Kaum Sarungan

Kaum Sarungan

Share

Rasulullah SAW bersabda : "Seorang itu kelak dikumpulkan dengan yang dicintainya." Ilmu bukan untuk diperdebatkan, carilah, pahamilah dan amalkanlah.

mengajilah dengan seorang ustad/guru, karena jika tanpa ustad/guru maka syaitanlah gurunya

10/07/2023

Bertarekat Itu Adalah Ciri Orang Mukmin Yang Shaleh

طَرِيقُ الوُصُولِ إِلَى الله
وَإِنَّ السَّيْرَ في طَرِيقِ الوُصُولِ إِلَى اللهِ تَعَالَى صِفَةُ الْمُؤْمِنِينَ الصَّالِحِينَ، وَمِنْ أَجْلِهِ جَاءَ الأَنْبِيَاءُ وَالْمُرْسَلُونَ (عَلَيْهِم السَّلَامُ)، وَإِلَيْهِ يَدْعُو العُلَمَاءُ وَالْمُرْشِدُونَ، كَيْ يَرْتَقِيَ الْمَرْءُ مِنْ حَضِيضِ الْمَادِّيَّةِ وَالحَيَوَانِيَّةِ إِلَى مُسْتَوَى الإِنْسَانِيَّةِ وَالْمَلَكِيَّةِ، وَيَذُوقَ نَعِيمَ القُرْبِ وَلَذَّةَ الأُنْسِ بِاللهِ تَعَالَى.

Sesungguhnya aktivitas bertarekat demi menggapai wushul kepada Allah itu merupakan sifat orang² mukmin yg shaleh². Alasan tarekat itulah yg menjadi dasar diturunkan para Nabi dan Rasul. Dan dengan tarekat itulah para ulama’ dan para mursyid berdakwah, dengan maksud agar seseorang naik dari dominasi rendahnya sifat nafsu hayawan hingga menjadi manusia sempurna dan taat seperti malaikat kemudian dapat menikmati nikmatnya kedekatan dan intimnya berhubungan dengan Allah.

وَإِنَّ الطَّرِيقَ وَاحِدَةٌ في حَقِيقَتِهَا، وَإِنْ تَعَدَّدَتِ الْمَنَاهِجُ العَمَلِيَّةُ، وَتَنَوَّعَتْ أَسَالِيبُ السَّيْرِ وَالسُّلُوكِ تَبَعاً للاجْتِهَادِ وَتَبَدُّلِ الْمَكَانِ وَالزَّمَانِ، وَلِهَذَا تَعَدَّدَتِ الطُّرُقُ الصُّوفِيَّةُ، وَهِيَ في ذَاتِهَا وَحَقِيقَتِهَا وَجَوْهَرِهَا طَرِيقٌ وَاحِدَةٌ.

Tarekat itu jika ditinjau dari perspektif hakikat hanya ada 1 tarekat, tetapi jika ditinjau dari bentuk prosedur dan aktivitasnya jumlahnya menjadi tak terbilang. Selanjutnya dari jumlah yg tak terbilang tersebut berkembang lagi menjadi banyak teknik tarekat dan suluk berdasarkan ijtihad dan tuntutan keadaan dan zaman. Oleh karena inilah maka nama² tarekat jumlahnya sangat banyak. Inilah (sangat banyak) wujud lembaganya (dzatnya), namun jika dikembalikan dalam perspektif hakikat dan bibit/inti tarekatnya maka hanya ada satu.

وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِالوُصُولِ الْمَعْنَى الْمَفْهُومُ بَيْنَ ذَوَاتِ الأَشْيَاءِ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى جَلَّ أَنْ يَحُدَّهُ مَكَانٌ أَو زَمَانٌ. وَلِذَا قَالَ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ السَّكَنْدَرِيُّ: (وُصُولُكَ إِلَى اللهِ وُصُولُكَ إِلَى العِلْمِ بِهِ، وَإِلَّا فَجَلَّ رَبُّنَا أَنْ يَتَّصِلَ بِهِ شَيْءٌ، أَو يَتَّصِلَ هُوَ بِشَيْءٍ).

Pengertian wushul dalam tarekat itu bukanlah bertemunya 2 benda (dzat) seperti yg disalah artikan oleh orang banyak karena Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Maka Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari berkata:
Engkau wushul/sampai kepada Allah itu maksunya adalah engkau wushul/sampai kepada “ilmu dengan-Nya”, jika tidak didefinisikan demikian maka Maha Agung Allah dari anggapan rendah dalam pengertian kebendaan sesuatu telah sampai pada Allah (yg dibayangkan sebagai benda) atau Allah sampai pada benda tersebut.

وَقَالَ الإِمَامُ الغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: (مَعْنَى الوُصُولِ هُوَ الرُّؤْيَةُ وَالْمُشَاهَدَةُ بِسِرِّ القَلْبِ في الدُّنْيَا وَبِعَيْنِ الرَّأْسِ في الآخِرَةِ، فَلَيْسَ مَعْنَى الوُصُولِ اتِّصَالَ الذَّاتِ بِالذَّاتِ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّاً كَبِيراً).

Imam Ghazali berkata:
“Makna wushul itu adalah melihat di dunia dengan penyaksian mata hati dan menyaksikan Allah di akhirat dengan penyaksian mata lahir. Makna wushul itu bukanlah dzat bertemu dengan dzat (sesuatu bertemu sesuatu), Maha Luhur Allah dengan Kedahsyatan Keluhuran-Nya dari perspektif yg demikian.

وَفِي هَذَا الْمَعْنَى قَالَ ابْنُ القَيِّمِ: (النَّاسُ قِسْمَانِ: عِلْيَةٌ وَسِفْلَةٌ، فَالعِلْيَةُ: مَنْ عَرَفَ الطَّرِيقَ إِلَى رَبِّهِ وَسَلَكَهَا قَاصِداً للوُصُولِ إِلَيْهِ، وَهَذَا هُوَ الكَرِيمُ عَلَى رَبِّهِ، وَالسِّفْلَةُ: مَنْ لَمْ يَعْرِفِ الطَّرِيقَ إِلَى رَبِّهِ وَلَمْ يَتَعَرَّفْهَا، فَهَذَا هُوَ اللَّئِيمُ الذي قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ: {وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ}. وَالطَّرِيقُ إِلَى اللهِ في الحَقِيقَةِ وَاحِدَةٌ لَا تَعَدُّدَ فِيهَا… وَأَمَّا مَا يَقَعُ في كَلَامِ بَعْضِ العُلَمَاءِ أَنَّ الطَّرِيقَ إِلَى اللهِ مُتَعَدِّدَةٌ مُتَنَوِّعَةٌ، جَعَلَهَا اللهُ كَذَلِكَ لِتَنَوُّعِ الاسْتِعْدَادَاتِ وَاخْتِلَافِهَا، رَحْمَةً مِنْهُ وَفَضْلاً، فَهُوَ صَحِيحٌ لَا يُنَافِي مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ وَحْدَةِ الطَّرِيقِ…

Pandangan² inilah yg menjadi dasar statemen Syaikh Ibnu Qayyim:
“Manusia itu ada dua jenis:
Pertama adalah ‘Ilyah yaitu orang yg mengerti tentang tatacara wushul kepada Tuhannya, lantas mengamalkan tatacara tersebut dengan harapan bisa sampai kepada-Nya. Inilah type orang mulia yg memuliakan Tuhannya.
Kedua adalah siflah yaitu orang yg tidak mengerti tatacara wushul kepada Allah dan bersikap masa bodoh. Inilah orang yg dilaknat oleh Allah sebagaimana di dokumentasikan dalam firmanNya:

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

Orang² yg dihinakan oleh Allah itu tidak memperoleh kemuliaan dari-Nya.

Tarekat wushul kepada Allah itu hakikatnya satu bukan bermacam-macam. Adapun pendapat ulama’ yg menyatakan bahwa tarekat itu bermacam-macam dan bercabang-cabang itu merupakan bentuk lembaganya saja yg oleh Allah dijadikan seperti itu di sesuaikan dengan persiapan potensi murid yg bemacam-macam sebagai rahmat dan bonus dari-Nya. Statemen ini valid dan tidak membantah perspektif hakikat yg menyatakan hanya ada satu tarekat. Wallaahu a’lam

19/06/2023
19/06/2023

DZURRIYAH BELUM TENTU AHLU BAIT NABI
================================

أهل النبي ليسوا كأهل عموم الناس، ولكن أهل النبي هم الذين يأخذون القيم عنه. فآل النبي هم أتباع ملته. فالأتباع يوجب الاتصال، والمخالفة توجب الانفصال
Ahlu (keluarga) Nabi tidak seperti Ahlu kebanyakan manusia pada umumnya. Ahlu Nabi adalah mereka yang mengikuti sikap dan ciri khas Nabi.

Ada juga istilah "Alu Nabi", adalah mereka para pengikut agama (ajaran dan kecendrungan) Nabi. Pengikut itu bisa tersambung dengan yang diikutinya. Sementara pembelot, dia akan terpisah.

Adapun dzurriyah (keturunan) Nabi, mereka adalah orang-orang yang secara nasab memiliki hubungan darah dengan Nabi. Namun Dzurriyah Nabi belum tentu sebagai Ahlu Nabi. Meski tercatat sebagai dzurriyah, namun jika berprilaku tidak sholeh, dia bukan termasuk ahlu Nabi.

Dalam hal ini, Allah telah mengigatkan nabi Nuh as, tentang anaknya yang bukan termasuk bagian dari ahlu nabi.

Sebagaiman firman-Nya:

{إنه ليس من أهلك، إنه عمل غير صالح}

"Dia bukan termasuk ahlimu. Dia bukan orang yang saleh" (QS. Hud: 46)
------------------

(Dinukil dari kitab Qunuz Al-Qur'an karya Imam sholahuddin At-Tijani Al-Hasani ra.)

-ZUS-

*-Zawiyah Nuruz Zholam-

19/06/2023

BELAJAR MENYIKAPI NASAB
DARI SEJARAH BANI ISRAIL

Allah SWT berfirman:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ.

“Wahai Bani Israil, ingatlah pada nikmat-Ku yang telah Kukaruniakan kepada kalian dan sesungguhnya Aku telah mengutamakan kalian diatas sekalian alam.” (Al-Baqarah : 47)

Perintah untuk mengingat nikmat Allah sejatinya adalah perintah untuk mensyukuri nikmat itu. Allah menyinggung nikmat yang Ia berikan kepada Bani Israil, yaitu diutamakannya Bani Israil diatas semua bangsa manusia, khususnya dari segi NASAB, karena kakek mereka adalah seorang rasul putra seorang rasul dan cucu seorang rasul, yaitu Israil atau Ishaq bin Ya’qub bin Ibrahim, dalam nasab mereka ada dua Rasul sebelum Nabi Ibrahim.

Namun pengaruh kemuliaan nasab darah tidak akan mengalahkan nasab ruhani. Justru diceritakannya riwayat Bani Israil ini untuk memberikan contoh bahwa nasab darah tidak akan berguna tanpa nasab ruhani. Walaupun Allah SWT mengutamakan Bani Israil dari bangsa lain dari segi nasab darah, Allah tetap tidak akan memberi peluang bagi mereka untuk menjadi bangsa terhormat tanpa nasab ruhani, maka Allah SWT mengingatkan bahwa kemuliaan nasab mereka adalah sebuah karunia yang mesti disyukuri, dengan memotifasi diri untuk bernasab juga secara ruhani.

Al-Imam Ar-Razi menukil penafsiran ulama sebelumnya, seperti Ar-Rabi’ bin Anas dan Abil 'Aliyah, bahwa keutamaan Bani Israni yang dimaksud adalah keutamaan mereka pada zaman leluhur mereka, karena ketika itu ada para nabi dan raja-raja, keutamaan itu sudah tidak berlaku pada masa Nabi Muhammad karena ummat Muhammad adalah ummat yang paling utama. Imam Ibnu Katsir menguatkan pendapat itu dengan dalil firman Allah:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ...

“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia...” (QS. Ali Imran : 110).

Namun menurut saya, keutamaan yang dimaksud dalam ayat itu berlaku sampai sekarang, karena yang dimaksud adalah kenikmatan lahiriyah berupa kemuliaan sebagai sebuah keluarga, bukan kemuliaan sebagai sebuah ummat. Ayat ini berbicara tentang sebuah keluarga yang memiliki nikmat besar berupa nasab mulia sebagai keturunan tiga Nabi besar (Israil atau Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim), dari keluarga ini juga lahir banyak nabi dan raja besar. Memang, tanpa iman, kenikmatan besar ini hanya menjadi nikmat lahiriyah sama seperti jabatan dan harta, namun tetap saja itu adalah nikmat, belum pernah ada keluarga lain yang mendapat nikmat lahiriyah sebesar yang didapat Bani Israil ini. Oleh karena itu, Allah menyuruh Bani Israil di zaman Nabi Muhammad sampai sekarang supaya mengingat nikmat itu agar mereka mensyukurinya. Seandainya nikmat itu berlaku hanya di zaman Nabi Musa dan nabi-nabi Bani Israil yang lain, tentu tidaklah relefan perintah syukur atas semua itu diberikan kepada Bani Israil pada zaman Nabi Muhammad hingga sekarang.

Kemudian, ayat ini memang ditujukan kepada bani israil yang selama ini merasa sebagai keluarga terhormat, bukan sebagai ummat Nabi tertentu, sehingga kita bisa memahami bahwa kenikmatan yang mereka banggakan adalah kenikmatan bernasab kepada keluarga terhormat, bukan kenikmatan ruhani dengan mengikuti ajaran leluhur. Nah, ketika Bani Israil membanggakan kenikmatan lahiriyah sebagai keluarga terhormat, Allah tidak menyangkal kenikmatan itu, bahkan Allah membenarkan dengan berfirman “Aku utamakan kalian atas keluarga lain di alam semesta”. Namun Allah juga menegaskan bahwa kenikmatan lahiriyah yang amat besar itu tidak akan berguna sedikit pun tanpa iman, Allah berfirman:

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

“Dan takutlah kalian pada suatu hari dimana seseorang tidak dapat berguna sedikit pun pada orang yang lain dan tidaklah diterima pertolongan darinya dan tidaklah diambil tebusan darinya dan mereka tidak dapat ditolong.” (QS. Al-Baqarah : 48)

Artinya, tanpa iman, kenikmatan lahiriyah yang kalian miliki di dunia ini tidak akan berguna sama sekali di hari kiamat. Leluhur kalian memang para nabi, namun para nabi itu tidak bisa menolong kalian, keluarga kalian memang raja-raja besar dan kaya, namun kekayaan itu tidak berguna di akhirat kelak.

Sebagaimana nikmat lahiriyah yang lain, apabila nikmat itu disyukuri dan dibarengi dengan iman maka akan menjadi nikmat diatas nikmat. Dari itu, Rasulullah mengatakan bahwa Ahlu kitab, termasuk Bani Israil, akan mendapat dua pahala apabila beriman kepada Nabi Muhammad SAW. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

NASAB TERHORMAT
ADALAH TANGGUNG JAWAB

Allah SWT. berfirman:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ. وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ.

“Wahai Bani Israil, ingatlah terhadap nikmat-Ku yang telah Kukaruniakan kepada kalian dan penuhi janji (kalian) pada-Ku, niscaya Aku penuhi janji(Ku) pada kalian. Dan kepada-Ku maka takutlah kalian. Dan berimanlah kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) sebagai pembenaran bagi apa yang ada pada kalian (Taurat), dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama mengingkarinya (Al-Qur’an), dan janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah dan hanya kepadaku maka takutlah kalian.” (QS. Al-Baqarah : 40-41).

Di ayat 40 surah Al-Baqarah ini, Allah SWT memanggil orang Yahudi dengan “Bani Israil”, sedangkan ketika ayat ini turun, di Madinah dan sekitarnya, mereka lebih dikenal dengan sebutan “Yahudi”. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT tidak pernah memanggil mereka dengan kalimat “wahai orang-orang Yahudi”. Sebab, Allah SWT ingin menyentuh hati mereka dengan mengingatkan mereka pada leluhur mereka, yaitu Nabi Israil atau Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Siapapun akan gembira bila disebut nama leluhurnya yang hebat, walaupun ia sendiri tidak tahu sebagai cucu yang keberapa dari leluhur yang disebut itu, bahkan sangat wajar bila ia merasa bangga ketika ingat bahwa dirinya adalah keturunan orang besar.

Allah SWT memanggil orang Yahudi dengan “Bani Israil” adalah untuk mengingatkan mereka bahwa mereka punya tanggung jawab untuk menjaga nama baik keluarga, seolah-olah Allah SWT berkata, “wahai keturunan nabi-nabi yang hebat, wahai keluarga terhormat”. Ditambah lagi Allah SWT menyebut nikmat lain, diantaranya adalah diantara keluarga mereka ini pernah lahir orang-orang hebat sebagai nabi-nabi dan raja-raja besar.

Tabiat manusia adalah mencintai asal usulnya, baik asal usul keturunan atau bangsa. Berdasarkan itulah Al-Qur’an memilih kalimat “wahai Bani Israil” dalam berkomunikasi dengan orang Yahudi. Dengan demikian, Al-Qur’an telah mengajarkan kita sebuah teori, yaitu memotifasi keturunan terhormat dengan memanfaatkan asal usul keturunan atau bangsanya.

BANGGA BERARTI HARUS MENIRU

Bangga dengan leluhur atau asal usul adalah hal yang wajar, tapi bagi orang berpendidikan, bangga dengan leluhur bermakna merasa harus meniru keluhuran mereka. Bahkan tanda-tanda bahwa nasab itu membekas adalah kemauan untuk berprestasi seperti leluhur. Anak orang hebat yang tidak berprestasi ibaratnya seperti telur ayam yang tidak bisa menetas, sampai kapanpun harga telur ayam jauh dibawah harga ayam! Tapi telur juga masih berharga asalkan tidak busuk. Dari itu, target minimal motifasi dengan kebesaran leluhur adalah agar tidak seperti telur busuk. Itulah isyarat dari lanjutan ayat 41 Al-Baqarah, yaitu ayat ke 42 yang berbunyi:

وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ

“.. dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama mengingkarinya (Al-Qur’an)”.

Artinya, kalau kalian tidak bisa sehebat leluhur kalian dengan menjadi pejuang kebenaran, setidaknya kalian jangan menjadi pecundang dengan mengingkari kebenaran itu. Kalau kau hanya telur yang tidak bisa menetas menjadi ayam, setidaknya janganlah kau jadi telur busuk!

ORANG HEBAT MEMBANGUN NASAB

Orang yang ikhlas dan gigih berjuang, anak siapapun dia, kemudian menjadi orang sukses yang dibanggakan oleh leluhur dan keturunannya, maka dia adalah pendiri nasab mulia. Hendaknya kita menjadi orang seperti itu, kita bangun nasab kita dengan berjuang hingga kita menjadi nasab itu sendiri, dimana leluhur dan anak-anak kita akan membanggakan kita. Dengan begitu berarti kita MEMBERI kemuliaan bagi nasab anak-anak kita, bukan MENERIMA kemuliaan nasab dari leluhur kita, sehingga dengan ini berarti kita mengamalkan Hadits..

اليد العليا خير من اليد السفلى

“Tangan diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.”

Lebih baik anak-anak kita yang bangga bernasab pada kita, daripada kita yang bangga bernasab pada leluhur.

Tanpa perjuangan dan ketawadhu’an, nasab justru akan menjadi bumerang, seperti orang-orang sombong dari Bani Israil yang justru menjadi orang paling hina karena tertipu dengan nasab.

13/08/2022

*Para Awliyaullah mewarisi asrar dari Nabi Muhammad SAW dan mereka selalu bersama para pengikutnya terlepas dari apa pun yang mereka lakukan.*

*Bahkan jika seorang murid berada di tempat diskotik, mereka tetap dapat menjangkaunya dan memberi ilham ke dalam hatinya walaupun mereka tidak berhenti melakukannya, karena para Awliyaullah tahu bahwa pada suatu saat mereka akan kembali pada kesadarannya, kemudian bertobat dan datang untuk mendapati ilmu-ilmu yang telah menunggunya.*

*Karena apa? Karena ia telah mengulurkan tangannya untuk berbay'at/Talqin kepada Syekh.*

*Bay'at itu menghubungkannya, sehingga ia terikat kepadanya!*

*Mereka membiarkan kalian untuk pergi ke manapun yang kalian inginkan--bahkan jika kalian tidak kembali; karena pada akhirnya ketika tujuh napas terakhir kalian akan kembali, dan mereka hadir bersama kalian.*

*Banyak murid yang meninggalkan `ahd (عهد), janji atau ikrar mereka kepada Syekhnya, tetapi mereka tidak bisa mengubah apa yang telah tertulis, yakni bahwa mereka kelak akan bersama Wali tersebut.*

*Bahkan jika mereka meninggalkan Wali tersebut dan kembali pada kehidupan duniawi, mereka akan tetap berada di bawah namanya.*

*(Shaykh Hisham Kabbani)*

07/04/2022

*OJO NGERASANI GURUMU DAN PAKSALAH DIRIMU BERSIKAP DAN BERAKHLAK SEBAIK MUNGKIN PADA GURUMU, MESKIPUN ITU BERAT*

Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan seorang murid yang tak menjaga akhlak pada gurunya, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali

A. KH. ABDUL KARIM MENERIMA GURUNYA; MBAH KHOLIL APA ADANYA SERTA TUNDUK PATUH TAK BERANI SUUDZON

Syaikhina KH. Abdul Karim, Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, semasa beliau mengaji kepada Syaikhina Kholil Bangkalan, beliau adalah murid yang sangat ta’dhim dan khidmah kepada gurunya.

Alkisah, suatu hari Mbah Abdul Karim muda bekerja memanen padi di sawah milik warga kampung sekitar Pesantren. Dari sana beliau mendapatkan upah berupa beberapa ikat padi yang bakal digunakannya untuk biaya hidup di Pesantren. Namun, sesampai di kediaman sang guru (Mbah Kholil), justru Mbah Kholil meminta padi muridnya itu untuk diberikan kepada ayam-ayam Mbah Kholil. Karena ini dawuh sang guru, KH. Abdul Karim langsung menyerahkan padinya. Ia didawuhi Mbah Kholil untuk selama mondok cukup memakan daun pace (mengkudu).

Demikianlah kisah mondoknya Mbah Abdul Karim, sehingga akhirnya beliau diijinkan sang guru untuk boyong, karena semua ilmu Mbah Kholil telah diwariskan kepadanya. Sesampai di kampung halaman, Mbah Abdul Karim mulai merintis Majlis Ta’lim, hingga akhirnya berdirilah Pondok Pesantren Lirboyo. Mbah Abdul Karim mengajarkan ilmu yang ia timba dari kedalaman samudera ilmu Mbah Kholil.

B. *PASRAH BONGKOKAN PADA AJARANYA GURU*

Satu hal yang unik, setiap membacakan (mengajar) kitab di depan para santri, ketika beliau bertemu dengan ruju’ (tempat kembalinya maksud dari sebuah kata), beliau tidak pernah menyebutkan ruju’nya secara gamblang. Beliau menyebutkan dengan "iku mau" atau "mengkono mau" (yang tadi atau “sebagaimana tadi”). Tentu ini membingungkan bagi para santri baru. Hingga pernah suatu ketika pada saat pengajian bulan Ramadhan, atau dikenal dengan istilah "posonan", seorang santri dari luar daerah mengikuti pengajian Mbah Abdul Karim. Karena setiap mengajar kitab, Mbah Abdul Karim jarang menjelaskan ruju’annya. Santri baru ini ‘nggerundel’; “Ini bagaimana, katanya seorang kyai ‘alim, kok setiap ada ruju’an tidak pernah dijelaskan?”, gumamnya dalam hati.

Dengan izin Allah, Mbah Abdul Karim ‘perso’ (mengetahui) perihal keluhan sang santri ini. Di tengah suasana mengaji, Mbah Abdul Karim dhawuh; *“Laa ya’rifu al dhomir illa al dhomir, fa man lam ya’rif al dhomir fa laisa lahu al dhomir”* (tidak akan pernah mengetahui makna dhomir kecuali hati (dhomir), maka apabila seseorang tidak mengetahui dhomir, itu artinya dia tidak punya hati). Lalu beliau menjelaskan kepada para santri, bahwa demikianlah (dengan tidak menjelaskan ruju’nya dhomir) pengajian yang diajarkan oleh gurunya, Mbah Kholil. Sehingga ketika mengajar kepada santrinya, Mbah Abdul Karim tidak berani mengubah apa yang diajarkan sang guru kepadanya.

C. *OPENONO AKHLAKMU MARANG GURUMU*

Kesuksesan murid (peserta didik) dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat, tidak hanya ditentukan oleh lembaga pendidikan, metode mengajar guru, atau sarana prasarana fisik dalam belajar, tapi yang paling dominan justru ditentukan oleh akhlak murid (peserta didik) kepada guru (pendidik).

Al Imam an Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, " *Ya Allah, tutuplah dariku dari kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku* ". (Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah : 155)

Al Imam an Nawawi juga pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :

*عقوق الوالدين تمحوه التوبة وعقوق الاستاذين لا يمحوه شيء البتة*

*"Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya".*

Al Habib Abdullah al Haddad mengatakan " *"Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali* ". (Adaab Suluk al Murid : 54)

D. *OJO KAKEHAN TAKON, LAN OJO GAMPANG NJALUK IJAZAHAN ATAUPUN AMALAN*

Al Habib Abdullah al Haddad juga berkata: *"Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, " perintahkan aku ini, berikan aku ini !", karena itu sama saja menuntut untuk dirinya.* Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya ". (Ghoyah al Qashd wa al Murad : 2/177)

Dikisahkan, bahwa seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba-tiba Nabi Khidlir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara Nabi Khidlir. Maka Nabi Khidhir berkata, " Tidakkah kau mengenalku ?. Murid itu menjawab, " ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir ".
Nabi Khidhir, " kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?".
Murid itu menjawab, " Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu ". (Kalam al Habib Idrus al Habsyi : 78)

Para ulama ahli hikmah mengatakan, " *Barangsiapa yang mengatakan " kenapa ?" Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya* ". (Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56)

Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mengatakan :

*ان المحصول من العلم والفتح والنور اعني الكشف للحجب، على قدر الادب مع الشيخ وعلى قدر ما يكون كبر مقداره عندك يكون لك ذلك المقدار عند الله من غير شك*

" Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab-hijab batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian p**a kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu ".
(al Manhaj as Sawiy : 217)

Para ulama ahli haqiqat mengatakan, *"mayoritas ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan baik antara murid dengan gurunya"*.

E. *GURU IKU TERMASUK WONG TUWO ING DUNYO LAN AKHIROT,*
*MERGO GURUMU NAFAQOHI RUH-MU DENGAN ILMU AGAMA.*

Di dunia kita harus tunduk dan patuh, dan di akhiratpun status mereka tetap sebagai guru kita yang akan menuntun kita pada guru-guru se atasnya hingga Nabiyyullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk mendapati pengakuan sebagai ummatnya hingga bisa memperoleh syafa'atnya.

F. *DI ALAM KUBURPUN KITA BISA REUNI BERTEMU GURU KITA*

Hal ini sangat jelas di terangkan dalam beberapa kitab ulama' bahwa :
Dalam kitab Musnad Imam Ahmad ada hadits shohih yang bersumber dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu:

*إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات، فإن كان خيراً استبشروا به، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا*

“Sesungguhnya amal perbuatan kalian (yang masih hidup didunia ini) di tampilkan kepada kerabat kerabat dan keluarga kalian yang telah mati. Jika amal perbuatan kalian itu BAGUS, maka mereka turut senang dan bahagia, dan jika BURUK, mereka berkata/berdoa:”Ya Allah ya Tuhanku, jangan Engkau cabut nyawa mereka sehingga Engkau memberikan Hidayah kepada mereka seperti halnya kepada kami”.
-
Bebrapa kalangan ulama' yang di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah pernah di tanya tentang yang hidup menziarahi yang mati (ziarah kubur) itu apakah yang mati (di dalam kubur) mengetahuinya? Dan apakah yang mati mengetahui jika ada kerabatnya atau yang lain ada yang mati?

Beliau menjawab:

*الحمد لله، نعم قد جاءت الآثار بتلاقيهم وتساؤلهم وعرض أعمال الأحياء على الأموات، كما روى ابن المبارك عن أبي أيوب الأنصاري قال: إذا قبضت نفس المؤمن تلقاها الرحمة من عباد الله، كما يتلقون البشير في الدنيا، فيقبلون عليه ويسألونه فيقول بعضهم لبعض: أنظروا أخاكم يستريح، فإنه كان في كرب شديد، قال: فيقبلون عليه ويسألونه: ما فعل فلان وما فعلت فلانة، هل تزوجت*

Segala Puji bagi Allah, ya benar.
Telah ada sebuah Atsar yang menjelaskan tentang perjumpaan mereka dan percakapan mereka (yang baru mati dgn kerabatnya yang sudah lama mati) dan juga ditampilkan amal perbuatan yang hidup kepada yang telah mati seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Mubarok dari Abu Ayub Al Al Anshori. Beliau menuturkan:

*Jika seorang mukmin meninggal dunia, maka mereka hamba hamba Allah yang beriman mendapati rahmat Allah, yaitu mereka saling bertemu satu sama lain (di alam ruh).* seperti halnya manusia di dunia.
Mereka saling menyambut dan bertanya satu sama lain.

Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain:”Lihatlah saudara kalian itu… dia sekarang bisa beristirahat dari kesedihan yang sangat dari kebisingan dunia.
Mereka (yang lama mati) menyambutnya (yang baru mati) dan mereka bertanya (kepada yang baru mati): mereka bercakap-cakap dengan obrolan “apa yang dikerjakan si A sekarang didunia?
mereka babercakap-cakap dengan kalimat “bagaimana kabar si wanita itu? apakah dia sudah menikah? Wa ghoiru dzalik...

Maka, jagalah akhlaqmu pada guru, sebab kau akan tetap bertemu gurumu baik di Dunia, di alam kubur, dan juga di akhirat hingga bisa berkumpul bersama-sama di surga.

والله اعلم بالصواب...

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address


Jakarta