, termasuk masa sebelum diangkat sebagai rasul.

Ia dimakamkan di tempat yang hingga kini masih diperdebatkan para ahli sejarah—sebagian menyebutkan di daerah Kufah (Irak), Syam (Suriah), bahkan Turki.

Hikmah Kisah Nabi Nuh AS
Kisah Nabi Nuh membawa banyak pelajaran penting:

Kesabaran dan Keteguhan: Dakwah tidak selalu diterima, tetapi tetap harus dilakukan.
Kebenaran tidak ditentukan jumlah: Meski hanya sedikit yang beriman, mereka itulah yang selamat.
Pentingnya iman, bukan hubungan darah: Anak dan istri Nabi pun tak selamat jika tidak beriman.
Janji Allah itu pasti: Banjir besar adalah bukti nyata azab bagi kaum yang durhaka.
Mukjizat Nabi Nuh AS
Mukjizat utama Nabi Nuh AS adalah:

Bahtera besar yang mampu menyelamatkan manusia dan hewan dari banjir besar atas izin Allah.
Ketahanan dakwah selama 950 tahun tanpa henti.
Doa yang mustajab, salah satunya saat ia berdoa memohon keselamatan dan azab untuk kaum yang ingkar (QS. Nuh: 26).
5 dari 5 halaman
FAQ Seputar Nabi Nuh
1. Berapa lama Nabi Nuh berdakwah?
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun kepada kaumnya (QS. Al-Ankabut: 14).

2. Siapa saja anak-anak Nabi Nuh?
Anak-anak beliau adalah Sam, Ham, Yafits, dan Kan’an. Kan’an termasuk anak yang menolak ajakan ayahnya dan tenggelam dalam banjir.

3. Apakah semua pengikut Nabi Nuh selamat dari banjir?
Ya, semua pengikut yang beriman serta hewan yang naik ke bahtera selamat, sedangkan kaum yang ingkar ditenggelamkan.

4. Apa pesan utama dari kisah Nabi Nuh?
Bahwa hidayah hanya milik Allah, dan kewajiban manusia adalah terus menyampaikan kebenaran dengan sabar.

5. Dimana kapal Nabi Nuh berlabuh?
Kapal Nabi Nuh berlabuh di Bukit Judi, menurut QS. Hud: 44 dan beberapa riwayat dari ulama tafsir.

Want your school to be the top-listed School/college in Bandar Lampung?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address


JL.Teladan No.1 Nyukang Harjo
Bandar Lampung
34176