Miftahul ULUM KD Barat

Miftahul ULUM KD Barat Organisasi internasional Dunia akhirat

17/08/2026

#81

13/08/2026

24/07/2026
13/07/2026

Belajar sambil berfikir , jangn berfikir tanpa belajar .BAHAYA !

08/04/2026

Pengenalan GT 2026/2027

08/03/2026

Juara 2 di festival sholawat BKL-sampang oleh iksas BKL -sampang

30/01/2026

Liburan bareng teman & keluarga sambil belajar


20/01/2026

Rekaman apakah???đŸ«ŁđŸ˜…tunggu di Haflatul imtihan kali ini !đŸ„ł

06/12/2025

Kadang saya merasa, kalau Nabi Ya‘qub hidup di zaman sekarang, mungkin beliau akan sedih bukan karena cucunya nakal, tapi karena pertanyaan beliau—yang amat agung itu—sudah diganti dengan hal yang lebih
 Instagrammable.

Dulu, seorang nabi, menjelang wafat, menatap anak-anaknya dengan dada yang berat. Bukan karena memikirkan warisan atau menu makan malam, tetapi karena satu hal: “Apa yang kalian sembah setelahku?” Pertanyaan yang menggetarkan langit. Pertanyaan yang menimbang masa depan sebuah peradaban. Pertanyaan yang, kalau kita renungkan sejenak, menuntut jawaban yang hanya bisa diberikan oleh hati yang hidup.

Sekarang? Ah, sekarang orang tua lebih realistis. Lebih membumi. Lebih modern.

Pertanyaannya berubah menjadi:
“Nak, kamu jangan sampai lapar. Makanya aku harus kaya, berkerja mati-matian, karena ingin meninggalkan pentingnya warisan?” Sebentuk kepanikan yang membuat malaikat pencatat amal menahan tawa kecil. Karena rupanya, generasi kini lebih takut anaknya tidak kenyang daripada tidak yakin kepada Tuhan yang memberi kenyang itu.

Zaman dulu, ketakutan terbesar adalah: “Jangan sampai keturunanku tersesat akidahnya.”

Zaman sekarang, ketakutan terbesarnya adalah: “Jangan sampai keturunanku tersesat ke mie instan rasa-rasa yang tidak bergizi.”

Kita tenang saja kalau anak ke masjid jarang—asal makannya teratur. Kita tidak masalah kalau anak lupa shalat—asal tidak lupa sarapan. Kita tidak risau kalau anak tidak mengenal Rabb-nya—asal mengenal vitamin yang benar untuk daya tahan tubuh.

Lalu, setelah dewasa, kita bingung kenapa anak-anak ini kehilangan arah. Padahal sejak awal kita sendiri yang mengarahkan kompasnya bukan ke kiblat, tapi ke dapur.

Entah sejak kapan, peradaban yang dibangun para nabi dengan air mata dan doa itu kita turunkan menjadi peradaban meal plan. Iman diganti dengan menu mingguan.
Akhlak diganti dengan asupan kalori. Dan kecemasan terbesar orang tua bukan lagi “Di mana jiwanya?” tapi “Di mana sendoknya?”

Sungguh, zaman ini lucu. Lucu yang menyedihkan. Kita sibuk memastikan piring anak selalu penuh, tapi lupa memastikan hatinya tidak kosong.

Mungkin memang beginilah dunia: berubah lebih cepat daripada kesadaran kita.

Dan entah suatu hari nanti, akan lahir generasi yang ketika ditanya: “Apa yang kalian sembah setelahku?”

Akan menjawab dengan mantap: “Tergantung
 yang viral minggu ini siapa?” Naudzubillah.

D.nawawi sa'dullah

Address

Jl. Patoroyan Sorren Karang Duwak Arosbaya
Hong Kong

Opening Hours

Monday 01:30 - 16:30
Tuesday 01:30 - 16:30
Wednesday 01:30 - 16:30
Thursday 01:30 - 16:00
Saturday 01:30 - 17:00
Sunday 01:30 - 16:30

Telephone

+85235402607

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Miftahul ULUM KD Barat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Miftahul ULUM KD Barat:

Shortcuts

Share

Category