Darul hidayah.

Darul hidayah.

Share

pendidikn diniah

Photos from Darul hidayah.'s post 16/10/2024

Silaturahmi di padepokan laskar gendeng nusantara OKI.

27/06/2024

KI AGENG SELO
LEGENDA “FLASH” TANAH JAWA

Saat dunia belum mengenal tokoh Superhero Amerika “Flash” dan Superhero lokal Indonesia Sang Putra Petir “Gundala” belum lahir ke dunia, ratusan tahun sebelumnya Indonesia sudah melahirkan tokoh hebat yang berhasil menangkap petir (bledeg). Beliau adalah Ki Ageng Selo. Berbeda dengan Flash dan Gundala yang tersambar petir (bledeg), Ki Ageng Selo malah berhasil menangkap petir (bledeg) yang bermaksud menyambarnya. Siapa Ki Ageng Selo silakan baca cerita dibawah ini.

SILSILAH & ASAL USUL KI AGENG SELO
Ki Ageng Selo memiliki nama kecil Bagus Songgom, beliau keturunan Ki Getas Pandawa anak dari Bondan Kejawan alias Dyah Lembu Peteng anak dari Prabu Kertabumi (Majapahit). Ki Ageng Selo kemudian memiliki anak laki-laki yang dikenal sebagai Ki Ageng Ngenis dengan enam kakak yang semuanya perempuan. Ki Ageng Ngenis memiliki anak yang dikenal sebagai Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan inilah yang membuka hutan Mataram , anak Ki Ageng Pemanahan bernama Danang Sutowijaya, dan Sutowijaya ini dikenal sebagai Panembahan Senopati pendiri Dinasti Mataram Islam.

Ki Ageng Selo hidup di masa Kesultanan Demak. Tepatnya pada masa kekuasaan Sultan Trenggana, awal abad ke-16. Dia lahir sekitar akhir abad-15 atau awal abad ke-16. Dinamakan Selo karena desa tempatnya tinggal bernama desa Selo. Nama Selo berkaitan dengan keberadaan bukit/gunung berapi, dan merupakan sumber banyak garam dan api abadi yang terdapat dari wilayah Grobogan. Di desa tersebut juga Ki Ageng Selo meninggal dan dimakamkan.

LEGENDA KI AGENG SELO MENANGKAP PETIR
Ki Ageng Selo dikenal sebagai sang penakluk petir. Kisah tersebut bermula saat Ki Ageng Selo membuka ladang. Kemudian tiba-tiba langit menjadi mendung dan mulai turun hujan, seketika itu datang petir dan kilat yang menyambar-nyambar, sehingga mengganggu kegiatan pertaniannya. Terganggu dengan hal tersebut, Ki Ageng Selo menantang petir yang berusaha mengganggunya untuk menampakkan wujudnya.

Tak lama kemudian petir tersebut berubah menjadi naga dan berubah wujud berkali-kali menjadi makhluk mengerikan. Ki Ageng Selo yang merasa kesal karena dirinya diganggu oleh makhluk tersebut maka terjadi perkelahian antara keduanya diiringi petir yang menggelegar. Pada akhirnya, Ki Ageng Selo berhasil mengalahkan makhluk tersebut dan mengikatnya di sebuah pohon Gandrik dan makhluk tersebut berubah menjadi kakek tua.

Ki Ageng Selo pun membawa kakek tua yang terus berubah-ubah wujud tersebut ke Demak untuk dilaporkan kepada sultan. Di Demak, datanglah seorang nenek yang menyiramkan air ke tubuh kakek tersebut. Lalu, suara petir menggelegar, mendadak kakek dan nenek tersebut menghilang.

Kisah tersebutlah yang membuat Ki Ageng Selo dikenal luas sebagai sang penakluk petir. Kisah Ki Ageng Selo menaklukkan petir diabadikan dalam ukiran pada lawang bledheg atau pintu Masjid Agung Demak. Sampai sekarang, pintu tersebut masih dapat disaksikan. Ukiran pada daun pintu tersebut memperhatikan motif tumbuh-tumbuhan, suluran, jambangan, mahkota mirip stupa, tumpal, camara dan dua kepala naga yang menyemburkan api.

Demikianlah sekilas kisah legenda Ki Ageng Selo leluhur Mataram Islam. Terima kasih sudah membaca.

Sumber : jateng.solopos, Babad Tanah Jawi, Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius, H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Photos from Darul hidayah.'s post 26/02/2024

Haul KH Ikhwanul faruQ yg ke 3

12/01/2024

TUJUH 7 MAUIDHOH MBAH YAI MAHRUS ALI LIRBOYO :

1. Orang berumah tangga kalau ingin sukses itu kuncinya menghormati istri.

2. Orang kalau Ingin hidup mulia hormati orang tua, khususnya ibu.

3. Ingat kalau kamu jadi pemimpin, Tolong hindari 2 masalah:

Pertama, jangan sampai kamu mata duitan.
Kedua, jangan sampai kamu tergoda perempuan. Kalau bisa bertahan dari dua hal ini insyaallah kamu bakal selamat.

4. Nabi Sulaiman itu sukses dalam 90 th dan Nabi Nuh sukses dalam waktu 900 th. Tetapi di dalam Al-Qur'an yang disebut ulul 'azmi adalah Nabi Nuh. Ini menunjukan perjuangan dilihat dari kesulitan, bukan dari jumlah murid.

5. Orang yang mempunyai ilmu sambil di riyadlohi dengan yang tidak di riyadlohi itu hasilnya beda. Riyadlohi yang paling utama adalah istiqomah.

6. Saya dulu waktu di pondok tidak pernah membayangkan akan jadi kyai, tidak pernah membayangkan akan menjadi orang kaya. Akhirnya menjadi orang mulia seperti ini saya takut. Jangan-jangan bagian saya ini saja, Diakhirat tidak dapat bagian apa-apa.

7. Ngajarlah Ngaji!!! Kalau nanti kamu tidak bisa makan, ketho'en kupingku.

Wallahu a'lam.

Alfatihah...

29/11/2023

𝗡𝗮𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝗕𝗲𝗿𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗞𝗛𝗥. 𝗔𝘀'𝗮𝗱 𝗦𝘆𝗮𝗺𝘀𝘂𝗹 𝗔𝗿𝗶𝗳𝗶𝗻 𝗕𝘂𝗮𝘁 𝗠𝘂𝗿𝗶𝗱 𝗱𝗮𝗻 𝗚𝘂𝗿𝘂

“Kalau ente tanya, siapa yang paling berpengaruh di antara guru-guru besar yang telah menempa saya. Wah, sulit bagi saya untuk membedakan. Sebab semua berpengaruh di bidangnya masing-masing," tutur KH. As’ad Syamsul Arifin dalam Memoar Tempo edisi 2 September 1989.

Kalau ente tanya," lanjut Kiai As'ad, "berapa puluh kitab yang saya pelajari di pondok ketika itu. Saya juga sulit menjawabnya. Tapi yang jelas, kitab-kitab yang pernah saya pelajari itu, serasa masih melekat dalam pikiran saya.”

Pernyataan Kiai As’ad tersebut, jika kita merujuk kepada tulisan KH Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua LBM PBNU, yang berjudul “Nasab Ilmu KHR As’ad Syamsul Arifin”, di situ bisa dilihat betapa Kiai As’ad belajar kepada banyak guru dan mempelajari banyak kitab.

Di akhir tulisannya, Kiai Moqsid bahkan memberikan sebuah penegasan penting: “Sanad ilmu melalui KHR As’ad Syamsul Arifin adalah sanad yang tinggi, lewat jalur ulama-ulama besar yang terhubung hingga ke Rasulullah SAW.”

Meski telah belajar kepada banyak guru besar, namun Kiai As’ad tak mau membandingan satu sama lain di antara guru-guru beliau itu. Sebab, guru memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Guru merupakan motivator terbaik yang harus dijunjung tinggi.

Memandang guru dengan pandangan bahwa masing-masing guru adalah sosok yang harus dimuliakan dan dihormati dengan keyakinan bahwa tiap guru memiliki derajat yang tinggi itu penting dan perlu. Semua itu tak lain agar kita memperoleh keberkahan dari masing-masing guru.

Dengan demikian, tak membedakan antara satu guru dengan guru yang lainnya, sebagaimana dituturkan oleh Kiai As’ad, merupakan salah satu adab utama murid terhadap guru yang perlu kita terapkan di dalam menuntut ilmu.

Nah, selain adab murid tehadap guru, Kiai As’ad juga memberikan nasehat bijaknya yang ditujukan khusus kepada para pengajar dan pendidik agar teguh dan lurus pada niat utama.

“Guru yang mengajar, niatkan; Pertama, untuk menyebarkan ilmu. Kedua, kalau ada gajinya, diterima. Niatkan nafkah untuk dirinya dan keluarganya. Awas, jangan dibalik, yang pertama jadi yang kedua!!”

Menyebarkan ilmu selain merupakan upaya dakwah, sejatinya adalah usaha untuk membantu orang lain. Orang yang sudah tahu membantu kepada orang yang sementara belum tahu. Jadi spiritnya adalah memberikan kemanfaatan untuk orang lain serta bekerjasama dalam kebajikan dan takwa.

Jika kita telaah secara lebih jernih, petuah bijak Kiai As’ad sebenarnya adalah pedoman indah untuk semua profesi, tak harus guru. Bisa kita bayangkan jika semua profesi diniatkan: membantu orang lain.

Dengan membantu orang lain, kita telah berbuat baik kepada diri sendiri, sekaligus menjaga spirit kemanusiaan. Dengan menolong orang lain berarti kita selalu mengasah rasa kemanusiaan kita agar tidak tumpul, menjaga agar diri kita tidak semakin tertimbun oleh debu.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Alfakir,

Ahmad Jauhari,
𝘢𝘭𝘶𝘮𝘯𝘶𝘴 𝘗𝘰𝘯𝘥𝘰𝘬 𝘗𝘦𝘴𝘢𝘯𝘵𝘳𝘦𝘯 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘧𝘪𝘺𝘢𝘩 𝘚𝘺𝘢𝘧𝘪'𝘪𝘺𝘢𝘩, 𝘚𝘶𝘬𝘰𝘳𝘦𝘫𝘰, 𝘚𝘪𝘵𝘶𝘣𝘰𝘯𝘥𝘰.




Photos from Darul hidayah.'s post 13/09/2023
26/07/2023

JANGAN VONIS BID'AH/SYIRIK SHOLAWAT NARIYAH KALAU TIDAK PUNYA ILMUNYA🙏

Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah alias bid’ah. Sebagian yang lain mengahakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah.❤️🌺🌺

Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. Yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian? Kita simak dulu redaksi shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut:
اَللّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
Perhatian para penuduh shalat Nariyah mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada empat kalimat berurutan di bawah ini:
تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ
Kalimat-kalimat itu pun dirinci lalu diterjemahkan begini:
تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ
Artinya: "Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad."
وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ
Artinya: "Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad."
وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ
Artinya: "Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad."
وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ
Artinya: "Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad."

Menurut para penuduh itu, empat kalimat tersebut sarat kesyirikan karena secara terjemahan mengandung pengakuan bahwa Nabi Muhammad memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Allah, seperti bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah. Bantahan dari Ilmu Sharaf dan Nahwu Dasar Shalawat Nariyah atau disebut juga shalawat Tâziyah atau shalawat Tafrîjiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali M***i Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko. Jika shalawat Nariyah dianggap syirik, ada beberapa kemungkinan. Pertama, para ulama pengamal shalawat itu tak mengerti tentang prinsip-prinsip tauhid. Ini tentu mustahil karena mereka besar justru karena keteguhan dan keluasan ilmu mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam. Kedua, pengarang shalawat Nariyah, termasuk para pengikutnya, ceroboh dalam mencermati redaksi tersebut sehingga terjerumus kepada kesyirikan. Kemungkinan ini juga sangat kecil karena persoalan bahasa adalah perkara teknis yang tentu sudah dikuasai oleh mereka yang sudah menyandang reputasi kelilmuan dan karya yang tak biasa. Ketiga, para penuduhlah yang justru ceroboh dalam menghakimi, tanpa mencermati secara seksama dalil shalawat secara umum, termasuk juga aspek redaksional dari shalawat Nariyah. Dilihat dari segi ilmu nahwu, empat kalimat di atas merupakan shilah dari kata sambung (isim maushul) الذي yang berposisi sebagai na‘at atau menyifati kata محمّد. Untuk menjernihkan persoalan, mari kita cermati satu per satu kalimat tersebut.
تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ
Pertama, تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ . Dalam kacamata ilmu sharaf, kata تَنْحَلُّ merupakan fi’il mudlari‘ dari kata انْحَلَّ. Bentuk ini mengikuti wazan انْفَعَلَ yang memiliki fungsi/faedah لمُطَاوَعَةِ فَعَلَ (dampak dari فَعَلَ). Demikian penjelasan yang kita dapatkan bila kita membuka kitab sharaf dasar, al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah, karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali.
Contoh: كَسَرْتُ الزُّجَاجَ فَانْكَسَرَ “Saya memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu.” Dengan bahasa lain, kaca itu pecah (انْكَسَر) karena dampak dari tindakan subjek “saya” yang memecahkan. Contoh lain: حَلّ اللهُ العُقَدَ فَانْحَلَّتْ “Allah telah melepas beberapa ikatan (kesulitan) maka lepaslah ikatan itu.” Dengan bahasa lain, ikatan-ikatan itu lepas karena Allahlah yang melepaskannya. Di sini kita mencermati bahwa wazan انْفَعَلَ mengandaikan adanya “pelaku tersembunyi” karena ia sekadar ekspresi dampak atau akibat dari pekerjaan sebelumnya. Kalau تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ dimaknai bahwa secara mutlak Nabi Muhammad melepas ikatan-ikatan itu tentu adalah kesimp**an yang keliru, karena tambahan bihi di sini menunjukkan pengertian perantara (wasilah). Pelaku tersembunyinya (dan hakikinya) tetaplah Allah—sebagaimana faedah لمُطَاوَعَةِ فَعَلَ. Hal ini mengingatkan kita pada kalimat doa:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah ikatan/kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”
Kedua, تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ Senada dengan penjelasan di atas, تَنْفَرِجُ merupakan fi’il mudlari‘ dari kata انْفَرَجَ, yang juga mengikuti wazan انْفَعَلَ. Faedahnya pun sama لمُطَاوَعَةِ فَعَلَ (dampak dari فَعَلَ). Ketika dikatakan تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ maka dapat diandaikan bahwa فَرَجَ اللهُ الكُرَبَ فَانْفَرَجَ. Dengan demikian, Allah-lah yang membuka atau menyingkap bencana/kesusahan, bukan Nabi Muhammad. Ketiga, تُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ Kata تُقْضَى adalah fi’il mudlari‘ dalam bentuk pasif (mabni majhûl). Dalam ilmu nahwu, fi’il mabni majhul tak menyebutkan fa’il karena dianggap sudah diketahui atau sengaja disembunyikan. Kata الْحَوَائِجُ menjadi naibul fa’il (pengganti fa’il). Ini mirip ketika kita mengatakan “anjing dipukul” maka kita bisa mengandaikan adanya pelaku pemukulan yang sedang disamarkan. Dengan demikian kita bisa mengandaikan kalimat lebih lengkap dari susunan tersebut.
يَقْضِي اللهُ الْحَوَائِجَ
Allah akan mengabulkan kebutuhan2.
Keempat, تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ Penjelasan ini juga nyaris sama dengan kasus تُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ. Singkatnya, Nabi Muhammad bukan secara mutlak memiliki kemampuan memberikan keinginan-keinginan karena Allah-lah yang melakukan hal itu yang dalam kalimat tersebut disembunyikan. Fa’il tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui. Alhasil, dapat dipahami bahwa tuduhan syirik atas kalimat-kalimat itu sesungguhnya keliru. Sebab, kemampuan melepas kesulitan, menghilangkan bencana/kesusahan, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan-keinginan secara mutlak hanya dimiliki Allah. Dan ini p**a yang dimaksudkan pengarang shalawat Nariyah, dengan susunan redaksi shalawat yang tidak sembrono. Hanya saja, dalam redaksi shalawat Nariyah tersebut diimbuhkan kata bihi yang berarti melalui perantara Rasulullah, sebagai bentuk tawassul. Bahasa Arab dan bahasa Indonesia memang memiliki logika khas masing-masing. Karena itu analisa redaksi Arab tanpa meneliti struktur bakunya bisa menjerumuskan kepada pemahaman yang keliru. Lebih terjerumus lagi, bila seseorang membuat telaah, apalagi penilaian, hanya dengan modal teks terjemahan. 💐🌺🌺
Wallahu a’lam.

26/07/2023

FILSAFAT GUS DUR

1. “Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran.”

2. “Tidak penting apapun agama atau sukumu.
Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak tanya apa agamamu.”

3. “Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi toleransinya.”

4. “Agama mengajarkan pesan-pesan damai. Tapi ekstrimis memutar balikannya.
Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah.”

5. “Perbedaan itu fitrah.
Dan ia harus diletakkan dalam prinsip kemanusiaan universal.”

6. “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.”

7. “Esensi Islam tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, melainkan pada akhlak yang dilaksanakan.”

8. “Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, maka kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah.”

9. “Sebenar apapun tingkahmu, sebaik apapun perilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.”

10. “Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah.”

11. “Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah Maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.”

12. “Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan, Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga.”

13. “Kepemimpian yg baik dapat membawa hasil yang baik tanpa banyak menumpahkan darah.”

14. “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian.”

15. “Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.”.

26/07/2023

Fakta Karomah Wali Qutub Abuya Dimyati Cidahu Pandeglang Banten.

Abuya Dimyati Cidahu, Pandeglang-Banten. Sosok Ulama Kharismatik sekaligus paku tanah Banten pada masanya. Guru besar mayoritas ulama Banten yang satu ini, selain terkenal dengan ilmu agamanya yang tinggi, Beliau juga dikenal memiliki karomah kesaktian yang sangat luar biasa. Tak heran, jika semasa hidupnya Beliau sangat tersohor hingga penjuru dunia, bahkan namanya dikenang serta ditulis dengan tinta emas oleh sejarah hingga saat ini.

Beliau adalah sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalani perintah agama. Beliau tak hanya praktek dalam ilmu syariat, namun juga setiap hembus nafasnya selalu diisi dengan kehidupan tasawwuf. Tak heran, jika Beliau dikaruniai Karomah oleh Allah sebagai tanda kewaliannya, sehingga memperoleh derajat yang tinggi disisi Allah SWT. Bahkan para ulama mengatakan bahwa Abuya Dimyati adalah sosok Wali Qutub atau pemimpin para wali pada masanya. Berikut beberapa karomah waliyullah Abuya Dimyati Cidahu Pandeglang Banten :

1. Menghentikan dan menundukkan waktu
2. Menembus ruang dan waktu
3. Peristiwa aneh menimpa rezim orde baru
4. Memperoleh ijazah semua hizb dan kitab

Demikian sederet karomah Abuya Dimyati Cidahu Pandeglang Banten. Sosok ulama yang begitu zuhud dalam menjalani kehidupan. Beliau membuat orang yang melihatnya lupa akan segala gemerlap duniawi. Mari bersama sama kita bacakan surat Al Fatihah yang dikhususkan kepada Abuya Muhammad Dimyati bin Abuya Muhammad Amin. Semoga kiya semua diakui sebagai murid Beliau, hingga kelak Allah kumpulkan kita bersama Beliau di surgaNYA... Aamiin.

Sumber : Ceramah Gus Fuad, Bangkit Media, Historia. id, ceramah KH. Jamaluddin

Photos from Teladan Rosul's post 31/05/2023
Want your school to be the top-listed School/college in Bandar?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Mekarsari Mesuji
Bandar