Writing Club UT Hong Kong

Writing Club UT Hong Kong

Share

Hubungi kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut +85291347436 We are also going to make a quiz every once in a while. So, stay tuned!

On this page, we are going to upload lessons ranging from grammar, vocabularies, to slangs and idioms.

13/04/2024

Indonesian Academy

Wa.me/+85291347436

10/10/2022

MAS DUDA NEXT DOOR

By sirifa

(Cerita ini hanya fiktif belaka, jangan tersinggung ya kawan)

🌹🌹🌹

"Cogan memang menawan, tapi Duda muda semakin di depan"

-Erna-

"Mau duda kek single kek suami orang kek, bagi gue sugar daddy paling di depan"

-Shanty-

"Duda muda itu ibarat Mangga muda, asem tapi bikin nagih"

-Novi-

***
Minggu ceria. Itu hanya fantasi bagi Shanty, realitanya minggunya selalu berantakan. Bayangkan saja, Shanty sedang enak-enak tidur tiba-tiba terdengar lagu bollywood dan korea dalam volume tinggi. Mending kalau lagu kalem. Ini mah lagunya bikin gendang telinga pengang. Headphone di telinga sudah tidak ada fungsinya.

"ERNA! NOVI!" teriak Shanty lantang dengan mata terpejam.

Kedua sahabatnya segera berlarian menaiki tangga menuju kamar Shanty.

"Apasih sayang, ganggu orang lagi asik aja, " protes Novi. Dia menjatuhkan tubuhnya di sebelah kiri Shanty.

"Please, ini minggu sayangku. Bisa kan muter lagunya nggak usah kaya orang budek gini, "

"Erna noh, ikutan nyetel lagu juga. Gue kan yang pertama muter lagu BTS, "

"Kok gue, loe tuh seenaknya nyetel BTS pagi-pagi. Mau bikin ayam tetangga joget," Erna merebahkan tubuhnya di sebelah kanan Shanty.

"Pada pergi gih. Sempit kasur gue. Kalian nyetel lagu yang selow aja. Sadar nggak sih, lagu kalian kaya sahut sahutan gitu, BERISIK!" Shanty menutup telinganya.

"Bangun lah, udah siang. Rezekinya ntar dipatok ayam, ada cogan lewat juga mubazir," Novi menggoyang tubuh Shanty.

"Iya bener, masa perawan jam segini belum bangun, " imbuh Erna.

"Novi, Erna, kalian memilih keluar baik-baik dari kamar gue atau mau pergi dari rumah ini sekarang juga!" ancam Shanty.

Tanpa menunggu aba-aba selanjutnya mereka segera meninggalkan kamar.

***

Ada sesuatu yang tidak biasa, Erna dan Novi tidak terdengar berisik. Shanty mencari keduanya di setiap sudut ruangan. Semuanya tidak ada. Dia pun keluar rumah, kedua sahabatnya ternyata sedang asik berhaha hihi dengan Bu RT. Shanty menghembuskan nafas panjang.

"Pantes anteng, hobi banget sih ghibah. Mana nggak pakai masker lagi. " Gumam Shanty.

Dia masuk kedalam mengambil masker. Kemudian keluar rumah menemui dua sahabatnya.

"Hai ladies, masih sayang nyawa kan? " Shanty menyodorkan dua masker. Bu Rt yang ada di sana melengos.

"Kita lanjut besok deh ghibahnya, sok bersih banget sih Shan. " Sindir Bu Rt.

"Jaga-jaga Bu, nyawa kita nggak kaya kucing. Bu Rt mau masker juga, biar saya ambilkan, " tawar Shanty.

"No. Thanks, saya permisi. "

"Hati-hati Bu, jangan lupa cuci tangan. " Pesan Shanty.

Kedua sahabatnya saling pandang kemudian tersenyum.

"Pakai maskernya, sampai rumah cuci tangan. Spray badan kalian ya, gue nggak mau sakit. " Omel Shanty.

"Eh betewe nih. Ngapa sih Bu Rt kayanya nggak s**a gitu sama loe, ada masalah apa?"

"Mana gue tahu, yuk balik laper gue belum sarapan, "

"Kayanya Bu Rt tahu kalau loe tuh simpenan om-om, makanya dia takut kalau loe ngerebut Pak Rt, " Novi melingkarkan tangannya di pundak Shanty.

"Maaf ya, selera gue sugar daddy bukan Fat daddy, " Shanty menurunkan tangan Novi dan berlari menuju rumahnya.

"Dasar matre. Temen loe tuh, nggak ada akhlaknya pantes aja bu Rt males sama dia, " ujar Novi sambil menunjuk ke Shanty yang berlari masuk ke dalam rumah.

"Temen loe juga kali tapi berkat dia kita punya tempat singgah. Coba kalau nggak ada Shanty. Mau ngontrak di mana kita? Ada untungnya juga sih punya temen hobi koleksi sugar daddy, " Novi tergelak. Apa yang dikatakan Erna ada benarnya.

Kisah Cinta mereka tidak semulus itu. Sugar daddy, pria single, maupun suami orang bagi mereka nggak ada bedanya. Asal nyaman, jalani. Urusan ribut dengan pasangannya itu belakangan. Bukankah Bahagia itu segalanya. Satu lagi, kita wajib egois demi kata BAHAGIA.

***
"Ngapain sih kalian gosip sama dia pagi-pagi. Kalau nggak ada kerjaan lain mending bersihin rumah, " omel Shanty.

"Gosipin duda yang bakal datang. Kata Bu Rt tetangga baru kita duda muda loh, " mata Novi berbinar saat membicarakan tetangga barunya yang masih abstrak.

"Lumayan kan beb, ada pemandangan Indah. Nggak gumoh lihat pak Rt yang bodynya kaya galon." Tambah Erna.

"I don't care. Cuci tangan kalian, main nggak bawa masker. Jaga kesehatan napa, kalau kalian sakit ntar gue juga kena. Mikir d**g udah gede juga, "

"Siap nyonya, " ucap Erna dan Novi bersamaan.

Mereka masuk ke dapur dan mencuci tangan. Sejak pendemi melanda, Shanty sangat menjaga kebersihan. Setelah keluar rumah cukup lama mereka wajib mandi. Jika sekedar keluar tidak lebih dari 15 menit cukup cuci tangan. Sebelum makan wajib cuci tangan. Shanty berubah menjadi perempuan super bersih.

"Gue ganti baju dulu, " ucap Shanty.

"Mau kemana ? " tanya Novi. Dia mencomot remot dan duduk manis di sofa.

"Beli seblak. Tadi udah telepon mamangnya. Lo mau ikut nggak? Sekalian ke minimarket ujung sana, " balasnya.

"Gue ikut. Bosen di rumah mulu, " Erna berlari keluar dari dapur.

"Ya udah gue ikut. Ntar siang gue pergi ke Bandung. Mau jemput mas Nya." Ujar Novi.

"Nya? Anak bu bos kan? Ganteng nggak? " selidik Erna.

"Ganteng pake banget. "

"Namanya siapa ?" tanya Shanty.

"Nya, " balas Novi singkat.

"Nya itu kan merujuk pada nama orang. Jadi, siapa namanya? " Erna mulai emosi.

"Nya ya Nya." Balas Novi.

"Eh kampret gue masih sabar ini, loe ditanya serius malah ngajak gelut," Shanty berjalan mendekati Novi, wajahnya terlihat kesal.

"Sabar Bu, Nya itu singkatan nama dia. NOBEL YOHANNES ATMAJA. "

"Jelasin dari tadi kek, ngeselin!" Shanty melempar bantal dan beranjak ke kamarnya.

"Temen loe tuh Er, emosian bae dari tadi, "

"Gue juga emosi sama loe. Udahlah gue mau ganti baju, "

"Dasar perempuan, ngambekan. " Gumam Novi.

***

Sepuluh menit kemudian ketiganya sudah berganti baju, kostum kebangsaan yang selalu mereka kenakan saat keluar membeli seblak. Kaos oblong warna putih dan hotpants di atas lutut. Tidak lupa rambut mereka cepol kiri kanan, point pentingnya adalah poni.( Mirip cabe-cabean tapi versi kelas kakap. 😄😄😄)

"Siapa nih parkir mobil di depan mobil gue, seenak jidatnya. " Novi mengomel saat sebuah mobil box menutupi mobilnya.

"Tuh, " Shanty menunjuk ke seorang pemuda yang berdiri di depan rumah, tepatnya di sebelah rumah mereka.

Erna dan Novi saling pandang, mereka tersenyum kemudian berteriak.

"Aaaa mas duda!" seru keduanya hingga membuat pemuda itu menoleh.

"Berisik banget kalian. Malu-maluin gue aja. Katanya tadi marah, sekarang malah teriak macam orang kesurupan. Waras berdua, " Shanty berjalan meninggalkan keduanya setelah mengoceh.

"Eh Babe, loe nggak tertarik gitu sama dia, sugar daddy loh, katanya dia cucu HCP grup. " Tutur Novi.

Arin tidak mendengar karena dia sudah memasang earphone.

"Eh kampret malah pasang earphone. Gue doain loe fall in love sama doi, " umpat Erna.

"Gue kesana bentar. Enak aja parkir sembarangan. " Novi berbelok ke rumah Mas duda. Erna memilih menemani dia, sedang Shanty tetap melanjutkan perjalanan tanpa perduli dengan dua sahabatnya. Seblak lebih penting.

Mas duda tidak memperdulikan Novi yang mengomel karena mobilnya tidak bisa keluar. Tanpa mengindahkan Omelan Novi, dia masuk ke dalam rumah seolah tidak terjadi apapun. Novi yang kesal akhirnya mengajak Erna pulang ke rumah , mereka bahkan lupa tentang Shanty yang membeli seblak.

***

"Loe bikin apa sih Shan?" Erna menyandarkan kepalanya di pundak Shanty yang sedang sibuk dengan adonannya.

"Egg shuffle, " balasnya sambil menjauhkan kepala Erna.

"Sadis amat sih, pinjam pundak bentar aja kaga boleh."

"Gangguin aja. Nggak ada kerjaan loe, "

"Nggak ada. Free gue hari ini, "

"Ikut gue yuk ke Bandung, jemput si Nya, " ucap Novi sambil menyendok seblak.

"Celamitan ih. Kalian tadi nggak nyusul juga, " omel Shanty. Dia mengambil seblak di atas meja dan memindahkannya ke lemari.

"Pelit. Abis kesel sama duda sebelah tauk, judes banget. Bukannya minta maaf malah cuek gitu, " jelas Novi.

"Oh, gue nggak tertarik mendengar kisah kalian. Buruan pergi gih, enegh gue lihat lu pada dirumah," ucap Shanty.

"Tega banget sih sama dek Erna yang imut ini,"

"Betewe nih ya, gue curiga loe sama si Nya pacaran. Ngapain coba tiap malam minggu loe ke Bandung jemput dia, " Shanty memicingkan matanya.

"Gini nih kalau kebanyakan makan seblak. Otak kurang sesendok. Tapi nggak papa sih, gue aminkan. Gini ya jeng Shanty, mas Nya itu kan kerja dari senin sampai jum'at, terus malam minggu dia itu wajib nemenin Maminya. Jadi ya gitu, tiap malam minggu gue jemput, " ujar Novi.

"Alasan. Kan ada supir, " komen Erna.

"Libur kalau sabtu minggu. " Balas Novi acuh tak acuh.

"Atau Nya sebenarnya itu s**a sama loe, " tebak Erna.

"Gue bakal bahagia seandainya itu beneran deh. Kalian jangan kaget ya, gue bakal ngasih tau informasi penting soal Nya, " Novi mengisyaratkan agar kedua sahabatnya mendekat.

"Apa sih, ganggu orang lagi ngadonin aja, " protes Shanty.

Pada akhirnya mereka menuruti mau Novi. Keduanya mendekat dan memasang telinganya baik-baik.

"Nya itu duda, " bisik Novi.

Shanty dan Erna mengatupkan kedua tangannya di bibir.

"Seriously, Oh My O God, "

"Biasa aja d**g Er, lebay. Kaya nggak pernah deket sama duda aja, " Shanty menyenggol lengan Erna dan kembali ke adonan egg shuffle nya.

"Kok loe kaga kaget sih Shan, "

"Nggak lah. Gue kan paham dari gelagat loe. Nggak mungkin loe mau jemput tiap sabtu tanpa alasan. Of course karena dia bukan cowok dibawah umur. Kalau nggak istri orang ya duda, selera kita kan sama. "Jelas Shanty panjang lebar.

Novi nyengir. "Gue berangkat ya, jangan kangen. Doain semuanya lancar, muach," pamitnya sambil mencium p**i kedua sahabatnya.

***

"Finally finish. Uhh capek banget gue, " keluh Shanty.

Erna meliriknya sekilas bibirnya menggumamkan sesuatu.

"Apa loe! Gue nggak bikin egg shuffle ini buat loe, so, nggak usah ngelirik sirik gitu," sindir Shanty.

"Gue nggak doyan makanan kek gitu. Lidah gue ntar sakit, " balas Erna.

"Rese emang, " Shanty melempar selemek ke Erna.

"Loe bikin buat tetangga sebelah kan, iyakan iyad**g. Cie , akhirnya tertarik juga sama mas duda, " ejeknya.

"Gue nggak tertarik sih. Lebih ke penasaran karena tadi gue lihat si Bu Rt ngobrol akrab gitu sama dia, secara kita tuh temen sekolah. Otomatis yang dia kenal pasti gue juga, " Shanty menjatuhkan badannya di dekat Erna

"Duh saingan ceritanya. "

Shanty hanya tersenyum sinis. Matanya fokus ke berita gosip siang itu.

"Seorang musisi sekaligus cucu dari HCP GRUP dikabarkan kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya Shanty Prameswari Hermawan. Mereka dikabarkan tinggal bersebelahan di salah satu perumahan mewah di Jakarta. "

"Shan, ini kan nama loe. Siapa mantan loe, " ucap Erna sambil mengguncang tubuh Shanty yang terlihat syok.

"Wait , HCP grup. Eh dia si duda sebelah bukan sih, " tambah Erna.

Shanty menoleh ke Erna.

"Maksud loe, tetangga baru kita itu cucu HCP Grup. Loe yakin, nggak salah informasi, " Shanty meremas tangan Erna.

"Auw. Sakit peak. Iya kan tadi pagi gue bilang sama loe, "

Tanpa banyak bicara Shanty segera menyambar masker dan mengambil kotak berisi egg shuffle yang dibuatnya.

"Mau kemana loe? " Tanya Erna.

"Memastikan ucapan loe, kunci gerbang. Siapa tahu bentar lagi ada wartawan kesini, " pesan Shanty sebelum berlari keluar rumah.

***

04/10/2022

“Hey, long time no see!”
“How are you, dear, you are great too.”
“Thank God. I’ve just moved to this area. Right next to a vegetarian restaurant down there. How about you? What a great coincidence, right?”
“I live over there, too. Which block?”
“I’m on third and you?”
“I’m on fifth. Oh, God! It will be nice if we meet again for coffee this weekend. How about that, huh?”
“I’m okay.”
“Great, see you on Saturday mornings.”
“See, you there.”
Novi and Erna are classmates and haven’t met each other for almost decades. Novi got married to a German man and Erna got married to a businessman in Malaysia.
After Novi reaches home, she went to her laptop and search for Erna’s email and send her the detail and continue the chit-chat that was unfinished.
Dinner time comes, and Novi and her husband share each other stories about the day that transpired. She mentioned Erna and all the memory of how they enjoyed learning at Indonesia Open University or UT.
In another place, Erna did the same thing. She shares her story with her husband again. Learning at Indonesia Open University is enjoyable to endure because we have plenty of time to do our duty as a worker and as a student, since we learned online learning.
Usually, after the semester exam is done, everyone is eager to have fun. Went out to the beach and sometimes even just to the coffee shop somewhere. The moment of togetherness is more important than the place.

16/09/2022

~~~ Wifi ~~~

Siang itu Dita harus mengerjakan beberapa tugas kuliah. Biasanya dia pergi ke warkop untuk mendapatkan signal yang bagus untuk laptopnya. Beberapa hari ini, dia sibuk dengan kegiatan lain. Acara tujuh belas Agustus di Karang Taruna telah menyita banyak waktunya.

“Dita, kamu kemana saja!” ucap ibunya. Sambil memegangi rok panjangnya sedikit ke atas karena telah membuatnya tambah unkep. Dengan wajah yang sudah seperti kue kerucut, Bu Lela menuju kursi tempat Dita duduk.

“Ada apa, Bu. Bukanya tadi Dita sudah minta ijin ke ibu, bahwa aku menghadiri rapat di mushola setelah sarapan, Bu.” Jawab Dita dengan nada pelan. Dia tahu kalau ibunya masih dalam moment ingin complain. Kedua alis ibunya telah menggambarkan bahwa di dalam pikiran ibunya penuh dengan tanda baca. Ya, seperti yang kita tahu. Tada titik, koma, tanda tanya, tanda seru. Yang pasti, tanda seru dan tanda tanya yang paling banyak.

Dita berusaha berikan senyum an yang paling manis kepada ibunya, dengan harapan bisa membuat suasana hati ibunya berpelangi kembali.

“Kamu itu sudah seperti server atau WiFi rumah ini saja. Kadang ada dan kadang ibu harus naik tangga untuk bisa membalas WhatsApp Bu Lurah. “

Maklum, Bu Lela adalah ibu RT yang paling terdepan jika di desa Pelangi ini ada acara. Setelah melihat senyum anaknya, dia duduk di kursi samping Dita. Dipandangi putrinya sambil tersenyum. “Dit, nanti malam ibu tidak masak, ya. Karena ibu harus ikut Bu Lurah untuk acara pertemuan di kantor kelurahan. Apakah kamu bisa masak buat bapak kamu juga?“ tambah Bu Lela yang masih duduk dan tersenyum manis kepada Dita.

“Oooooo, ada acara. Kirain ada apa, Bu. Banyak tugas kuliah Dita yang harus segera di selesaikan. Tapi, Dita akan masak untuk Bapak malam ini dengan satu syarat.” Sebelum Dita melanjutkan ucapannya, Bu Lela beranjak dari tempat duduknya dan berkata,
“okay, okay. Aku kasih uang untuk kalian beli makanan diluar,bagaimana?“

“Nah, gitu, d**g. Aku nongkrong di warkop, ya, Bu. Untuk Bapak nanti paling beli nasi goreng di Bu Tirta.’

“Iya, asal jangan terlalu malam pulangnya, atau ibu jemput saja, bagaimana? “

“Wah, sip, Bu. Kamu memang ibu yang tiada duanya. Tidak seperti WiFi dirumah ini, yang serve nya sangat tidak logika. “

Setelah mereka deal dengan acara malam itu, Dita dan ibunya kembali ke kegiatan masing-masing.

lupa berdoa semoga sehat selalu, ya. 😁

29/08/2022

~~ WAY BACK TO YOU ~~
Sekar menatap kosong undangan yang tergeletak di meja kerjanya. Di sampulnya tertulis. Radit ❤️Tata, Sudut bibirnya tersungging senyuman, namun tak lama senyumnya memudar. Dia membalik undangan itu secara kasar.

"Pada akhirnya kita sama-sama kalah," gumamnya.

Fokus Sekar beralih ke lukisan sepasang sepatu putih berbeda ukiran yang menempel di dinding kamarnya.
"Apa si Kutu juga akan datang ke pesta pernikahan Tata," Sekar seolah bermonolog dengan lukisan itu,"sudahlah, bukan urusan gue dia datang apa nggak."

Kringgg

Dering telepon membuyarkan lamunannya, dia terkejut saat di layar ponselnya muncul nama Radit. First love sekaligus menjadi first boy yang membuat dia patah hati saat SMA.

"Hai, ada yang bisa gue banting?" canda Sekar.

"Ada, dia kebetulan ada disebelah gue kalau mau lo banting," balas Radit.

"Emang sekarang lagi bareng si Kutu?" Selidiknya.

"Hmmms, kenapa?kangen?mau gue kasih teleponnya biar kalian ngobrol gitu," Radit membalas ejekan Sekar.

Sekar diam beberapa saat,"To the point deh. Gue sibuk!" ucapnya sinis.

"Sok sibuk Lo, lagian dia kagak tau gue teleponan sama Lo. Intinya gue mau Lo sama dia jadi bridesmaids di nikahan gue," ujar Radit.

"What?eh , Lo tuh ngelunjak. Udah buat gue patah hati pas SMA, sekarang malah minta gue jadi bridesmaids, apalagi sama si Kutu. Ogah gue," tegas Sekar

Radit menghela napas panjang,"Gue anggap Lo mau, terima kasih. Have a wonderful day " Radit menutup segera sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban Sekar . Orang yang sejak tadi duduk di sebelahnya hanya bisa menggeleng pelan.

"Jangan paksa dia, Lo kan tahu kita kaya apa. Salah Lo juga sih, ingat gue juga korban patah hati kalian," ujarnya.

"Lo berdua tuh sebenarnya kaga s**a gue ataupun Tata. Jangan jadiin kita alasan atas rasa sayang Lo berdua. Gue pergi dulu, oh ya terimakasih sudah mau jadi bridesmaids gue. Kalian berdua so sweet deh," Radit menepuk pundaknya.

"Eh, kampret , gue kaga bilang mau,"

"Gue nggak butuh jawaban Lo berdua. Sampai jumpa di nikahan gue,"

Radit tersenyum sambil berlari meninggalkan orang yang dipanggil Kutu oleh Sekar tadi.
"Semoga kali ini takdir berpihak pada kalian," ucap Radit.

***

Sekar sibuk mengobrak-abrik isi lemarinya. Tujuannya cuma satu, mencari gaun yang cocok untuk dipakai saat menghadiri pernikahan Radit. Awalnya dia enggan pergi tapi setelah dipikir-pikir lagi, tidak ada salahnya dia kesana. Selain bertemu Radit ,dia juga bisa reuni dengan teman-temannya di bangku SMA.

Ting!

Sebuah pesan pop up di ponselnya.

From : Radit

Sekar sayang jangan lupa tema nya besok white prince and princess ya , jadi pakai gaun putih. Jangan merah biru, lo bukan sapi derman. Nggak usah bawa palunya Thor juga buat gebukin si Putra. 🤭🤭 Ily sekebon.😂😂😂

Sekar menghembuskan napas dalam-dalam. "Radit brengsek, sejak kapan dia hobi ngatur gue, pacar juga bukan." Gerutu Sekar. Matanya kembali fokus ke lukisan itu. Dia membalikkan lukisannya, di belakang lukisan terdapat tulisan tangan pelukisnya.

"Kita seperti sepasang sepatu ini. Berbeda tapi selalu beriringan kemanapun , tidak perduli hujan deras atau panas membakar kulit. You're my universe, sekar"

Putra(Kutu terganteng)

"Anggap saja ini penyelesaian kita, setelah ini gue harap kita nggak akan ketemu lagi," gumam Sekar. Dia kembali membalik lukisannya.

"Mungkin dia lupa, bahwa sepasang sepatu selalu bersama tapi tidak pernah bersatu." Ujarnya.

Di Lain tempat Radit tidak bisa berhenti tertawa setelah pesannya dibaca oleh Sekar. Tata yang berada di sampingnya ikut bahagia melihat Radit tertawa lepas seperti itu.

"Mereka sama saja, bisa dipastikan besok mereka akan datang. " Ucap Tata sambil memeluk Radit dari belakang.

"Mungkin mereka belum sadar jika selama ini yang mereka cintai bukan kita, " balas Radit.

"Sudahlah, semoga setelah ini kesalah pahaman diantara mereka berakhir. Aku tidak sabar pertemuan sang pelukis dengan penulis itu di pernikahan kita," ucap Tata. Digenggamnya jemari tangan Radit dengan lembut. Jemarinya mengusap lembut punggung tangan Radit.

***
Two years ago

BAZAR BBS HIGH SCHOOL

Seorang siswa tampak sibuk dengan kuas dan beberapa cat air. Di hadapannya sebuah kanvas kosong belum terjamah sejak tadi. Dia menggunakan pensil untuk mencari angle yang tepat. Dia menghembuskan nafas panjang saat seseorang muncul di hadapannya tiba-tiba.

"Sekar, minggir! Gue lagi nyari objek yang pas,"

"Putra sayang, lukis gue d**g," pinta Sekar manja.

"Nggak, makasih. Buang-buang waktu gue aja," balas siswa yang dipanggil Putra oleh Sekar tadi.

"Heh! Songong! Lukisan gue bakal bernilai tinggi, secara fans gue di BBS High School ini banyak. Bisa dipastikan mereka bakal berebut buat dapetin lukisan Lo," kelakar Sekar.

"Huh!sorry ya mbak, gue nggak tertarik."

"Ok. Jangan sampai suatu saat nanti lo minta gue jadi model lo. Sampai lo berlutut di hadapan gue, nggak akan gue iyain. Lukisan lo juga nggak bagus-bagus amat, apaan nih macam kutu lagi ghibah. " Sekar menunjuk ke arah lukisan pemandangan pohon yang ada di stan Putra.

Putra hanya menjulurkan lidahnya."Hanya orang dengan jiwa seni tinggi yang akan paham tema lukisan gue, pergi sana lo!"

Putra mendorong tubuh sekar menjauh darinya.

Sebulan setelah bazar, Putra terpilih untuk mewakili lomba melukis antar sekolah. Temanya adalah murid berprestasi. Putra bingung karena dia tidak mempunyai banyak teman. Teman terdekatnya hanya Sekar. Tapi, Sekar sudah mengultimatum bahwa dia tidak akan mau menjadi model lukisan Putra.

"Please, lo pendendam banget sih, kaya anak kecil aja,"

Sekar tidak menjawab , dia berlalu meninggalkan Putra begitu saja. Siswa tinggi tegap itu pun pasrah saat punggung sekar menjauh darinya.

23 Juli 2020.

Putra terlihat sangat gugup menunggu di pintu gerbang sekolahnya. Pasalnya, Tata yang berjanji akan menjadi model lukisannya belum juga datang, di sisi lain Sekar sejak tadi mengamati gerak-gerik Putra dari kejauhan.

"Dasar Kutu. Gue waktu itu cuma bercanda," Sekar berjalan mendekati Putra . Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat Tata datang dan memeluk Putra. Dia segera memutar arah, memastikan bahwa Putra tidak melihatnya.

"Jadi , gini cara main lo ," gumam Sekar.

Setelah lomba berakhir, Sekar segera menemui Putra karena dia sudah tidak sabar menunggu penjelasan dari Putra tentang pagi tadi.

"Lo sama Tata jadian?" tanya Sekar saat dia bertemu Putra di parkiran.

"Bukan urusan lo. Bukannya lo bilang kalau nggak mau tahu tentang gue lagi. So, let me alone , please," usir Putra. Dia masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Sekar.

"Brengsek!" Sekar berteriak bertepatan dengan mobil putra yang meninggalkan parkiran.

Dari spion mobil Putra memperhatikan Sekar. Matanya merah, wajahnya terlihat sendu.

"Lo yang mulai ini," ucapnya sinis.

***

Putra memandang langit-langit kamarnya sejak beberapa menit yang lalu. Headset menutupi kedua telinganya. Entah apa yang dipikirkan pemuda tinggi tegap ini.

"Know I know how much I love you
I'm so lost without you,"

Lirik lagu Kaleb J terasa mengiris hatinya. Angannya menerawang jauh ke sosok yang biasanya berbagi headset di tempat tidurnya sambil menyanyikan lagu playlist Spotify mereka.

"Apa Lo bakal benci sama gue. Lo tuh nggak pernah peka. Selalu salah paham sama gue , maaf udah buat Lo sedih ya ," ucap Putra sambil memandangi wallpaper handphonenya. Seorang gadis berdiri disampingnya. Mereka memakai sepatu yang tidak senada di kedua kakinya. Seperti sepasang kekasih yang bertukar sepatu. Tapi, sebenarnya waktu itu keduanya sedang dihukum karena terlambat di hari pertama MOS.

Wajah Putra terlihat bahagia hanya mengingat kembali awal pertemuan dia dengan Sekar.Sebelum Tata dan Radit datang merusak segalanya.

"Apa gue minta maaf aja ya," Putra bermonolog dengan layar ponselnya.

Tanpa menunggu lama, dia segera menyambar kunci mobil dan Hoodie kemudian berlari menuruni tangga, sang Mama yang melihat Putra berlarian mengomel tapi tidak dihiraukan olehnya.

***

Ting tong

Sekar dengan malas menghentikan gamenya untuk membukakan pintu tamu yang tak diundang.

"Ngapain Lo?" Tanya Sekar sinis saat melihat Putra berdiri di depan rumahnya.

"Mau nyulik Lo," balas Putra sambil menarik Sekar masuk ke dalam mobil nya.

"Putra! Lo apa-apaan sih, buka nggak pintu mobilnya!" Seru Sekar.

Putra tidak menghiraukan umpatan dan teriakan Sekar. Dia justru melajukan mobil secepatnya meninggalkan kediaman Sekar.

"Berengsek. Pintu rumah gue belum dikunci ," Sekar memukul lengan putra sekuat tenaga.

"Nih, telepon nyokap. Bilang ada tugas dadakan sama si ganteng," Ucap Putra saat mereka berhenti menunggu lampu hijau menyala.

Meski kesal Sekar menuruti perintah Putra .

"Gila Lo ya, mau bawa gue kemana sih," Sekar melipat kedua tangannya di dada, matanya yang sipit menatap tajam Putra.

"Pantai, Lo s**a sunset kan,"

"Oh,"

Putra mencubit mesra dagu Sekar sebelum melanjutkan perjalanan.

"Tangan Lo gue potong juga nih, iseng banget sih," umpat Sekar. Putra hanya membalas dengan senyuman.

Setengah jam kemudian keduanya sudah duduk dipinggir pantai. Seperti biasa mereka mendengarkan playlist Spotify dengan berbagi headset.

"Gue minta maaf soal tadi," ucap Putra tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Gue nggak seharusnya minta tolong Tata, sebenarnya gue pengen Lo jadi model gue, tapi gue tahu gimana sifat Lo kalau lagi bete ," jelas Putra.

"Lo kaga salah juga sih, sebenarnya gue udah nggak bete. Tapi, entah kenapa kembali emosi pas lihat Lo pelukan sama Tata," suara Sekar melembut tidak sinis seperti tadi. Dia menulis sesuatu di pasir.

"LOVE"

"Beuh bucin emang, Radit juga kaga respon sama Lo," sindir putra.

"Love, bukannya love memiliki banyak arti. Bukan hanya ke satu orang saja," ucap sekar . Matanya menatap wajah Putra.

"Maksud Lo,"

"Udahlah, lupain. Nggak penting," Sekar segera membuang muka ke lain arah.

Dibenaknya sekarang kacau balau, dia memang mencintai Radit tapi yang membuatnya cemburu tadi bukan karena Tata. Tapi karena Putra, dia merasa satu-satunya orang yang dekat dengannya mengkhianatinya. Sebagai sahabat dekat, Sekar takut kehilangan Putra. Orang yang selalu ada untuknya, orang yang selalu menghabiskan waktu bersama dengannya, orang yang tidak pernah berkata tidak jika Sekar menginginkan sesuatu.

"Kar," panggil Putra , dia menarik tangan kanan sekar dan mengusapnya lembut

"Lo baik-baik aja kan? Gue minta maaf kalau salah ngomong tadi," ujarnya.

Sekar hanya membalas dengan jari tengahnya."Lo lupa kita udah sejauh apa ? Gue benci sama Lo. Jangan hubungi gue lagi, anggap aja kita nggak pernah kenal," seru sekar . Dia melepaskan headsetnya dengan kasar kemudian menghapus playlist di Spotify.

"The sunset is beautiful, isn't it?" Seru Putra sebelum Sekar benar-benar pergi meninggalkan nya.

Besoknya Putra mendengar kabar bahwa Sekar pindah sekolah , dia berusaha untuk menemui sekar di rumahnya tapi tutup seolah tidak ada penghuninya. Putra meninggalkan sebuah lukisan di depan gerbang rumah Sekar. Lukisan sepasang sepatu saat mereka MoS.

***

Sekar keluar dari mobilnya dengan enggan, pikirannya amburadul. Antara rindu dan benci. Antara bahagia dan luka. Dia terkejut saat melihat Putra berdiri tepat di sebelah mobilnya.
Putra bersikap acuh tak acuh. Dia bahkan tidak menyapa Sekar.

"Putra," panggil Sekar saat Putra beranjak pergi..

Putra menghentikan langkahnya kemudian berbalik.

"What!" Sinisnya.

"Lo bawa apa?" tanya sekar basa-basi.

"Lo buta, ini jelas lukisan Tata," seru Putra.

"Calm down Babe, gue nanya baik-baik. Gue iri sama Lo,sebagai seorang pelukis pasti mudah menentukan kado, beda halnya gue, sebagai seorang penulis tidak bisa begitu saja mendapatkan inspirasi secara mendadak," ujar Sekar.

"Lo bisa buat novel tentang Radit dan tata atau membuat puisi untuk mereka," sanggah Putra.

"Tidak semudah itu,"

"Kalau begitu , bayangkan kenangan indah semasa sekolah, tulis sesuatu di lukisan gue. Anggap saja ini last farewell dari dua orang yang pernah mencintai mereka dan ditolak!" tutur Putra.

"Bukan gue tapi lo," cibir Sekar.

"Lo cari kado sendiri aja deh," Putra menyimpan lukisannya dan menjauh dari Sekar.

"Lo ngambekan, kaya anak SMP lagi PMS aja, Hehe," Sekar menarik paksa tangan Putra untuk menghentikan langkahnya.

"Tulis kata-katanya, kita udah telat." Putra mengambil spidol dari dalam mobil.
Tanpa menunggu lama, Sekar mengembalikan lukisan milik Putra. Mereka masuk bersama ke venue, Tata berteriak histeris saat melihat Sekar dan Putra berjalan mendekatinya. Putra segera menyerahkan lukisannya tanpa melihat kalimat yang Sekar tulis tadi. Tata mengatupkan tangannya di bibir saat membaca kalimat yang sekar tulis. Dia hampir saja membaca kalimat itu tapi urung dilakukan karena Sekar memberikan kode untuk diam.

"bantuin gue jalan ke sana ya, ribet banget nih baju, Sekar bantuin juga," rajuk Tata.

Akhirnya, Sekar di sebelah kanan menuntun Tata dan Putra di sebelah kiri memegang gaun Tata bagian belakang supaya dia tidak jatuh.

"OMG! Pelan d**g, kaki kalian sama gue tuh beda," omel Tata.

Putra yang tidak sabar membopong Tata dan menurunkan dia tepat di sebelah Radit.

"Delivery express Kak. udah kan, Cepet kan, ribet amat hidup lo," gerutu Putra.

Sekar berjalan mendekat dengan wajah masam. Tata yang menyadari situasi diantara mereka segera menyenggol Radit. Kode yang Tata berikan terbaca jelas oleh Radit. Dia segera menarik Tata menjauh membiarkan Sekar dan Putra bersama.

"Gue mau ngomong," keduanya mengucapkan kalimat yang sama. Tanpa sadar keduanya tertawa. Namun,setelah itu kembali canggung.

"Lebih baik kita cari tempat lain, di sini terlalu berisik," tawar Putra.

"Ok. Cafe favorit kita dulu," ajak Sekar.

Putra berjalan lebih dulu, dia mengiyakan tanpa banyak protes seperti tadi. Dia merasa hangat kembali menjalar saat melihat Sekar tertawa lepas tadi.

Setengah jam kemudian keduanya sudah duduk di Bar dengan ruangan khusus. VIP room menjadi pilihan mereka karena keduanya butuh privasi. Obrolan mengalir ditemani alkohol. Merayakan patah hati, banyak hal yang mereka obrolkan, mulai dari hal lucu hingga aib di masa lalu. Wajah Sekar terlihat sangat merah saat mabuk.

"Kita pecundang," ucap sekar. Butiran bening berlomba untuk keluar dari matanya.

"Kenapa lo nangis? Lo nggak boleh sedih. Kalau ada yang berani ganggu lo, nih lawan gue dulu," Putra memukuli dadanya sendiri.

"Jangan dipukulin. Pasti sakit , maaf" .

"Maafin gue ya, entah salah gue dimana tapi gue minta maaf. Hidup gue nggak berarti sejak lo menghilang dari pandangan gue," ucap Putra. Suaranya bergetar karena menangis.

"Gue cemburu karena lo pelukan sama Tata saat lomba melukis di sekolah kita waktu itu. Ternyata gue salah paham, kalian just Friends. Gue coba dekati Radit karena gue mau bikin lo patah hati tapi gue justru jatuh cinta sama Radit dan sempat mengutarakan rasa sayang gue tapi ditolak karena dia merasa kalau gue nggak 100% s**a sama dia, dia mengatakan bahwa orang yang gue sayang itu bukan Radit,"

"Sama. Tata juga bilang itu sama gue,"

"Lo mau nyembuhin rasa sakit ini,?" tanya Putra. Manik matanya menatap lekat wajah Sekar.

"Caranya?"

"Jika setelah malam ini kita tidak sembuh dari luka itu, paling tidak kita tak lagi saling membenci," bisik putra kemudian menarik Sekar masuk dalam pelukannya.

"Putra," Sekar berusaha melepaskan pelukan Putra. Tapi, tenaga Putra lebih kuat. Kini, wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Putra tersenyum saat manik matanya menatap Sekar.

"Apapun label kita, gue nyaman kita bersama sejak SMA. The moon is beautiful, isn't?"

Putra mencium kening Sekar. Keduanya berpelukan. Mereka membiarkan takdir Tuhan yang menentukan , bagaimana nantinya akhir cerita cinta mereka.

Selalu ada jalan kembali untuk cinta sejati.

***

*Nb...the sunset is beautiful, isn't it?

Sebuah kiasan yang artinya kita mencintai seseorang tapi kita membiarkan dia pergi dengan orang lain.

The moon is beautiful, isn't?

Sebuah kata kiasan yang artinya I love you.

Want your school to be the top-listed School/college in Hong Kong?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address

Hong Kong