Darfadz Sultan Bayezid

Darfadz Sultan Bayezid Rumah Qur'an dan Tahfidz Darul Huffadz (Darfadz)Sultan Bayezid Mendididik Generasi Qur'ani Sejak Dini

07/02/2026

QUIZ TIME

Darfadz Sultan Bayezid, Km. 25 Balam

Alhamdullah, usai bagi rapot semester genap hari ini di Darfadz. Barokallah anak-anak shalih dan shalihah Ustadzah... Pe...
20/06/2025

Alhamdullah, usai bagi rapot semester genap hari ini di Darfadz. Barokallah anak-anak shalih dan shalihah Ustadzah... Peluk sayang semuanyaaa.... 🤗

Jum'at Berkah, 20 Juni 2025



*Anakku, Curhatlah, Nak!*Oleh : Naila ZayyanAnak adalah amanah orang tua yang harus dijaga. Bagi keluarga muslim, peran ...
25/07/2024

*Anakku, Curhatlah, Nak!*
Oleh : Naila Zayyan

Anak adalah amanah orang tua yang harus dijaga. Bagi keluarga muslim, peran orang tua di rumah sangat penting dalam memenuhi kebutuhan anak, yaitu sandang, pangan, dan papan yang layak. Juga mendidik anak sesuai fitrah Islam, melindungi anak dari segala hal yang berpotensi membahayakan anak (fisik maupun psikis), mendisiplinkan anak khususnya terhadap aturan syariat Islam, menjadi guru dan role model bagi anak, serta menjadi sahabat anak.

Pada tulisan kali ini kita akan memfokuskan pembahasan pada cara orang tua menjadi sahabat terbaik bagi anak.

Manusia memiliki potensi kehidupan berupa naluri berkasih sayang (gharizah an-nau‘) yang bentuk ekspresinya secara umum, yaitu anak menyayangi saudaranya, keluarga, sahabat, dan lainnya. Adapun ekspresi naluri berkasih sayang secara khusus adalah munculnya rasa s**a (cenderung/muyul) kepada teman lawan jenisnya.

Bagaimana supaya kita sebagai orang tua bisa menjadi sahabat bagi anak sehingga tidak ada jarak yang terlalu jauh antara kita dengan anak? Bagaimana agar kita bisa menjadi tempat utama curhat anak menumpahkan segala rasa dan pemikiran mereka? Bagaimana cara membuang rasa canggung, baik orang tua kepada anak atau sebaliknya?

Berikut beberapa hal yang orang tua perlu coba lakukan dan perhatikan:

Pertama, jangan bersikap seperti komandan, meskipun kita lebih tua. Tanpa disadari oleh orang tua, ketika ada keinginan orang tua kepada anak, terkadang disampaikan dengan nada perintah. Hal ini bisa membuat hubungan anak-orang tua semakin renggang dan kaku. Biasakan menggunakan kata “tolong” ketika orang tua menginginkan anak untuk melakukan sesuatu, baik untuk kepentingan orang tua maupun anak.

Kedua, jadilah pendengar dan penyimak yang selesai. Artinya, ketika anak ingin meluapkan isi hatinya, maka cobalah untuk meluangkan waktu hingga mereka betul-betul telah mengungkapkan semuanya, jangan memutus pembicaraan mereka.

Saat mendengarkan keluh-kesahnya, lepaskan apa pun yang kita pegang, khususnya gadget. Upayakan untuk memandang wajahnya sehingga anak merasa diperhatikan 100%, bukan dengan mendengarkan curhatan anak sambil main/pegang gadget.

Ketiga, buat anak merasa dicintai. Hal ini bisa kita lakukan dengan kontak fisik dengan mereka, yaitu untuk anak laki-laki sering tepuk bahunya untuk menambah rasa wibawa dan memimpin, sedangkan untuk anak perempuan sering usap punggungnya. Cara lain agar anak merasa dicintai adalah dengan mengucapkan langsung bahwa kita menyayangi mereka.

Keempat, upayakan memenuhi kebutuhan tiap anak secara personal agar merasa diperhatikan. Jika memungkinkan, ajak sesekali meluangkan waktu untuk jalan-jalan, belanja, atau yang lain berdua saja dengan masing-masing anak secara privat. Hal ini bisa menjaga kedekatan orang tua langsung kepada semua anak sehingga tidak ada rasa canggung.

Kelima, tetap tanamkan rasa hormat anak kepada orang tua dengan tidak mengungkapkan semua kejelekan kita atau pasangan kita di hadapan anak. Kewibawaan orang tua tetap harus dijaga meskipun kita dekat dengan anak supaya kita tetap menjadi sosok teladan bagi anak. Jika perlu, justru sampaikan kelebihan suami atau istri kita kepada anak sehingga orang tua tetap menjadi sosok panutan bagi anak.

Keenam, jangan lupa doakan seluruh anggota keluarga supaya selalu dijaga oleh Allah Swt. dan terbebas dari segala bentuk marabahaya. Bagaimanapun, kita tidak bersama dengan anak selama 24 jam. Apalagi lingkungan pergaulan anak saat ini semakin bebas dan anak butuh sekali pengarahan dari orang tua.

Oleh karena itu, mintalah selalu penjagaan Allah Swt. yang paripurna, kapan pun dan di mana pun. Jika perlu, berdoalah di hadapan anak sampai mendengar doa-doa kita untuk mereka. Dengan begitu, mereka akan merasa lebih diperhatikan.

Semoga berbagai upaya ini bisa memperbaiki hubungan kita dengan anak dan menjadikan kita sahabat dan tempat curhat terbaik mereka. Wallahualam. [MNews]
-------------

Hari ini, HP ini tampaknya jauh lebih menarik daripada membacakan cerita untuk si kecilHari ini, HP ini tampaknya lebih ...
25/07/2024

Hari ini, HP ini tampaknya jauh lebih menarik daripada membacakan cerita untuk si kecil
Hari ini, HP ini tampaknya lebih menarik daripada menghabiskan waktu bersama suami/istri Anda.
tapi besok ketika kita melihat ke belakang, kita akan memiliki sedikit kenangan untuk dikenang...
Dan betapa buruknya kita ingin kembali ke masa lalu dan merasakan setiap momen lagi..
Maka, berikan waktu terbaik untuk anak, letakkan sejenak HP untuk bisa membersamainya.

25/07/2024

Darul Huffadz
Rabu, 24 Juli 2024

Balam, Rokan Hilir



*Mendidik Anak Tanpa Amarah*Oleh : Arum IndahMendidik anak tanpa amarah, tampaknya mustahil, tapi bukan berarti tak mung...
14/06/2024

*Mendidik Anak Tanpa Amarah*
Oleh : Arum Indah

Mendidik anak tanpa amarah, tampaknya mustahil, tapi bukan berarti tak mungkin. Pernahkah merasa kesal kepada anak? Saat apa yang kita katakan, mereka abaikan. Saat segala nasihat yang disampaikan, tak mereka dengarkan. Atau saat kita sudah lelah dengan segunung aktivitas harian, lalu anak datang menghampiri dengan segala kerewelannya. Tanpa sadar, kadang kekesalan, kegusaran, dan kelelahan itu memantik amarah yang siap diledakkan di hadapan anak. Terkadang tanpa sengaja, gertakan, makian, atau bahkan pukulan sering mendarat di tubuh anak. Luka secara fisik mungkin tak seberapa, tapi batin anak diam memendam luka.

Aktivitas mendidik anak memang bukan perkara yang sepele, ini adalah aktivitas yang penuh dengan tantangan dan tanggung jawab. Bagaimana perlakuan kita kepada anak, kelak saat mereka bergelar orang tua, mereka akan meniru cara didikan kita. Saat nanti di hari penghisaban, Allah juga akan meminta pertanggungjawaban tentang bagaimana kita mendidik anak.

Aktivitas mendidik anak, bukan p**a perkara yang mudah, tapi juga bukan perkara yang sangat sulit. Semuanya bisa dicukupi dengan ilmu. Ilmu akan membuat kita paham bagaimana memperlakukan anak dengan tepat yang sesuai usia dan perkembangannya.

Selain butuh ilmu, orang tua juga harus membekali dirinya dengan sabar dan istikamah. Mengapa sabar dan istikamah? Ya, tingkah polah anak yang sering di luar ekspektasi dan di luar kendali, membuat kita harus memiliki dua ilmu itu. Sabar menghadapi sikap dan berbagai polah anak serta istikamah untuk terus bersabar menjalani semuanya.

Dunia anak dan dunia kita jauh berbeda. Dunia orang tua penuh dengan serentetan aktivitas yang menunggu untuk segera diselesaikan, sedangkan dunia anak hanyalah bermain, bermain, dan bermain. Orang tua dituntut untuk bisa kreatif memberikan ilmu dan pengetahuan kepada anak lewat belajar sambil bermain.

Stok sabar yang harus kita miliki, bukan main-main. Jika tempat yang paling luas di dunia ini adalah samudra, maka kesabaran kita juga harus seluas samudra. Jika jalan paling panjang adalah usia kita, maka kita harus istikamah sepanjang usia itu.

Orang Tua Wajib Mendidik Anak

Mendidik adalah aktivitas memelihara dan memberikan latihan (ajaran, tuntutan dan pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan berpikir. Secara harfiah, mendidik berarti menolong, membuka jalan, dan memudahkan terjadinya perubahan-perubahan dalam tingkah laku anak agar sesuai dengan apa yang diharapkan.

Seorang bayi yang baru terlahir ke dunia, hanya memiliki sejumlah cara untuk merespons perlakuan orang. Seiring bertambahnya usia, mereka butuh banyak didikan agar mengerti tentang tujuan hidup. Di sinilah peran besar orang tua sangat dibutuhkan. Rasulullah saw. bersabda:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang membuatnya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas mengindikasikan adanya tuntutan yang besar terhadap kedua orang tua dalam mendidik anak. Orang tua adalah institusi pendidikan pertama yang akan memberikan warna dalam hidup anak, apakah putih, hitam, atau warna-warni. Anak ibarat secarik kertas kosong yang siap dilukis apa pun oleh orang tuanya.

Anak akan banyak menyerap informasi, baik dalam bentuk perkataan, sikap, dan perbuatan. Anak yang masih lugu akan banyak meniru bagaimana orang tuanya bertutur kata dan berbuat. Mereka adalah peniru ulung, tepatlah jika ada ungkapan yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Oleh karenanya, orang tua harus berhati-hati dalam bertindak dan bersikap.

Allah Swt. telah menegaskan kewajiban orang tua dalam mendidik anaknya dalam surah At-Tahrim ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
Artinya: “Hai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Penjagaan terhadap api neraka adalah dengan mengerjakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, orang tua wajib mendidik anak mereka dengan Islam. Mereka wajib mengajari anak-anaknya untuk mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya.

Saat Amarah Menguasai

Amarah lahir dari ghorizatun baqa’ (naluri mempertahankan diri) yang ada dalam diri manusia. Meski demikian, amarah lebih baik dihindari dan dijauhi. Rasulullah bersabda:

Dari Abu Darda’, ia berkata : Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepada saya atas suatu amal yang bisa memasukkan saya ke surga,” Rasul menjawab, ”Jangan marah, maka bagimu surga,” (HR. Thabrani)

Begitu luar biasanya amarah, hingga saat kita berhasil menahannya, maka dijanjikan surga. Ada kalanya saat orang tua mendidik anak, ada rasa kesal dan lelah yang berujung pada amarah. Saat ini terjadi, segeralah redam amarah dengan cara duduk, berbaring, atau berwudu.

Pada hakikatnya mendidik anak harus dengan kasih sayang dan kesabaran. Jika kita mendidik mereka dengan amarah, tujuan pendidikan yang diperintahkan Allah tidak akan tercapai karena metode yang salah. Secara fitrah, anak-anak sangat tidak s**a jika dimarahi.

Amarah yang sering diluapkan ke anak, juga akan membuat anak tidak nyaman dan merasa terasing berada di tengah-tengah keluarganya. Jika ini terjadi, maka anak bisa memendam luka pengasuhan yang akan berefek negatif pada hidupnya nanti atau anak akan mencari tempat dan pergaulan lain di luar rumah yang membuatnya bisa lebih nyaman. Padahal kita tahu, pergaulan di luaran, sangat bebas dan mengerikan.

Anak adalah Kunci Kebahagiaan

Kehadiran anak dalam sebuah keluarga memberikan kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan makin lengkap saat tangisan pertama mereka hadir di tengah keluarga. Demi anak, orang tua rela melakukan apa saja, walau harus menguras harta dan tenaga. Anak adalah harta paling berharga yang dimiliki orang tua, mereka adalah penerus keturunan, pelanjut cita-cita, penghibur jiwa, pengusir sepi, tempat bergantung di masa tua, alasan untuk bertahan, dan berbagai alasan lain yang menjadikan pentingnya kehadiran anak.

Namun, kebahagiaan ini bisa sirna tatkala orang tua memiliki pola asuh yang salah. Anak yang dididik dengan mengutamakan kehidupan dunia dan materi adalah awal mula segala permasalahan akan terjadi, banyak sekali kita temui hari ini, seorang anak yang lebih mementingkan harta duniawi daripada orang tua.

Jika anak dididik dengan landasan keimanan kepada Allah, Insyaallah mereka akan tumbuh di jalan yang benar dan iman yang kuat, kelak mereka akan menjadi perhiasan indah yang menyejukkan mata dan hati kedua orang tuanya.

Apalagi saat kita istikamah mendidik anak dengan nilai-nilai Islam dan penuh kesabaran, tentu hasilnya akan jauh lebih maksimal. Anak-anak pun akan merasa senang saat belajar memahami hukum-hukum Allah.

Tip Mendidik Anak Tanpa Amarah

Beberapa tip yang bisa dilakukan agar bisa mendidik anak tanpa amarah, di antaranya:
Sering memberi pujian pada anak. Pujian memiliki kekuatan untuk memberikan kesan kasih sayang terhadap anak. Apa pun yang dilakukan anak. Jika itu benar, maka pujilah atas sikap mereka. Jika itu salah, tetap pujilah mereka karena telah berusaha, dan beri tahu bagaimana yang benar dengan penuh kelembutan. Rasulullah sendiri telah mengajarkan bahwa memuji itu penting. Dengan pujian, motivasi dan semangat anak akan meningkat dan tentu berpengaruh baik bagi psikologisnya.

Menyadari bahwa anak adalah amanah. Anak adalah titipan dari Allah yang kelak akan ditanya bagaimana kita memperlakukan mereka. Apakah kita telah memperlakukan mereka dengan penuh kebaikan atau justru malah menyia-nyiakan mereka.

Pahami bahwa mendidik anak adalah ibadah. Yakinlah bahwa setiap usaha kita untuk mendidik anak, akan dicatat oleh Allah sebagai pahala yang akan menghantarkan kita ke surga.

Senantiasa menambah ilmu. Carilah ilmu parenting tentang bagaimana mendidik anak atau menghadapi anak dalam segala situasi. Dengan ilmu, segalanya akan jauh lebih mudah. Jika kurang dalam berilmu, biasanya emosi yang lebih mendominasi. Rasulullah senantiasa menganjurkan umatnya untuk terus belajar. Sebagai orang tua yang memiliki peran dan tanggung jawab besar terhadap perilaku anak, maka sudah sepatutnya terus belajar.

Mendidik anak tanpa amarah adalah hal yang mungkin dilakukan. Semoga kita bisa menjadi bagian dari orang tua yang berhasil mendidik anak tanpa meninggalkan luka pengasuhan.

Wallahu’alam bi showaab []

BOLEHKAH PUASA ARAFAH BERBEDA DENGAN WUKUF DI ARAFAH?Oleh: KH. Muhammad Shiddiq Al JawiHaram hukumnya Muslim berpuasa Ar...
14/06/2024

BOLEHKAH PUASA ARAFAH BERBEDA DENGAN WUKUF DI ARAFAH?

Oleh: KH. Muhammad Shiddiq Al Jawi

Haram hukumnya Muslim berpuasa Arafah pada hari yang berbeda dengan waktu wukuf di Arafah. Inilah pendapat terkuat (rajih) dalam masalah ini berdasarkan dua dalil sebagai berikut :

Pertama, karena puasa hari Arafah yang berbeda dengan hari wukuf di Arafah telah menyimpang dari definisi syariah (al ta’rif al syar’i) untuk puasa hari Arafah. Imam Badruddin Al ‘Aini menjelaskan bahwa “hari Arafah” (yauma ‘Arafah) menunjukkan waktu (al zamaan) dan tempat (al makaan) sekaligus. Dari segi waktu, hari Arafah adalah hari ke-9 bulan Dzulhijjah. Sedang dari segi tempat, hari Arafah adalah hari di mana para jamaah haji berwukuf di Arafah. (Badruddin Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari Syarah Shahih Al Bukhari, syarah hadits no. 603, 5/339; Ibnu Qudamah, Al Mughni, 5/44).

Jadi, definisi syar’i untuk “hari Arafah” (yauma ‘Arafah) adalah hari yang para jamaah haji berwukuf di Arafah (al yaumu alladzi yaqifu fiihi al hajiij bi-‘arafah). Definisi inilah yang dianggap kuat (rajih)oleh Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta (Dewan Tetap untuk Pengkajian Ilmiah dan Fatwa Saudi) di bawah pimpinan Syeikh Abdul Aziz bin Baz, juga oleh Lajnah Al Ifta` Al Mashriyyah (Dewan Fatwa Mesir), Syeikh Hisamuddin ‘Ifanah dari Yordania, Syeikh Abdurrahman As Sahiim, dan lain-lain. (Abu Muhammad bin Khalil, An Nuur As Saathi’ min Ufuq Al Thawaali’ fi Tahdiid Yaumi ‘Arafah Idzaa Ikhtalafal Mathaali’, hlm. 3).

Definisi tersebut didasarkan pada beberapa dalil hadis. Di antaranya sabda Rasulullah ﷺ, ”Arafah adalah hari yang kamu kenal.” (’arafah yauma ta’rifuun). (HR. Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 5/176, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no 4224).

Maka dari itu, jika seorang Muslim berpuasa Arafah pada hari yang dianggapnya tanggal 9 Dzulhijjah, namun bukan hari wukuf di Arafah, misalnya berpuasa satu hari sebelumnya maupun sesudahnya, berarti dia telah menyalahi hukum syariah.

Padahal Islam telah melarang seorang Muslim untuk melakukan amal yang menyalahi hukum syariah, berdasarkan dalil umum dari sabda Rasulullah ﷺ, ”Barangsiapa melakukan suatu perbuatan (‘amal) yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak.” (HR. Bukhari no 2550; Muslim no 1718).

Kedua, karena berpuasa Arafah secara berbeda dengan waktu wukuf di Arafah telah menyalahi patokan wajib untuk menentukan Idul Adha dan rangkaian manasik haji di bulan Dzulhijjah, yaitu rukyatul hilal yang dilakukan oleh Wali Mekkah (penguasa Mekah). Dengan kata lain, patokannya bukanlah hisab, dan juga bukan rukyatul hilal di masing-masing negeri Islam berdasarkan prinsip ikhtilaful mathali’ (perbedaan mathla’).

Yang lebih tepat, perbedaan mathla’ tidak dapat dijadikan patokan (laa ‘ibrata bikhtilaf al mathali’), karena telah terdapat dalil khusus yang menunjukkan bahwa penentuan Idul Adha, termasuk waktu manasik haji seperti wukuf di Arafah, wajib mengikuti rukyatul hilal Wali Mekah, bukan yang lain. Barulah kemudian jika Wali Mekah tidak berhasil merukyat hilal, Wali Mekah mengamalkan rukyat dari negeri-negeri Islam di luar Mekah.

Dari Husain bin Al-Harits Al-Jadali رضي الله عنه dari Jadilah Qais, dia berkata, “Amir (penguasa) Mekah berkhutbah kemudian dia berkata, ”Rasulullah ﷺ telah berpesan kepada kita agar kita menjalankan manasik haji berdasarkan rukyat. Lalu jika kita tidak melihat hilal, dan ada dua orang saksi yang adil yang menyaksikannya, maka kita akan menjalankan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR. Abu Dawud, hadis no 2340. Imam Daruquthni berkata, "Hadis ini isnadnya muttashil dan shahih.” Lihat Sunan Ad Daruquthni, 2/267. Syeikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud(2/54) berkata, ”Hadis ini shahih.”).

Hadis ini menunjukkan bahwa yang mempunyai otoritas menetapkan hari-hari manasik haji, seperti hari Arafah dan Idul Adha, adalah Amir Mekah (penguasa Mekah), bukan yang lain. Maka berpuasa Arafah secara berbeda dengan hari Arafah karena mengikuti rukyat masing-masing negeri Islam, haram hukumnya, karena telah meninggalkan patokan wajib yang ditetapkan Rasulullah ﷺ, yaitu rukyatul hilal penguasa Mekah. Wallahu a’lam.[]

============================
"Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, niscaya ia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun." (HR. Muslim)
==============================

LARANGAN MEMUKUL ANAK KECIL YANG SEDANG MENANGISRasulullah ﷺ‎ Bersabda :"Janganlah kamu memukul anak-anak kamu di sebabk...
02/05/2024

LARANGAN MEMUKUL ANAK KECIL YANG SEDANG MENANGIS

Rasulullah ﷺ‎ Bersabda :
"Janganlah kamu memukul anak-anak kamu di sebabkan mereka menangis dalam masa setahun.

Karena dalam empat bulan pertama kelahirannya ia bersyahadat LAA ILAAHA ILLALLAH.

Pada Empat bulan ke dua p**a ia bershalawat kepada Nabi ﷺ‎.

Dan ke empat bulan seterusnya ia mendo'akan ke dua ayah bundanya.
(H.R. Abdullah Ibnu Umar رضي الله عنه)

Baginda Rasulullah ﷺ‎ menjelaskan tangisan anak di waktu kecil pada bulan pertama adalah tanda ia bertauhid kepada Tuhan-Nya dan empat bulan ke dua ia membacakan shalawat kepada Nabi-Nya.

Dan empat bulan seterusnya ia beristigfar memohon ampunan atas kedua ayah bundanya.

Rasulullah ﷺ‎ bersabda :
"Anak anak sebelum sampai ia baliqh, maka apa-apa yang di perbuatnya dari pada kebaikan maka di tuliskan untuknya dan ke dua ibu Bapaknya.

Dan apa yang di perbuatnya dari pada kejahatan maka tiadalah di tulis untuknya dan tidak p**a di tulis untuk ke dua Ibu Bapaknya.
Apa bila ia telah baliqh maka, berlakulah yang di tulis itu atasnya ia segala amal baik atau buruknya.
( H.R. Imam Anas bin Malik رضي الله عنه)

Subhanallah...
Begitu indahnya syari'at Islam, sehingga apapun yang di larang adalah tanda cinta ALLAH سبحا نه و تعالى untuk manusia.

Sabda Rasulullah ﷺ‎ :
"Siapa yang menyampaikan satu ilmu, dan orang membaca mengamalkannya, maka dia akan peroleh pahala walaupun sudah tiada.
(H.R. Muslim ).

Semoga kita menjadi orang tua yang bisa membimbing anak-anak kita sampai ke syurga atas Izin ALLAH سبحا نه و تعالى.
Barakallahh.



 "Anakku tak pandai"Robbi Habli Minasholihiin✍️ Oleh : Irene RadjimanDia anakku yang nomor 2. Kami lebih senang menyebut...
01/05/2024



"Anakku tak pandai"
Robbi Habli Minasholihiin

✍️ Oleh : Irene Radjiman

Dia anakku yang nomor 2. Kami lebih senang menyebutnya begitu, sebab dari sejak ia lahir hingga kini saya tidak memakai kontrasepsi, karena suami masih berharap akan ada anak ke-3 dst. Namun rupanya hingga kini belum Allah izinkan kami untuk menambahnya.

Dia berbeda dari abangnya. Hanya dengan dia saya kerapkali berteriak, hanya dengan dia saya kerapkali menangis dengan kesal. Abangnya yang selalu menjadi juara kelas, daya tangkap yang luar biasa, berbeda jauh dengan dirinya yang tidak mudah dengan cepat menangkap materi. Jangankan berharap juara kelas, bisa naik kelas saja sudah Alhamdulillah.

Dia tak pandai berhitung. Lambat membaca dan menghafal. Saya nyaris dibuatnya putus asa. "Apa kata orang nanti ketika melihatnya sebagai anak seorang penulis yang dikenal inspiratif, ternyata cuma segitu?"

Suamiku kerapkali mengatakan,
"Ada maksud Allah memberi Naza untuk kita." dan di saat itu juga aku bertanya dalam hati, "Apa maksud Allah?"

Hingga suatu ketika saat sholat ashar di rest area, saya terlibat obrolan dengan seorang ibu usia kisaran 65 tahunan. Saya lupa awalnya bagaimana hingga sampai ibu itu berkisah tentang putera bungsunya.

Beliau memiliki 5 orang putera. Namun putera bungsunya ini yang paling berbeda. Tak pandai berhitung, tak pandai mengingat, tak pandai membaca, daya tangkap yang lambat. Ditambah lagi saat itu keluarga mereka terbatas secara finansial hingga tak mungkin memberikan les tambahan bagi si bungsu.

Lulus SD, mereka (si ibu & suami) bersepakat menaruh putera bungsu mereka di ponpes kobongan. Berharap di sana si bungsu bisa menjadi penghafal Qur'an atau paling tidak seorang da'i. Sesampainya di pondok, bertemu dengan kyai pimpinan pondok dan mengatakan kondisi si bungsu yang sebenarnya. Pak kyai berujar,

"Dzikirkan terus "Robbi habli minasholihin" kemudian sebut nama anak kalian. Minimal 200× ba'da sholat fardhu. Paling tidak 1000× dalam sehari kalian langitkan dzikiran itu."

Mereka p**ang dan patuhi.

3 tahun si bungsu di pondok. Memang si bungsu setiap hari membaca Alqur'an, tapi ternyata, jangankan menjadi penghafal Qur'an, melantunkan Qur'an pun tak bisa indah, tetap biasa. Jangankan bisa berdakwah untuk menjadi da'i, menata bahasa saja seringkali berantakan.

"Mengapa Allah tak mengabulkan do'aku?" begitu pertanyaan yang muncul di benak ibu itu. Sudahlah anakku tak pandai secara akademik, tak pandai p**a mengaji. Begitu pikirnya. Ibu dan bapak tersebut menumpahkan curahan hati mereka pada kyai pimpinan pondok.

"Ikhlas dan ridho lah pada putera kalian, apapun kondisinya, sebab ridho Allah ada pada ridho orang tua, sambil terus tetap amalkan dzikiran itu, bukan dengan harapan putera kalian menjadi ini dan itu, namun berharaplah putera kalian menjadi manusia yang cinta Al-Qur'an sehingga takut akan Allah. Setelah itu lihatlah keajaiban yang akan Allah suguhkan."

Tahun ke-4 si bungsu p**ang. Minta restu pada orang tuanya untuk uzlah ke Sumatera, bertani. Si bungsu mengatakan, "Saya hanya butuh restu dari Abah dan Emak. Tak perlu berpikir tentang ongkos saya dan bagaimana saya di sana. Mohon restu dan do'a Abah dan Emak, insyaa Allah hidup saya berkah di sana."

Hampir 2 tahun di Sumatera menjadi buruh tani. Kemudian mulai memiliki sehektar tanah. Bertambah lagi dan bertambah, hingga memiliki tanah, sawah, dan beternak kambing. 5 tahun di Sumatera sudah menjadi tuan tanah dan memiliki banyak hewan ternak. Si bungsu ingin menikah. Meminta orang tuanya untuk datang dan mengkhitbah seorang gadis. Ternyata gadis itu sama dengan dirinya. Tak pandai berhitung, tak pandai bicara, namun gemar membaca Qur'an.

Di sana orangtuanya bertanya,
"Bagaimana ia bisa sesukses itu?"

"Karena do'a Emak dan Abah."
"Iya, tapi apa yang kamu lakukan disini Nak?"
"Saya melakukan hal yang biasa saja. Sholat di awal waktu dan selalu jama'ah, seperti pesan pak kyai. Bertani seperti ajaran para tuan tanah di sini saat menjadi buruh tani. Setiap panen, saya selalu undang ustadz untuk menghitung zakat yang harus saya keluarkan sebelum panenan saya jual. Yah Emak dan Abah kan tahu saya tak pandai berhitung, maka saya minta tolong ustadz untuk menghitung zakatnya Mak."

"Seketika saya teringat ucapan kyai. Rupanya inilah keajaiban Allah itu!"
ujar ibu itu pada saya. Ibu itu menambahkan,

"Dari ke-5 orang anak saya, si bungsu inilah yang terbilang sukses secara finansial. Bahkan kakak-kakaknya kerapkali berhutang padanya. Saya menyesal, kenapa dalam dzikiran saya itu fokus saya hanya pada si bungsu. Coba saya sebut nama ke-5 anak saya. Ajaibnya lagi, si bungsu saya ini tak punya rekening Bank. Dia menabung dalam bentuk emas batangan, dan ia bayarkan juga zakatnya setelah mencapai haul dan nishobnya. Bahkan kalo kakaknya ada yang mau berhutang, dia suruh pilih emas yang mana. Saya kalo ke rumahnya selalu dibawakan emas. Dulu sebelum ada HP, setiap bulan suratnya selalu datang pada kami. Sekarang setiap hari, dia menelepon kami. Setiap hari mbak! Dia juga punya data anak-anak yatim di kampungnya. Setiap hari anak-anak yatim itu diundangnya makan di rumahnya. Isterinya pun patuh dengan dia. Masyaa Allah!"

Saya tercekat mendengar ceritanya. Masyaa Allah.... Allahu akbar.... Sungguh kerdil saya sebagai orangtua yang mendewakan daya tangkap dan daya hafal yang cepat.

Kisah ini bukan untuk meremehkan prestasi akademik, bukan! bukan itu! berbahagialah anda sebagai orangtua yang memiliki anak dengan prestasi akademik yang gemilang. Namun janganlah berkecil hati bagi kalian orangtua yang memiliki anak dengan daya tangkap yang kurang tangkas, daya hafal yang kurang cepat. Sebab sebenarnya mereka adalah anak-anak spesial yang khusus Allah berikan bagi para orangtua spesial, untuk melihat keajaiban yang spesial.

Salam hangat untuk ayah bunda yang sedang mempersiapkan generasi Qur'ani dengan keikhlasan hati.

Barokallaahu fiikum.



*HUKUM MENGADOPSI ANAK* Oleh: KH. M. Siddiq al Jawie - PERTANYAAN:Ustadz, bagaimana hukum mengadopsi anak menurut Islam?...
21/04/2024

*HUKUM MENGADOPSI ANAK*
Oleh: KH. M. Siddiq al Jawie

- PERTANYAAN:

Ustadz, bagaimana hukum mengadopsi anak menurut Islam?

JAWABAN:

Adopsi dalam istilah fiqih Islam disebut dengan “tabanni”, yang didefinisikan sebagai perbuatan seseorang menjadikan anak orang lain sebagai anak kandungnya. (M. Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha, hlm. 90; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 10/120).

Adopsi sudah dikenal di kalangan masyarakat Arab pada masa jahiliyah, yaitu sebelum diutusnya Muhammad SAW sebagai rasul. Anak yang diadopsi saat itu diperlakukan sebagai anak kandung dalam berbagai aspek hukumnya, misalnya dinasabkan kepada ayah angkatnya, mendapat waris dari ayah angkatnya, bekas istrinya tak boleh dinikahi oleh ayah angkatnya, dsb. Adopsi ini masih dibolehkan hingga masa awal Islam. Namun kemudian kebolehannya di-nasakh (dihapus) saat turunnya surat Al Ahzab ayat 4 dan 5 yang mengharamkan adopsi atas umat Islam secara mutlak. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/508; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 10/121).

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, Islam telah mengharamkan mengadopsi anak dan membatalkan segala akibat hukumnya. Allah SWT berfirman (artinya) :
“Dan Dia [Allah] tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanya perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).” (TQS Al Ahzab [33] : 4).
Allah SWT juga berfirman (artinya) :
“Panggilan mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai (nama) ayah-ayah mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah.” (TQS Al Ahzab [33] : 5).

Dengan ayat-ayat ini, Islam telah mengharamkan dan membatalkan tradisi adopsi anak dan memerintahkan orang yang mengadopsi anak untuk tak menasabkan anak angkat kepada dirinya, melainkan kepada ayah kandung anak itu sendiri. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 10/121).

Maka dari itu, segala bentuk peraturan dalam hukum positif Indonesia yang membolehkan adopsi anak, adalah peraturan kufur yang melawan dan bertentangan dengan syariah Islam. Misalnya Staatblaad tahun 1917 No 129 dan SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) No. 6 Tahun 1983.
Semua peraturan ini adalah peraturan kufur sehingga secara mutlak haram diterapkan oleh pemerintah saat ini dan haram p**a diamalkan oleh umat Islam.

Siapa saja Muslim yang mengamalkan peraturan itu seraya meyakini kebenarannya dan mengingkari haramnya adopsi anak dalam Alquran, berarti telah murtad (keluar dari agama Islam). Adapun yang mengamalkan tapi tak meyakini kebenarannya, juga tak mengingkari haramnya adopsi anak dalam Alquran, ia masih dihukumi Muslim (tak murtad), tapi tetap berdosa besar (kabair). (Abdurrahman Maliki, Nizhamul Uqubat, hlm. 44; Imam Dzahabi, Al Kabair, hlm. 154-155;Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 40/233).

Namun meski Islam mengharamkan mengadopsi anak, Islam tak mengharamkan sepasang suami istri mengasuh anak orang lain bersama mereka, misalnya anak yatim, anak pungut (al laqiith), atau anak orang fakir/miskin. Dalam arti, anak itu sekadar mendapat pemeliharaan dan nafkah yang layak, namun tak diperlakukan sebagai anak kandung sendiri. Misal tetap dinasabkan kepada ayah kandungnya, tetap tak mendapat hak waris, tetap tak mendapat perwalian nikah (jika anak itu perempuan), dan tetap diperlakukan sebagai ajnabi (bukan mahram) jika sudah baligh apabila7 memang tak termasuk mahram bagi suami/istri tersebut. (Yusuf Qaradhawi, Al Halal wa Al Haram fi Al Islam, hlm. 198-199).

Jika demikian halnya, hukumnya boleh dan tidak haram. Karena hal itu tidak termasuk mengadopsi anak, melainkan termasuk perbuatan memberi bantuan/pertolongan kepada sesama muslim, yang telah dibenarkan berdasarkan dalil-dalil umum dari Alquran dan As Sunnah. Allah SWT berfirman (artinya) : “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (TQS Al Maidah [5] : 2). Sabda Rasulullah SAW, ”Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya selalu menolong saudaranya.” (HR Muslim no 2699; Tirmidzi no 1995).

Wallahu a’lam[]
=======

Address

Jalan Lintas Riau Sumatera
Bagansiapiapi

Telephone

+6282169556459

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Darfadz Sultan Bayezid posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share