11/09/2021
Orang Muda Dalam Bingkai Demokrasi
(catatan refleksi krisis kasus penembakan aktivis kyal sin di Myanmar)
Angin pantai masih menepuk nepuk pelipis mengeringkan air mata yang jatuh. Lambaian pepohonan dan nyiur di pantai tengah mengibarkan dedaunannya. Ada yang terjatuh dengan tenang,ada yang sibuk bersembunyi di antara ketiak,ranting,ada yang menggantungkan hidup pada tubuh pohon tanpa tahu ada akar yang membuatnya bergerak dengan caranya tersendiri. Sementara kabar yang tersiar datang dari segalah arah dengan tema berita yang sama. Aku mengamati sambil mencermati isi media yang berbicara tentang kyal sin seorang perempuan yang tewas akibat tembakan peluru tepat kepalanya,insiden ini terjadi saat dia berusaha menerobos asap gas air mata untuk membuka keran air untuk membasuh mata yang perih. Tragis benar ketika nyawanya tak bisa tertolong,namun akhirnya membuahkan semangat baru dari perjuangan sang martir ia demokrasi.
Berbicara demokrasi sudah menjadi fenomena klasik yang terjadi dari masa ke masa. Sebagai manusia kita memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi,menyalurkan kritikan,patut mencurigai dan meminta transparansi serta klarifikasi atas kebijakan. Sebagaimana yang termaktub dalam amanah UUD 1945 serta nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila,demokrasi menjadi ruang bagi orang muda untuk merespon berbagai komplikasi yang terjadi sebagai akibat atau implikasi dari kebijakan itu sendiri. Namun dalam proses berjalanya demokrasi,kebebasan itu di pasung dalam ancaman entah itu intimidasi ,penangkapan dan di bekuk bahkan dipenjarakan. Sungguh ini membuat pertanyaan pertanyaan melompat dari isi kepala yang belepotan ini, "mengapa orang orang kritis yang punya jiwa kemanusiaan selalu berakhir dengan kematian,dipenjara,dibungkam bahkan diasingkan ? "Apa yang membuat orang-orang tertentu merasa pantas bahwa mereka ini harus di tangkap? Padahal orang-orang baik ini mempunyai tujuan yang baik untuk kejayaan bangsa kita.
Sekian dulu